JAKARTA – Indonesia memiliki potensi sumber daya dan cadangan gas yang besar, namun optimalisasi pemanfaatannya untuk kebutuhan domestik masih menghadapi tantangan dari hulu hingga hilir. Kesenjangan lokasi sumber gas dan pusat permintaan, struktur harga, keterbatasan infrastruktur, hingga kepastian penyerapan menjadi sejumlah faktor yang menentukan keekonomian pengembangan proyek gas menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan secara lintas sektor.

Pelaku industri hulu migas mendorong pembahasan komprehensif mengenai strategi optimalisasi gas domestik melalui harmonisasi kebijakan harga, pembangunan infrastruktur yang terintegrasi, serta penguatan kepastian investasi dan pasar.

Optimalisasi gas domestik membutuhkan pendekatan yang melihat rantai nilai gas sebagai satu kesatuan, mulai dari pengembangan lapangan, infrastruktur pengangkutan, hingga kepastian pasar pengguna akhir.

Benny Lubiantara, Praktisi Migas, mengatakan bahwa optimalisasi gas domestik perlu dimulai dari penciptaan ekosistem yang mampu memberikan kepastian keekonomian bagi pengembangan lapangan dan investasi. Menurutnya, ketersediaan sumber daya dan cadangan gas saja belum cukup apabila tidak didukung infrastruktur dan pasar yang memungkinkan gas diproduksi, disalurkan, dan diserap secara berkelanjutan.

“Driver-nya adalah ketersediaan infrastruktur dan market yang pada akhirnya akan menentukan keekonomian proyek. Karena itu, tren eksplorasi global saat ini juga semakin mempertimbangkan kedekatan prospek dengan infrastruktur yang sudah tersedia atau yang dapat dikembangkan secara ekonomis. Pendekatan Infrastructure-Led Exploration menjadi salah satu strategi yang relevan untuk mempercepat monetisasi temuan gas,” ujar Benny dalam keterangannya dikutip Senin (24/8).

Menurut Benny, kepastian keekonomian juga menjadi semakin penting ketika eksplorasi diarahkan ke wilayah yang belum banyak dieksplorasi. Selain membutuhkan data dan infrastruktur, pengembangan wilayah tersebut memiliki tingkat risiko dan kebutuhan investasi yang lebih besar.

“Untuk mendorong eksplorasi secara masif, khususnya di wilayah unexplored basins, diperlukan terobosan fiskal dan kebijakan yang mampu meningkatkan keekonomian proyek. Fiskal memang bukan satu-satunya faktor. Kemudahan berusaha, kepastian regulasi, ketersediaan infrastruktur, dan prospek pasar juga sangat menentukan keputusan investasi. Karena itu, seluruh faktor tersebut perlu dilihat sebagai satu ekosistem,” terang Benny.

Ia menambahkan, kebijakan gas domestik juga perlu menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen dan produsen. “Gas harus memiliki harga yang kompetitif bagi industri pengguna, tetapi pada saat yang sama memberikan keekonomian yang memadai bagi produsen dan investor. Tanpa keseimbangan tersebut, pengembangan lapangan baru dan investasi infrastruktur berisiko tertunda,” katanya.

 

Penguatan Infrastruktur

Hadi Ismoyo, Praktisi Migas dan mantan Sekjen Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) mengatakan bahwa optimalisasi gas domestik membutuhkan infrastruktur yang mampu menghubungkan pusat produksi dengan pusat permintaan secara ekonomis dan andal. Menurutnya, pembangunan infrastruktur perlu dirancang sebagai bagian dari satu rantai pasok, bukan berdiri sendiri tanpa memperhitungkan ketersediaan pasokan maupun kebutuhan pengguna akhir.

“Jaringan pipa tetap menjadi tulang punggung distribusi gas, tetapi untuk wilayah yang secara geografis maupun keekonomian belum memungkinkan dibangun jaringan pipa, CNG, mini LNG, LNG dan fasilitas regasifikasi dapat menjadi alternatif. Yang penting, seluruh infrastruktur tersebut dirancang terintegrasi dengan sumber gas dan pasar pengguna,” ujar Hadi.

Menurut Hadi, kepastian pasar merupakan faktor penting untuk memastikan pembangunan infrastruktur dapat mencapai skala keekonomian yang dibutuhkan. Kepastian pembeli, volume penyerapan, formula harga, dan kontrak jangka panjang akan memberikan dasar yang lebih kuat bagi pelaku usaha maupun lembaga pembiayaan dalam mengambil keputusan investasi.

“Gas tidak cukup hanya ditemukan dan diproduksi. Gas harus dapat dimonetisasi dan sampai kepada pengguna dengan biaya yang kompetitif. Karena itu, kebijakan, investasi, infrastruktur dan pasar harus bergerak dalam satu desain yang terintegrasi,” ungkap Hadi.

Hadi menilai, optimalisasi pemanfaatan gas domestik membutuhkan dorongan yang kuat dari sisi hilir, terutama melalui pengembangan infrastruktur dan peningkatan penggunaan gas oleh industri. Dengan adanya kepastian pasar dan infrastruktur yang terintegrasi, gas dari wilayah produksi dapat tersalurkan ke pusat-pusat permintaan dan memberikan nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri.

“Sinergi antara hulu dan hilir menjadi keharusan. Ketika infrastruktur dan pasar domestik disiapkan secara terintegrasi, semakin besar gas yang dapat dimanfaatkan di dalam negeri. Ke depan, kita perlu mendorong agar 80%–90% potensi gas yang memungkinkan secara teknis dan ekonomis dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan domestik,” ujar Hadi.

Persoalan harga, kesiapan infrastruktur, kepastian penyerapan, serta keberlanjutan keekonomian pengembangan lapangan gas akan menjadi bagian penting dalam pembahasan Forum Ekonomi Hulu Migas (FOREK) 2026.