JAKARTA – Kabar baik dari salah satu proyek nikel yang digarap PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang telah menyelesaikan konstruksi smelter di blok Pomala. Kini sedang dilakukan operasi mesin dan berbagai infrastuktur smelter.
Budiawansyah, Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer di PT Vale Indonesia Tbk mengungkapkan hingga pembukaan semester II tahun ini atau bulan Juli, progress konstruksi sudah mencapai 100%.
“Konteks mechanical completion sudah selesai, sudah di atas, sudah 100%. Mechanical completion di situ adalah sudah selesai secara mekanik proses konstruksinya. Tinggal testing commissioning,” kata Budi saat berdiskusi dengan awak media, Kamis (13/8).
Menurut Budi, tahap mechanical completion jadi salah satu tahapan krusial dalam melihat kinerja mesin. “Iya, harus sudah selesai alat dipasang, dicek kan trial-trial, kayak beli mobil baru itu,” tegas Budi.
Proyek di Pomala mengintegrasikan kegiatan pertambangan dan fasilitas pengolahan nikel tersebut dikembangkan dengan nilai investasi sekitar US$4,5 miliar. Fasilitas pengolahan menggunakan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk mengolah bijih nikel limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), yang merupakan salah satu bahan antara dalam rantai produksi baterai kendaraan listrik.
Pengembangan fasilitas HPAL dilakukan melalui PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI), perusahaan patungan yang melibatkan PT Vale Indonesia, Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd., dan Ford Motor Co.
Vale menyebut IGP Pomalaa diproyeksikan menghasilkan sekitar 120.000 ton nikel dan 15.000 ton kobalt per tahun dalam bentuk produk MHP. Sementara itu, kapasitas fasilitas HPAL Pomalaa dalam perencanaan proyek mencapai sekitar 60.000 ton MHP per tahun.
Dari sisi pertambangan, proyek Pomalaa dirancang dengan kapasitas pengolahan bijih sekitar 11,5 juta wet metric ton (WMT) per tahun. Selain fasilitas tambang dan HPAL, proyek juga mencakup pembangunan berbagai infrastruktur pendukung, antara lain Feed Preparation Plant (FPP), Sulfuric Acid Plant, fasilitas pengolahan air limbah, pengelolaan limbah, pembangkit listrik, pelabuhan, serta slurry pipeline yang menghubungkan fasilitas pengolahan.
Penggunaan teknologi HPAL menjadi bagian penting dalam proyek Pomalaa karena teknologi tersebut memungkinkan pengolahan bijih nikel kadar rendah jenis limonit yang selama ini relatif sulit diolah menggunakan teknologi pirometalurgi konvensional.
Melalui HPAL, bijih nikel diproses menggunakan tekanan dan temperatur tinggi dengan larutan asam untuk menghasilkan MHP. Produk tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan baku dalam proses produksi material baterai.
Pengembangan Pomalaa juga menjadi bagian dari strategi Vale untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya nikel Indonesia. Dengan mengintegrasikan tambang dan fasilitas pengolahan, proyek tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri kendaraan listrik global.
Keterlibatan Ford dan Huayou juga memberikan dimensi strategis terhadap proyek ini. Ford membawa kepentingan industri kendaraan listrik, sementara Huayou memiliki pengalaman dalam teknologi pengolahan nikel laterit melalui HPAL.
Dengan demikian, IGP Pomalaa tidak hanya diarahkan menjadi proyek pertambangan dan pengolahan nikel, tetapi juga menjadi salah satu fondasi pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik berbasis sumber daya mineral Indonesia.


Komentar Terbaru