JAKARTA – Haji Isam tidak main-main dalam berekspansi. Pemilik Jhonlin Group itu dikabarkan tengah membidik 62,2% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dengan nilai akuisisi sekitar US$5,5 miliar.
Langkah ini sejalan dengan strategi diversifikasi Jhonlin Group. Awalnya dikenal lewat Jhonlin Baratama di jasa kontraktor batu bara, kini bisnis grup sudah merambah logistik, pelayaran, sawit, biodiesel, hingga mineral.
Buktinya, pada Mei 2026 Haji Isam baru saja membeli 21,11% saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), perusahaan nikel senilai Rp936,65 miliar.
Kini bidikan mengarah ke BYAN, salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia. Jika terwujud, akuisisi ini akan memperkuat dominasi Jhonlin di sektor energi.
Rumor ini muncul setelah foto pertemuan Haji Isam dengan Dato’ Low Tuck Kwong beredar saat keduanya meninjau tambang BYAN di Kutai Kartanegara, 15 Agustus 2026.
Haji Isam dikenal sebagai pengusaha yang memiliki perjalanan panjang di industri pertambangan, khususnya batu bara. Aktivitas bisnisnya antara lain berkembang melalui Jhonlin Baratama, perusahaan yang pada awalnya bergerak di bidang jasa kontraktor pertambangan batu bara.
Seiring waktu, Jhonlin Group memperluas kegiatan usahanya ke sejumlah sektor, mulai dari logistik dan pelayaran hingga perkebunan kelapa sawit, biodiesel, dan industri berbasis mineral. Ekspansi tersebut membuat portofolio bisnis grup tidak lagi hanya bergantung pada komoditas batu bara.
Diversifikasi ke sektor mineral semakin terlihat pada Mei 2026. Saat itu, Haji Isam membeli sekitar 21,11% saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), perusahaan yang memiliki kegiatan usaha di sektor nikel. Transaksi pembelian saham tersebut bernilai sekitar Rp936,65 miliar.
Masuknya Haji Isam ke PACK menjadi salah satu langkah yang memperlihatkan pelebaran portofolio bisnisnya ke komoditas mineral di luar batu bara.
Di sektor energi dan sumber daya alam, Jhonlin Group tetap memiliki bisnis batu bara melalui Jhonlin Baratama. Sementara itu, lini agribisnis grup mencakup perkebunan kelapa sawit serta bisnis biodiesel yang dijalankan melalui PT Jhonlin Agro Raya Tbk.
BYAN sendiri mencatatkan kinerja apik. Laba bersih semester I-2026 naik 17,46% menjadi US$410,25 juta. Pendapatan juga naik 7,29% ke US$1,74 miliar.
Berdasarkan data pemegang saham BYAN per 29 Mei 2026, Low Tuck Kwong menguasai 40,24% saham BYAN, sementara Elaine Low memiliki 22% dan PT Sumber Suryadaya Prima 10%.
Dengan demikian, kepemilikan Low Tuck Kwong dan Elaine Low mencapai 62,22% saham BYAN. Angka tersebut hampir sama dengan porsi 62,2% yang disebut dalam rumor akuisisi oleh Haji Isam.
Rumor akuisisi turut mendorong pergerakan saham BYAN. Pada perdagangan Jumat (14/8/2026), saham BYAN melonjak 19,01% ke level Rp14.400.(RA)




Komentar Terbaru