RUANGAN berukuran 4X9 meter dengan tulisan “WORKSHOP Ruang Pembelajaran Kreasi Anyaman Purun Kelommpok Serasi Desa Lubuk Kertang” di depannya itu tampak sempit. Tiga mesin jahit berjejer dari tengah hingga ke belakang di posisi sebelah timur. Satu lainnya berada di salah satu sudut paling belakang, berbatasan dengan dinding ruangan yang dicat warna biru. Beberapa lembar tikar yang dalam proses penyelesaian penyulaman tergeletak di lantai. Tampak juga dari ruangan itu ke arah belakang, beberapa ibu tengah menganyam purun menjadi tikar.

Di samping kiri ruangan ini terdapat puluhan kerajinan anyaman purun yang sudah dibuat oleh Kelompok Serasi, kelompok ibu-ibu Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Berandan Barat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara di bawah binaan PT Pertamina EP Asset 1 Pangkalan Susu Field. Kerajinan itu tersimpan di sebuah etalase kaca. Beberapa di antaranya di simpan di lantai. Ada beberapa topi, sandal, dompet, tempat tisu, tas laptop, dan tas untuk perempuan.

 

Nurjanah Hasibuan, Ketua Kelompok Serasi, tengah memproses kerajinan anyaman purun di bengkel kerja Kelompok Serasi di Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, Minggu (30/12). (Foto: A Tatan Rustandi/Dunia-Energi).

“Total ada 22 jenis produk yang dihasilkan oleh Kelompok Serasi,” ujar Nurjanah Hasibuan, 39 tahun, Ketua Kelompok Serasi, kepada Dunia-Energi di bengkel kerja, yang lokasinya sekaligus menyatu dengan rumahnya, di Jalan Paluh Tabuhan Desa Lubuk Kertang, Brandan Barat, Langkat, Minggu (30/12).

Nurjanah bercerita, Kelompok Serasi awalnya beranggotakan belasan orang yang berdomisili di Dusun I Janggus, Dusun II Paluh Tabuhan dan Dusun V Kelapa 6 Desa Lubuk Kertang. Mereka fokus pada pengembangan kerajinan anyaman dari purun, jenis tumbuhan rumput yang hidup liar di dekat air atau rawa. Purun juga sering dikatakan sebagai tumbuhan yang sejenis daun pandang yang hidup di sekitar rawa.

Menurut Nurjanah, bahan baku purun di sini cukup banyak dan tumbuh subur di lahan bekas galian sirtu Pertamina di kawasan Panti Kodok, Janggus, dan sekitarnya. Gulma tanaman liar itu tumbuh secara alami sehingga tidak memerlukan pemeliharaan dan selalu siap dipanen. Panenan terbaik dihasilkan dari rumpun yang telah berusia 2-3 tahun. Batang-batang purun yang telah dipanen lalu dijemur hingga kering. Selepas itu ditumbuh hingga pipih dan dibersihkan kemudian diberi pewarna. Setelah melewati proses tersebut, purun benar-benar dapat dijadikan bahan baku dan dianyam menjadi tikar dan barang kerajinan lainnya.

“Kami membeli dari warga Rp50 ribu per ikat purun. Satu ikat sekitar 5 kilogram, Rerata kebutuhan kami untuk membuat anyaman sekitar dua ikat,” katanya.

 

Ibu-ibu anggota Kelompok Serasi tengah menganyam purun jadi kerajinan, antara lain tikar. (Foto: A Tatan Rustandi/Dunia-Energi). 

Nurjanah bersyukur atas dukungan Pertamina EP Asset 1 Pangkalan Susu Field, unit bisnis PT Pertamina EP, anak usaha PT Pertamina (Persero) sekaligus kontraktor kontrak kerja sama ( KKKS) di bawah pengawasan SKK Migas. Maklum, menurut Nurjanah, sejak akhir 2015, Pertamina EP Pangkalan Susu telah memberikan sokongan untuk peningkatan kualitas produk anyaman yang dihasilkan Kelompok Serasi.

“Mulanya dari pemberian pelatihan soal kerajinan purun, Pertamina EP kemudian memafilitasi Kelompok Serasi dengan alat-alat yang kami butuhkan untuk pembuatan kerajinan seperti mesin-mesin jahit ini, juga kulit-kulit (imitasi) yang dibutuhkan sebagai bahan baku pembuatan kerajinan purun,” ujarnya.

Bantuan terbesar Pertamina EP Pangkalan Susu bagi Kelompok Serasi adalah pembangunan ruangan yang dijadikan bengkel kerja. Tanah untuk bangunan ini adalah milik Nurjanah. Sedangkan Pertamina EP Pangkalan Susu membantu dalam menyediakan material untuk pembuatan bengkel kerja kelompok tersebut.

 

Beberapa produk kerajinan Kelompok Serasi (foto: A Tatan Rustandi/Dunia-Energi)

Nurjanah berharap, ke depan pemasaran kerajinan anyaman dari purun yang diproduksi Kelaompok Serasi bisa terus meningkat. Selain melalui media sosial, penjualan juga dilakukan secara langsung. “Alhamdulillah, setelah Ibu Menteri KLHK (Siti Nurbaya) datang ke sini, banyak tamu yang datang dan membeli produk kami,” ujarnya.

Milda Rizki, anggota sekaligus pendesain produk kerajinan anyaman purun Kelompok Serasi, menambahkan sebagai anggota Kelpompok Serasi bangga karena produk kerajinan anyaman purun diterima di pasar internasional. Bahkan, termutakhir adalah produk kelompok Serasi dibeli oleh pembeli dari Maladewa.

“Alhamdulillah, ini kepercayaan bagi kami untuk terus melakukan inovasi produk, apalagi impian kami adalah produk seras bisa dipasarkan secara nasional di Jakarta dan Kalimantan dan internasional di Malaysia dan Singapura,” katanya.

Nurjanah menjelaskan, Kelompok Serasi memiliki harapan agar semua anggota kelompok, yang saat ini baru 10 orang, bisa mendapatkan penghasilan Rp1 juta per bulan. Di luar itu, kelompok itu menjadi tempat lapangan kerja yang lebih luas untuk masyarakat sekitar desa hingga 50 orang. “Kami juga punya harapan agar produk dan anggota Serasi dapat mengikuti pameran tingkat nasional di Inacraft Jakarta setiap tahun,” katanya.

Menurut Gondo Irawan, Pertamina EP Asset 1 Pangkalan Susu Field Manager, kepedulian Pertamina EP Pangkalan Susu terhadap kelompok perajin Purun di Desa Lubuk Kertang selain meningkatkan taraf perekonomian masyarakat, juga mempertahankan warisan leluhur suku Banjar yang sudah lama menetap di Lubuk Kertang agar kerajinan tradisional itu tidak tergerus zaman.

“Kerajinan anyaman berbahan baku purun yang ramah lingkungan dan bahan bakunya cukup banyak di Desa Lubuk Kertang perlu kita lestarikan dan tingkatkan mutunya agar tidak kalah bersaing dengan jenis anyaman berbahan tidak ramah lingkungan,” katanya.

Nanang Abdul Manaf, Presiden Direktur Pertamina EP, saat meninjau lokasi Kelompok Serasi, Minggu (30/12) siang, mengatakan dukungan perusahaan kepada masyarakat sekitar operasi Pertamina EP di seluruh Tanah Air adalah sesuai visi dan misi perusahaan. Program tanggungjawab sosial perusahaan (CSR) Pertamina EP dilaksanakan melalui kegiatan bidang lingkungan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan infrastruktur (fasilitas sosial/fasilitas umum).

Anggota Kelompok Serasi berfose bersama. (Foto: A Tatan Rustandi/Dunia-Energi)

Menurut Nanang, perusahaan harus terus berupaya mengimplementasikan nilai-nilai ketaatan dalam bisnis, penggunaan sumber daya alam yang efisien, dan mengurangi kesenjangan kesejahteraan dengan program pemberdayaan masyarakat harus terus ditingkatkan. “Dukungan terhadap pemberdayaan Kelompok Serasi adalah bentuk kontret kami dalam penerapan 3P: people, planet, dan profit,” ujarnya. (DR)