JAKARTA – Pertamina melalui PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) baru saja teken kontrak Migas Non Konvensional (MNK) untuk bisa menggarap proyek MNK di blok Rokan. Setelah kontrak diteken, pemerintah dalam hal ini Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) menargetkan produksi awal shale oil bisa terealisasi pada tahun ini juga.
Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas mengungkapkan sambil menunggu persetujuan rencana pengembangan atau Plan of Development (POD-1) PHR ternyata sudah bisa melakukan produksi awal setelah pengeboran dua sumur Eksplorasi Deliniasi / Appraisal selesai dilakukan tahun ini.
“Setelah pengeboran deliniasi selesai maka sambil menunggu POD-1, minyak akan segera diproduksikan tahun ini juga,” kata Djoko dalam keterangannya kepada Dunia Energi, Selasa (25/8).
Menurut Djoko cadangan shale oil yang terkandung di Rokan sangat menjanjikan. Untuk itu PHR diharapkan bergerak cepat untuk segera memonetisasi cadangan tersebut. “PHR langsung nge-gas untuk melakukan pengeboran 2 sumur eksplorasi deliniasi/appraisal setelah sebelumnya berhasil menemukan cadangan minyak cukup besar dari MNK Shale Oil pada pengeboran sumur Gulamo dan sumur Kelok di WK PHR sebesar setara 11,3 miliar barel minyak,” ujarnya.
Pengembangan MNK berpotensi menjadi tonggak dimulainya era baru pengembangan hulu migas nasional. Menurut Djoko, pengembangan shale oil ini merupakan yang pertama kali dilakukan di Indonesia, setelah sebelumnya POD-1 MNK Coal Bed Methane (CBM) ditandatangani pada WK KKKS Dart Energy Tanjung Enim, Sumatra.
“Dan akan menjadi tonggak sejarah dimulainya era baru pengembangan hulu migas yang akan mengisi decline produksi era migas konvensional,” kata Djoko.




Komentar Terbaru