JAKARTA — Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, Pertalite dan Solar subsidi, mengalami peningkatan setelah terjadi penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada Juni 2026. Membengkaknya konsumsi makin tidak terhindarkan meningkatnya aktivitas logistik dan sektor produktif.
Wahyudi Anas, Kepala Badan Pengatur Hilir Migas (BPH Migas) mengatakan peningkatan konsumsi BBM terjadi seiring meningkatnya aktivitas logistik di sejumlah wilayah. Indikasinya terlihat dari meningkatnya kebutuhan minyak solar di Jawa Timur, khususnya Surabaya dan sekitarnya, serta Medan, Palembang, Riau, Kalimantan, dan Makassar.
“Ini penting untuk dicermati karena di Triwulan 2 ini kegiatan logistik terus terjadi peningkatan, baik itu untuk ekspor maupun impor untuk didistribusikan kepada masyarakat di sekitar wilayah tersebut,” ujar Wahyudi dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8).
Menurut dia, peningkatan kebutuhan BBM juga didorong pertumbuhan sektor-sektor produktif. Berdasarkan data yang dipaparkannya, sektor perdagangan tumbuh 6,39% secara year to date (YTD), akomodasi dan makan-minum tumbuh 10,60% YTD, sedangkan sektor pertanian tumbuh 3,8% YTD.
Wahyudi menambahkan, peningkatan distribusi BBM juga berkaitan dengan implementasi sejumlah program strategis pemerintah pada 2026. Program tersebut antara lain Koperasi Nelayan Merah Putih, Brigadir Pangan, UTSD, serta berbagai program pemerintah lainnya.
Di sisi Pertalite, BPH Migas mencatat adanya peningkatan konsumsi setelah pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax, pada 10 Juni 2026.
Sebelum penyesuaian harga tersebut, rata-rata penyaluran harian Pertalite tercatat sebesar 75.795 kiloliter (KL) per hari. Setelah penyesuaian harga, konsumsi Pertalite meningkat 9,19% atau bertambah sekitar 6.965 KL per hari.
Kenaikan berlanjut pada periode 1-31 Juli 2026. Rata-rata kenaikan konsumsi mencapai 12,92%, dengan tambahan penyaluran sekitar 9.794 KL per hari. Dengan perkembangan tersebut, rata-rata penyaluran Pertalite mencapai sekitar 84.368 KL per hari.
Menurut Wahyudi, peningkatan tersebut salah satunya menunjukkan adanya pergeseran atau shifting konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi.
“Jadi artinya kenaikan konsumsi Pertalite yang rerata saat ini menjadi 84.368 KL ini memang shifting dari sisi pemindahan semula konsumsi Pertamax menjadi Pertalite,” ujarnya.
Namun, memasuki Agustus 2026, laju kenaikan konsumsi Pertalite mulai sedikit menurun. Kondisi tersebut sejalan dengan adanya koreksi harga Pertamax dari Rp16.250 per liter menjadi Rp15.950 per liter.
“Karena harga Pertamax juga ada terkoreksi semula 16.250 menjadi 15.950 mengalami penurunan sehingga konsumsinya untuk Pertamax juga turun,” jelas Wahyudi.
Sementara itu, konsumsi solar subsidi juga menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Sebelum terjadi penyesuaian harga solar nonsubsidi, rata-rata penyaluran solar subsidi berada di level 50.624 KL per hari. Dalam perkembangannya, penyaluran meningkat secara bertahap hingga mencapai rata-rata 58.271 KL per hari. Dengan demikian, terdapat tambahan penyaluran sekitar 7.647 KL per hari kepada masyarakat.
“Kenaikan menunjukkan kenaikan yang paling tinggi di bulan Agustus sebesar 15,10%. Ini khusus solar subsidi dan kami terus melakukan proses dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat secara baik karena faktor ekonomi juga terjadi indikasi peningkatan,” kata Wahyudi. (RI)





Komentar Terbaru