JAKARTA – Kemarau panjang yang melanda wilayah Kalimantan Tengah berdampak terhadap kegiatan pengangkutan kondensat dari Lapangan Bangkanai. Surutnya debit sungai membuat tongkang atau barge yang selama ini digunakan untuk mengangkut kondensat tidak dapat beroperasi secara optimal.
Djoko Siswanto, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mengatakan, kondisi tersebut terjadi karena muka air sungai mengalami penyusutan sehingga tongkang yang menjadi bagian dari sistem pengangkutan kondensat tidak lagi dapat digunakan.
“Sehubungan dengan kemarau panjang, sungai di Kalimantan airnya surut sehingga barge/tongkang yang biasa digunakan untuk menampung kondensat melalui pipa sepanjang kurang lebih 200 kilometer dari Lapangan Bangkanai, Kalimantan Tengah, ke barge/tongkang tidak bisa digunakan,” ujar Djoko dalam keterangannya, Senin (24/8).
Lapangan Bangkanai merupakan salah satu wilayah kerja migas yang berada di Kalimantan Tengah. Dalam kondisi normal, kondensat dari lapangan tersebut dialirkan melalui jaringan pipa menuju titik pengumpulan dan selanjutnya ditampung menggunakan barge.
Untuk menjaga kelancaran pengangkutan kondensat, SKK Migas dan KKKS menyiapkan skema alternatif. Kondensat yang dihasilkan sekitar 600 barel per hari (BOPD) untuk sementara diangkut menggunakan truk tangki atau Landing Craft Tank (LCT).
“Sebagai alternatif, kondensat sekitar 600 BOPD diangkut menggunakan truk-truk tangki, kemudian menggunakan LCT ke dekat sungai atau pelabuhan yang masih bisa disandari LCT,” kata Djoko.
Menurut dia, skema tersebut menjadi langkah sementara untuk memastikan produksi kondensat dari Lapangan Bangkanai tetap dapat ditangani di tengah kendala operasional akibat rendahnya muka air sungai.
Penggunaan truk tangki dan LCT dilakukan dengan menyesuaikan kondisi akses sungai dan pelabuhan yang masih memungkinkan untuk kegiatan bongkar muat. Langkah ini diharapkan dapat menjaga kesinambungan pengangkutan produksi selama kondisi kemarau berlangsung. (RI)




Komentar Terbaru