JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi produksi minyak dan gas bumi nasional hingga 31 Juli 2026 sebesar 578.156 barel per hari (BOPD). Realisasi tersebut diperoleh masih dibayangi kondisi dua blok minyak dengan kontribusi terbesar di Indonesia yakni Rokan dan Cepu yang realisasinya juga belum optimal.

Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM mengatakan ada beberapa tantangan sejak awal tahun yang membuat tantangan untuk mencapai target produksi minyak terutama cukup besar.

“Sampai dengan 31 Juli, rata-rata produksi minyak itu ada di angka 578.156 barrel per day. Demikian juga dengan realisasi produksi gas bumi, keduanya memang sampai hari ini masih kita upayakan untuk bisa mencapai target produksi di tahun 2026 ini,” ujar Laode dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI pada Rabu (27/8).

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, produksi minyak bumi secara bulanan menunjukkan tren relatif stabil setelah mengalami kenaikan signifikan pada Februari.

Produksi minyak pada Januari tercatat 528.045 BOPD, kemudian meningkat menjadi 590.329 BOPD pada Februari dan 599.467 BOPD pada Maret. Selanjutnya produksi tercatat 578.482 BOPD pada April, 579.532 BOPD pada Mei, 583.842 BOPD pada Juni, dan 580.061 BOPD pada Juli 2026.

Sementara itu, realisasi produksi gas bumi rata-rata Januari-Juli 2026 mencapai 6.544 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).

Produksi gas tercatat 6.459 MMSCFD pada Januari, 6.667 MMSCFD pada Februari, 6.659 MMSCFD pada Maret, dan mencapai level tertinggi sementara pada April sebesar 6.810 MMSCFD. Produksi kemudian turun menjadi 6.166 MMSCFD pada Mei, sebelum kembali naik menjadi 6.252 MMSCFD pada Juni dan 6.804 MMSCFD pada Juli.

Menurut Laode, pencapaian target produksi migas nasional pada 2026 masih menghadapi sejumlah tantangan utama. Salah satunya terjadi pada awal tahun di wilayah kerja Rokan akibat kebocoran pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI).

“Beberapa tantangan yang kita hadapi antara lain, bisa kami sampaikan di sini, yang besar-besar saja yang kami sampaikan dari sekian tantangan yang ada,” kata Laode.

“Pertama adalah pada awal tahun 2026 ini adanya kebocoran pipa TGI yang menyebabkan terganggunya produksi Rokan karena pasokan gas yang menuju kepada Rokan terhambat,” ujarnya.

Selain gangguan pasokan gas, produksi di Blok Rokan juga masih menghadapi persoalan sistem kelistrikan. “Yang kedua, juga masih di Rokan, ini terkait dengan kendala sistem kelistrikan yang hingga saat ini masih kami upayakan agar pembangkit ini nanti bisa segera kita perbaiki dan dioperasikan kembali sehingga bisa optimal kembali produksi di Blok Rokan,” ujar Laode.

Tantangan lainnya berasal dari Blok Cepu, yang pada 2026 menghadapi kondisi natural decline atau penurunan produksi secara alamiah yang cukup ekstrem.

“Dan yang ketiga, terkait dengan Blok Cepu. Memang Blok Cepu ini pada tahun 2026 ini memiliki kondisi natural decline yang agak ekstrem,” kata Laode.

Pemerintah, lanjut dia, telah melakukan serangkaian pembahasan dengan operator wilayah kerja untuk mengantisipasi penurunan produksi tersebut.

“Kami sudah melakukan serangkaian diskusi dengan operator WK dan sudah diambil langkah-langkah untuk melakukan upaya agar natural decline ini dapat direduksi, sehingga saat ini kondisi yang terjadi di lapangan adalah mempertahankan untuk datar, jadi jangan turun lagi. Seperti itu yang kita lakukan dengan Lapangan Cepu,” ujar Laode.