TAS selempang merek terkenal menempel pada sebagian kemeja bercorak hitam putih perempuan cantik berpostur sedang ini. Celana panjang hitam dan sepatu hak tinggi menutup kakinya. Febriany Eddy, Deputy Chief Executive Officer (CEO) PT Vale Indonesia Tbk (INCO), saat itu tampak anggun. Dia menjadi pembicara kedua setelah Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi Meidawati pada seminar Woman in Mining & Energy Indonesia di acara Indonesia Mining Expo 2019 di Jakarta International Expo, Kemayoran Jakarta, Rabu (18 September 2019 ) siang.

Saat itu, Febri, demikian perempuan berpostur tubuh sedang ini disapa, menyinggung soal urgensi keberlanjutan tambang. Febri mengaku keberlanjutan (sustainability) menjadi topik hangat dunia dan kebetulan itu itu menarik minatnya. “Bagaimana membawa perubahan yang positif dan bagaimana menciptakan dunia yang lebih positif lewat aktivitas bisnis kita, apalagi bisnis kita ini pertambangan,” ujar Febri, kala itu.

Menurut dia, seluruh kegiatan pertambangan di manapun di dunia, termasuk yang dilakukan Vale Indonesia, bermuara pada kesejahteraan. Tidak hanya bagi karyawan dan pemegang saham, juga masyarakat, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat.

“Saya pesan kepada karyawan (Vale), kesejahteraan kita ini didapat dari mengolah sumber daya alam. Karena itu, punyalah tanggungjawab lebih terhadap alam. Kita harus strong di culture safety and risk dan deliver world class company,” ujarnya.

Febri memang tidak sedang berapi-api. Dia menunjukkan semangat dan kapasitas dan kemampuannya untuk berbagi ilmu dengan para perempuan yang hadir pada sesi seminar pada siang nan cerah itu. Pengalamannya sebagai “tangan kanan” CEO Indonesia Nicolas D Kanter memberi nilai tambah bagi peserta seminar. Apalagi, Febry memberi motivasi kepada para perempuan untuk tidak minder bekerja di dunia pertambangan, seakan-akan dunia tambang adalah dunia laki-laki. “Kesempatan terbuka bagi siapa saja, termasuk perempuan bekerja dan mencapai puncak karier di perusahaan apa pun, termasuk di pertambangan,” katanya.

Vale Indonesia (sebelumnya bernama PT INCO), perusahaan yang memulai kegiatan penambangan dan pengolahan nikel di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Tengah pada 1968 itu adalah perusahaan yang sangat komitmen dalam keberlanjutan pertambangan dan tidak bias gender. Siapa pun bisa bekerja di perusahaan yang berkontribusi sekitar 5% terhadap pasar nikel dunia itu, termasuk Febri yang seorang perempuan.

Febri sangat pantas berada pada posisi eksekutif di Vale Indonesia saat ini. Apalagi Vale adalah sedikit dari perusahaan tambang kelas dunia yang beroperasi di Indonesia sejak 51 tahun silam. Perusahaan memiliki misi mengubah sumber daya alam menjadi sumber kemakmuran dan pembangunan berkelanjutan. Adapun strategi yang dilakukan adalah dengan mengedepankan tiga aspek, yaitu sustainable operator, value contributor, dan obedient citizen.

“Vale berkomitmen kuat untuk menerapkan operasi tambang berkelanjutan dan memastikan keberadaan perusahaan mendatangkan manfaat bagi masyarakat sekitar serta dapat mendukung setiap upaya bersama untuk menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Nicolas D Kanter.

Selama 51 tahun hadir di Indonesia, Vale Indonesia berhasil mempertahankan eksistensi sebagai salah satu perusahaan pertambangan dan pengolahan mineral terbaik di Tanah Air. Sejak awal beroperasi, Vale telah membangun fasilitas pengolahan (smelter) dan tidak pernah mengekspor bijih. Dimulai dengan penjualan perdana nikel matte 1978, tingkat produksi terus tumbuh dalam rentang waktu berikutnya. Volume produksi tertinggi dicapai pada 2015 sebanyak 81.777 Ton, dan hingga 2022 PT Vale Indonesia menargetkan volume produksi tahunannya menjadi 90.000 Ton.

“Secara nyata, Vale Indonesia telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi Indonesia. Setiap tahun kami membayarkan pajak dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP),” ujar Kanter.

Menariknya lagi, melalui amendemen kontrak karya pada 2014, PT Vale Indonesia menaikkan setoran iuran produksi (royalti) per tahun menjadi 2% dari semula 0,6%, dengan opsi kenaikan menjadi 3% ketika harga nikel mencapai US$21.000 per ton. Seperti dikutip dari laporan tahunan publikasi Vale Indonesia 2018, realisasi pembayaran pajak dan PNBP perusahaan untuk 2018 mencapai US% 91,87 juta, meningkat 46% dibanding 2017.

Harus diakui, Vale Indonesia memang salah satu perusahaan tambang telah berkontribusi kontkret terhadap empat aspek keberlanjutan, yaitu bisnis dan operasi berkelanjutan, tata kelola berkelanjutan, pemberdayaan berkelanjutan, dan pelestarian lingkungan berkelanjutan.

Dari bisnis dan operasi berkelanjutan, terbukti bahwa tambang nikel yang dikelola Vale menujukkan peningkatan cadangan bijih nikel terbukti. Bila pada 2016 cadangan bijih nikel terbukti baru 91,7 juta ton pada 2017 menjadi 82,7 juta ton dan naik lagi menjadi 101,8 juta ton.

Kinerja keuangan pun relatif positif. Pada 2016 mencatatkan pendapatan US$ 586 juta, naik menjadi US$ 629,3 juta pada 2017 dan menjadi US$ 776,9 juta pada 2018. Total distribusi nilai ekonomi juga meningkat dari US$ 518,6 juta pada 2016 menjadi US$ 573,5 juta pada 2017 dan US$ 671,96 juta pada 2018. Sedangkan laba bersih juga positif menjadi US$ 60,5 juta pada 2018 setelah ada 2017 rugi US$ 15,27 juta.

Vale juga memiliki komitmen tinggi dalam pemberdayaan berkelanjutan. Hal itu terbukti dari perhatian perusahaan terhadap program terpadu pengembangan masyarakat. Pada 2018 terdapat 10 program dengan jumlah dana US$ 3 juta denganjumlah penerima manfaat seanyak 38 desa dan 32.720 orang. Di luar itu, perusahaanjuga menganggarkan dana berupa tambahan diluar program terpadu pengembangan masyarakat, sebesar US$ 108,9 ribu pada 2018 dan US$ 97,9 ribu pada 2017.

Pelestarian lingkungan berkelanjutan pun menjadi perhatian Vale Indonesia. Hal itu tampak dari pengendalian emisi yang mencapai 0,74 ton So2/ton Ni pada 2018, turun dari 2017 yang tercatat 0,75. Total emisi GRK juga berkurang dari 1.188.674 menjadi 781.064 ton Co2 equivalent. Pemakaian energi juga turun dari 26.409.890 GJ menjadi 25.904.448 GJ. Namun, intensitas energi naik dari 343,8 GJ/ton menjadi 346,3 GJ/ton pa 2018.

Adapun penggunaan HSFO juga berkurang sejak 2016, yaitu dari 20,72 barel per ton menjadi 21,22 barel per ton pada 2017 dan 20,15 per ton pada 2018. Sedangkan pengelolaan limbah terus meningkat dari 34.520.600 WMT pada 2016 menjadi 35.373.104 WMT pada2017 dan 40.574.694 pada 2018. Sedangkan limbah Domestik Non-B3 pada 2018 tercatat 5.832 ton naik dari 2017 sebanyak 4.148 ton.

Pengelolaan lahan pun tak abai dari perhatian manajemen Vale. Luas lahan yag direhabilitasi terus meningkat dari 51,05 hektare pada 2016 menjadi 57,74 hekare pada 2017, dan 93,31 hektare pada 2018. Total luas lahan yang direhabilitasi juga naik dari 4,1 juta ha pada 2016, menjadi 4,158 juta ha pada 2017, dan 4,25 juta ha pada 2018. Adapun total pohon ditanam mencapai 78.400 batang per hektare pada 2018 dari 184.508 batang pohon per ha.

Bayu Aji, Senior Manager Communication PT Vale Indonsia, mengatakan selama 51 tahun beroperasi di Indonesia, perusahaan tak terlepas dari komitmen pada pembangunan berkelanjutan. Melalui pembangunan berkelanjutan, Vale Indonesia mendorong aktivitas operasi pengelolaan tambang sehingga meningkatkan nilai tambah bagi pemangku kepentingan. Selama 51 tahun ini pula, Vale Indonesia terus bertanggung jawab melakukan penguatan kerjasama dengan pemerintah, institusi publik, sektor swasta dan masyarakat luas sehingga dapat terus berkontribusi pada penguatan aspek sosial, pembangunan kompetensi ekonomi lokal, serta konservasi pelestarian dan lingkungan.

“Dalam penerapan tata kelola perusahaan yang baik (GCG), kami terus menyempurnakan proses persetujuan dalam berhubungan dengan pejabat pemerintah dan pihak ketiga. Pada 2015 Perusahaan menerapkan Manual PT Vale, dan setahun kemudian penerapan Kode Etik Pemasok serta pengadaan berbasis teknologi informasi (e-procurement). Kami juga telah menerapkan Vale Whistleblower Channel (VWC), sebagai akses bagi semua pihak untuk menyampaikan laporan pelanggaran,” katanya.

Atas kontribusi dan komitmen tinggi Vale demi keberlanjutan pertambangan dari empat aspek, berbagai penghargaan pun diterima perusahaan. Paling mutakhir adalah diraihnya Penghargaan Subroto 2019 bagi Vale Indonesia untuk Kategori Perlindungan Lingkungan Pertambangan Kelompok Kontrak Karya dan Izin Usaha Pertambangan. Febri menerima langsung penghargaan tersebut dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan. “Penghargaan ini semakin mendorong kami untuk memiliki kinerja lebih baik lagi ke depan,” katanya. (YURIKA INDAH PRASETIANTI)