JAKARTA – Pengembangan migas non-konvensional (MNK), khususnya shale oil, memasuki babak baru di Indonesia setelah PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) teken kontrak bagi hasil (KBH) atau Production Sharing Contract (PSC) dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas).
Setelah meneken kontrak PHR segera melakukan pengeboran dua sumur eksplorasi deliniasi/appraisal setelah sebelumnya menemukan potensi cadangan minyak dari pengeboran sumur Gulamo dan Kelok di wilayah kerja (WK) PHR.
“Alhamdulillah, setelah Bapak Menteri menerbitkan SK T&C WK Migas Non-Konvensional di mana split kontraktor dapat melebihi 50%, kemarin telah diteken KBH MNK Shale Oil PHR oleh Kepala SKK dan Dirut PHR disaksikan oleh Dirut PHE dan Manajemen SKK Migas,” kata Djoko Siswanto, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) dalam keterangannya ke Dunia Energi, Selasa (25/8).
Menurut Djoko, PHR langsung bergerak untuk mempercepat kegiatan pengeboran dua sumur eksplorasi deliniasi/appraisal. Pengeboran tersebut dilakukan setelah keberhasilan menemukan cadangan minyak yang cukup besar dari MNK Shale Oil melalui sumur Gulamo dan Kelok.
“PHR langsung nge-gas untuk melakukan pengeboran 2 sumur eksplorasi deliniasi/appraisal setelah sebelumnya berhasil menemukan cadangan minyak cukup besar dari MNK Shale Oil pada pengeboran sumur Gulamo dan sumur Kelok di WK PHR sebesar setara 11,3 miliar barel minyak,” ujarnya.

Sumber : SKK Migas
Djoko menjelaskan, setelah pengeboran deliniasi selesai, kegiatan produksi minyak ditargetkan dapat segera dilakukan sembari menunggu persetujuan Plan of Development (POD) pertama.
“Setelah pengeboran deliniasi selesai maka sambil menunggu POD-1, minyak akan segera diproduksikan tahun ini juga,” katanya.
Ia menilai pengembangan MNK Shale Oil tersebut menjadi momentum bersejarah bagi industri hulu migas Indonesia. Menurutnya, pengembangan shale oil ini merupakan yang pertama kali dilakukan di Indonesia, setelah sebelumnya POD-1 MNK Coal Bed Methane (CBM) ditandatangani pada WK KKKS Dart Energy Tanjung Enim, Sumatra.
“Pengembangan MNK Shale Oil di Indonesia merupakan pertama kalinya sepanjang sejarah Republik setelah POD-1 MNK CBM ditandatangani pada WK KKKS Dart Energy Tanjung Enim Sumatra,” ujar Djoko.
Ia menyebut pengembangan MNK berpotensi menjadi tonggak dimulainya era baru pengembangan hulu migas nasional, terutama untuk mengantisipasi penurunan produksi dari lapangan migas konvensional.
“Dan akan menjadi tonggak sejarah dimulainya era baru pengembangan hulu migas yang akan mengisi decline produksi era migas konvensional,” katanya.
Djoko berharap pengembangan MNK di Indonesia dapat terus berkembang sehingga mampu menghasilkan produksi dalam skala besar dan menjadi sumber pertumbuhan baru bagi sektor hulu migas nasional.
“Mohon dukungan dan doa Bapak-Ibu semua. Insya Allah pada saatnya akan tiba MNK di Indonesia akan menyamai MNK oil di Amerika atau Australia bahkan melebihinya. Aamiin,” kata Djoko




Komentar Terbaru