JAKARTA – Pemerintah memproyeksikan kebutuhan LPG tabung 3 kilogram (kg) pada 2026 mencapai sekitar 8,6 juta Metrik Ton (MT). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kuota LPG 3 kg yang ditetapkan dalam APBN 2026 sebesar 8 juta MT.
Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan, penyesuaian prognosa kebutuhan LPG 3 kg bukan hal baru. Pemerintah juga telah melakukan penyesuaian prognosa pada 2025.
“Memang kalau kita perhatikan bahwa di tahun 2025 kemarin juga sudah ada penyesuaian untuk prognosa. Dan untuk tahun 2026 ini memang prognosanya itu sebesar 8,6 juta ton LPG,” ujar Laode dalam rapat dengan Komisi XII, Rabu (27/8).
Berdasarkan data Ditjen Migas Kementerian ESDM, realisasi penyaluran LPG 3 kg hingga Juli 2026 tercatat sebesar 5,045 juta metrik ton (MT) atau sekitar 63,06% dari kuota APBN 2026 sebesar 8 juta MT.
Dengan menggunakan rata-rata penyaluran harian pada periode Januari-Juli 2026, pemerintah memproyeksikan realisasi penyaluran LPG 3 kg sepanjang tahun ini mencapai 8,677 juta MT atau sekitar 108,46% dari kuota APBN. Artinya, terdapat potensi kebutuhan tambahan sekitar 677 ribu MT dibandingkan kuota yang ditetapkan dalam APBN 2026.
Menurut Laode, kebutuhan LPG 3 kg pada 2027 juga berpotensi mengalami peningkatan. Proyeksi kebutuhan tersebut bahkan dapat berada di atas prognosa 2026. “Dan untuk tahun 2027 tadi juga sudah disampaikan bahwa proyeksi bisa mencapai lebih dari tahun 2026,” kata Laode.
Sementara itu, berdasarkan kesepakatan dalam Pembicaraan Pendahuluan RAPBN 2026 dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027 pada 25 Juni 2026, kuota LPG 3 kg yang menjadi asumsi awal untuk 2027 tercatat sebesar 8 juta MT.





Komentar Terbaru