JAKARTA – Limbah padat dari pengolahan bijih nikel yang selama ini dianggap tidak bernilai kini berpotensi menjadi sumber bahan baku baru. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengembangkan teknologi untuk mengolah limbah tersebut menjadi besi oksalat dihidrat, senyawa yang bisa digunakan untuk industri baterai hingga kendaraan listrik.

Temuan riset itu dipaparkan Peneliti Pusat Riset Metalurgi BRIN, Tri Arini, dalam forum BRIN Goes to Industry Chapter 5 bertema “Hilirisasi Riset dan Inovasi Sektor Pertambangan” di Jakarta, Selasa (28/7).

Tri menjelaskan, ide riset muncul dari pengamatan bahwa limbah pengolahan nikel masih mengandung besi yang bisa dimanfaatkan. Alih-alih dibuang, kandungan besi itu diolah menjadi produk bernilai tambah.

“Dari limbah tersebut kami melihat masih terdapat sumber besi yang dapat dimanfaatkan. Karena itu, kami melakukan riset untuk menghasilkan produk berbasis besi yang memiliki nilai tambah,” ujar Tri.

Dalam prosesnya, BRIN memanfaatkan energi cahaya untuk mengubah kandungan besi dalam limbah menjadi besi oksalat dihidrat. Keunggulan metode ini adalah tidak memerlukan bahan tambahan lain, sehingga prosesnya lebih sederhana dan berpotensi lebih ramah lingkungan.

Hasil uji coba menunjukkan besi oksalat dihidrat hasil olahan limbah nikel memiliki peluang besar di berbagai sektor. Potensi terbesarnya adalah sebagai bahan awal pembuatan material lithium iron phosphate (LiFePO₄/LFP) yang menjadi komponen utama baterai, termasuk untuk kendaraan listrik.

Selain baterai, produk ini juga bisa digunakan untuk industri katalis dan fotokatalis, pigmen dan keramik, pengolahan air dan lingkungan, hingga pengelolaan limbah.

Masih Skala Laboratorium, Target Masuk Industri
Menurut Tri, pengujian untuk aplikasi baterai sudah dilakukan selama sekitar satu tahun. Namun saat ini teknologinya masih berada pada skala laboratorium.

Tahap selanjutnya adalah meningkatkan kapasitas produksi dan menyesuaikan proses agar sesuai dengan kebutuhan industri.

“Ke depan kami berharap teknologi ini dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi dan dapat diintegrasikan dengan industri,” kata Tri.

Dari sisi industri, inovasi ini memberi dua keuntungan. Pertama, limbah nikel bisa dimanfaatkan kembali sehingga mengurangi timbunan. Kedua, produk yang dihasilkan berpotensi menjadi bahan baku dalam negeri untuk sektor baterai dan kendaraan listrik yang permintaannya terus tumbuh.

Pemanfaatan limbah ini juga berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap impor besi oksalat. Dengan dukungan mitra industri dan peningkatan skala produksi, teknologi ini diharapkan bisa segera masuk ke tahap komersialisasi.

Melalui program BRIN Goes to Industry, BRIN berupaya mempertemukan hasil riset dengan kebutuhan dunia usaha agar inovasi dapat dikembangkan lebih lanjut dan memberi manfaat nyata. Pemanfaatan limbah nikel menjadi besi oksalat disebut sebagai salah satu contoh bagaimana residu pertambangan bisa diarahkan menjadi sumber bahan baku baru sekaligus mendorong hilirisasi industri nasional.(RA)