JAKARTA – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui masih belum menetapkan kebijakan terbaru dalam penentuan alokasi gas untuk tahun 2027 mendatang termasuk menetapkan alokasi gas di level midstream.
Laode Sulaeman, Dirjen Migas Kementerian ESDM mengungkapkan setiap tahun memang pemerintah akan menetapkan volume gas bagi para pelaku usaha pengolahan gas yang disinkronisasikan dengan kebutuhan serta pasokan gas dari hulu. “Nanti akan ditetapkan kembali,” kata Laode kepada Dunia Energi, Senin (24/8).
Salah satu pihak yang kini sedang menantikan penentuan alokasi adalah PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) yang kontrak jangka panjang penjualan LNG ke luar negeri akan habis pada 31 Desember 2027. Namun hingga kini mereka belum mengikat kontrak baru setelah kontrak eksistingnya habis.
Menurut Laode setiap tahun pemerintah melakukan evaluasi serta perencanaan dengan berorientasi pada target peningkatan penggunaan gas di dalam negeri.
“Setiap tahun kita ada skenario untuk penguatan pasokan dalam negeri,” ungkap Laode.
Manajemen DSLNG sendiri menyatakan kesiapannya untuk memasok kebutuhan dalam negeri dimana dalam tiga tahun terakhir sebenarnya DSLNG telah mendapatkan mandat untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Sugianto Darsani, Plant Deputy General Manager DSLNG mengatakan permintaan untuk memasok kebutuhan domestik dimulai pada 2024 sebanyak satu kargo, kemudian meningkat menjadi delapan kargo pada 2025. Pada 2026, DSLNG diminta untuk memenuhi 15 kargo LNG kepada PGN.
Menurut dia pengalaman tersebut menunjukkan bahwa DSLNG dapat berperan dalam menjaga ketahanan pasokan LNG domestik. Namun, menurut dia, kebutuhan tersebut idealnya diikat melalui kontrak jangka panjang agar memberikan kepastian bagi kedua belah pihak. “PGN nanti kalau memang itu (beli LNG) ya harus seperti long term contract,” ungkap Sugianto saat ditemui Dunia Energi bersama awak media lainnya disela perayaan HUT ke 81 Republik Indonesia di DSLNG, Senin (17/8).
Saat ini, kontrak penjualan LNG DSLNG mencakup tiga pembeli utama. JERA mendapatkan pasokan sebesar 1 juta ton per tahun (MTPA), Kyushu Electric Power Co. Inc sebesar 0,3 MTPA, dan Kogas sebesar 0,7 MTPA.
Dengan berakhirnya kontrak jangka panjang pada 2027 dan telah diperpanjangnya pengelolaan Blok Senoro-Toili hingga 2047, DSLNG mulai mencari kepastian pasar untuk keberlanjutan operasional kilang. Manajemen menargetkan sudah memperoleh gambaran mengenai kelanjutan kontrak penjualan LNG pada Desember 2026. (RI)




Komentar Terbaru