JAKARTA – PT Amman Mineral Internasional Tbk (IDX: AMMN) membukukan laba bersih US$163 juta pada kuartal I 2026, dibanding periode yang sama tahun lalu yang merugi US$138 juta. Ini mencerminkan margin laba bersih sebesar 20%. Kinerja keuangan Amman mencerminkan perubahan yang signifikan secara tahunan, didukung oleh kemampuan untuk mengekspor konsentrat, volume penjualan dan harga yang lebih tinggi, serta kinerja operasional yang lebih kuat.
“Selama periode kuartal I 2026, kami menjual produk hasil pemurnian serta sekitar 30.013 metrik ton kering konsentrat, sehingga menghasilkan penjualan bersih sebesar US$808 juta,” ujar Arief Sidarto, Direktur Utama Amman, Kamis (30/4).
Peningkatan-peningkatan tersebut juga mencerminkan pemulihan yang signifikan pada profitabilitas Amman selama kuartal tersebut dibandingkan periode yang sama tahun lalu. EBITDA meningkat dari negatif US$42 juta pada Q1 2025 menjadi US$508 juta, dengan margin EBITDA sebesar 63%.
Melalui entitas-entitas anak usaha, PT Amman Mineral Nusa Tenggara dan PT Amman Mineral Industri, Amman Internasional telah menjadi perusahaan yang terintegrasi penuh dari pertambangan hingga permurnian, serta merupakan produsen tembaga dan emas terbesar kedua di Indonesia.
“Kami mengawali tahun 2026 dengan eksekusi yang kuat dan kinerja operasional yang solid di seluruh lini bisnis. Dari sisi pertambangan, produksi konsentrat mencapai 167.792 metrik ton kering, didukung oleh peningkatan jumlah bijih segar yang ditambang serta perbaikan kadar bijih,” ungkap Arief.
Dari sisi peleburan dan pemurnian, Amman terus meningkatkan kapasitas operasi smelter dan precious metal refinery (PMR), serta telah berhasil menyelesaikan uji jaminan kinerja di beberapa area utama. Uji yang tersisa menunjukkan perkembangan yang baik dan tetap berada pada jalur yang tepat untuk diselesaikan pada bulan Juli 2026.
Menurut Arief, seiring dengan masih diizinkannya ekspor konsentrat pada kuartal pertama, Amman melaksanakan program pemeliharaan tahunan smelter. Sebagai dampak dari waktu henti akibat pemeliharaan yang telah direncanakan serta penjualan sebagian konsentrat yang seharusnya diproses oleh smelter, tingkat produksi selama kuartal tersebut belum mencapai tingkat yang optimal.
Selama kuartal pertama 2026, produksi katoda tembaga mencapai 27.670 ton (sekitar 61 juta pon), yang merepresentasikan tingkat produksi rata-rata sebesar 50%, sementara produksi emas murni mencapai 66.209 ons, yang merepresentasikan tingkat produksi rata-rata sebesar 46%.
Amman juga masih melanjutkan proyek ekspansi utama, termasuk ekspansi pabrik konsentrator dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU)—terus berkembang sesuai rencana. Proyek‑proyek ini sangat penting untuk meningkatkan kapasitas throughput, efisiensi energi, serta daya saing biaya secara keseluruhan.
“Prioritas utama kami tetap memastikan kinerja smelter yang stabil, andal, dan berkelanjutan,” kata Arief.
Pada saat yang sama, kata dia, inisiatif ekspansi Amman yang lebih luas—termasuk CCPP, fasilitas regasifikasi LNG, dan ekspansi pabrik konsentrator—diharapkan semakin meningkatkan ketahanan operasional dan daya saing jangka panjang perusahaan.
“Meskipun kami tetap mencermati ketidakpastian geopolitik jangka pendek, termasuk konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah yang telah berkontribusi terhadap kenaikan biaya energi dan beberapa biaya lainnya sejak Maret, kami yakin bahwa prospek jangka panjang tembaga dan emas tetap kuat, sehingga menempatkan Amman pada posisi yang baik untuk pertumbuhan berkelanjutan,” kata Arief.(AT)


Komentar Terbaru