JAKARTA – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) membukukan penurunan kinerja pada kuartal II 2026. Perseroan mencatat penurunan pada tiga indikator utama, yaitu produksi, pendapatan, dan laba bersih dibandingkan periode yang sama tahun lalu maupun kuartal sebelumnya.

Direktur Utama & CEO BRMS, Agus Projosasmito, mengungkap ada 3 faktor utama yang menjadi penyebab penurunan kinerja tersebut.

Pertama, penurunan produksi akibat operasi pushback di lokasi tambang River Reef, Poboya, Palu. Operasi pushback merupakan bagian dari kegiatan mining sequencing yang telah diantisipasi sebelumnya.

Namun Agus menegaskan kegiatan pushback tersebut telah difinalisasikan. BRMS telah mulai menambang di bukaan baru pada tambang terbukanya sejak semester II 2026. “Oleh karenanya, produksi emas BRMS diharapkan akan meningkat di H2 2026,” ujarnya, dalam keterangan tertulis Jumat (31/7).

Kedua, kendala penjualan emas di pasar domestik. BRMS menghadapi kondisi oversupply di pasar Indonesia pada Q2 2026 karena banyak eksportir emas memilih menjual ke pasar lokal. Kondisi ini membuat pembeli lokal meminta harga diskon.

Akibatnya, hanya sekitar 70% dari produksi emas BRMS yang terjual ke pasar domestik pada Q2 2026.

Untuk mengatasi hal ini, anak usaha BRMS, PT Citra Palu Minerals, telah menandatangani perjanjian dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada akhir Juni 2026. Melalui perjanjian tersebut, sebagian besar produksi emas BRMS akan dijual dengan harga kompetitif kepada ANTM setiap bulan. Perjanjian ini berlaku sampai Juni 2028.

Ketiga, penurunan kinerja dipicu rata-rata harga jual komoditi emas merosot dari US$ 4.512 di Q1 2026, menjadi US$ 4.138 di Q2 2026

Terkait rencana peningkatan kapasitas produksi BRMS, masih sesuai jadwal untuk menyelesaikan peningkatan kapasitas salah satu pabriknya dari 500 menjadi 2.000 ton bijih per hari pada akhir tahun ini.

Selain itu, perseroan menargetkan mulai menambang bijih emas berkadar tinggi 3,5-4,9 g/t dari area tambang bawah tanah pada semester II 2027.

“Kami yakin untuk dapat mengatasi kendala dan tantangan yang ada saat ini. Kinerja produksi dan keuangan kami diharapkan dapat membaik pada semester kedua tahun ini,” kata Agus.(RA)