JAKARTA – PT Amman Mineral Internasional Tbk (IDX: AMMN) pertahankan target kinerja operasi penambangan sepanjang 2026. Amman mematok target produksi konsentrat 900 ribu metrik ton, yang mengandung 485 juta pon atau setara dengan 220 ribu ton tembaga dan 579 ribu ons emas.
Dari total produksi konsentrat tersebut, sekitar 500.000 metrik ton kering konsentrat akan diproduksi dari pabrik konsentrator yang sudah ada, sementara sisanya sebesar 400.000 metrik ton kering akan berasal dari pabrik konsentrator yang baru, tergantung pada kemajuan proses komisioning. Seperti halnya ramp‑up fasilitas baru pada umumnya, terdapat risiko eksekusi yang melekat.
Operasi smelter terus menunjukkan perbaikan menuju akhir 2025 setelah penyelesaian perbaikan. AMMAN memperoleh izin ekspor konsentrat sementara pada 31 Oktober 2025, dengan kuota 480.000 dmt yang berlaku selama enam bulan. Hal ini memberikan fleksibilitas operasional sekaligus menjadi langkah mitigasi apabila proses ramp-up smelter menghadapi tantangan.
Ke depan, profil produksi konsentrat diperkirakan akan mengalami variasi seiring upaya menyeimbangkan produksi konsentrat dengan proses ramp‑up smelter. Memastikan utilisasi smelter yang stabil tetap menjadi prioritas utama, yang dapat memengaruhi waktu pengelolaan persediaan konsentrat dan penjualan.
“Pada tahap ini, kami belum dapat memberikan panduan produksi tahun 2026 untuk katoda tembaga dan emas murni, mengingat fokus utama kami adalah mencapai kinerja smelter yang stabil dan berkelanjutan,” ujar Arief Sidarto, Direktur Utama Amman dalam keterangannya, Kamis (26/3).
Memasuki tahun 2026, prioritas utama Amman adalah memastikan kinerja smelter yang stabil dan berkelanjutan. Di saat yang sama, proyek ekspansi utama—termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU), fasilitas regasifikasi LNG, serta ekspansi pabrik konsentrator— tetap berjalan sesuai rencana dan akan semakin memperkuat ketahanan operasional serta daya saing biaya. Terlepas dari tantangan jangka pendek, fundamental jangka panjang untuk komoditas tembaga dan emas tetap sangat kuat.
“Kami akan terus fokus pada eksekusi yang disiplin, optimalisasi biaya, dan keunggulan operasional untuk menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemegang saham dan pemangku kepentingan kami,” kata Arief Sidarto, Direktur Utama AMMAN.
Tahun Transisi
Melalui entitas-entitas anak usahanya, PT Amman Mineral Nusa Tenggara dan PT Amman Mineral Industri, Amman Mineral Internasional kini menjadi perusahaan yang terintegrasi penuh dari pertambangan hingga permurnian, serta merupakan produsen tembaga dan emas terbesar kedua di Indonesia.
Amman menyebut bahwa tahun 2025 merupakan tahun transisi yang sangat penting. Peralihan ke penambangan Fase 8—yang ditandai dengan kadar bijih yang lebih rendah—bersamaan dengan proses peningkatan kapasitas (ramp-up) smelter, menimbulkan tekanan operasional jangka pendek.
“Namun, kami berhasil mencapai berbagai tonggak strategis, terutama menuntaskan transformasi menjadi produsen tembaga dan emas yang terintegrasi penuh,” kata Arief.
Sepanjang tahun, smelter Amman mengalami penghentian sementara pada Juli dan Agustus 2025 untuk perbaikan Flash Converting Furnace dan Sulfuric Acid Plant. Pekerjaan ini merupakan aktivitas yang kompleks dan krusial untuk memastikan keandalan peralatan dan stabilitas operasional. Setelah perbaikan selesai, operasi smelter kembali stabil menjelang akhir tahun.
Secara paralel, AMMAN memperoleh izin ekspor konsentrat sementara pada akhir Oktober 2025, yang memberikan fleksibilitas tambahan selama fase ramp‑up smelter. Amman juga mencatat pencapaian penting di hilirisasi, termasuk produksi perdana katoda tembaga pada Maret 2025 dan produksi emas murni pertama pada Juli 2025.
Di sisi penambangan, operasi berlangsung disiplin dan sesuai dengan rencana tambang. Seiring penyesuaian urutan penambangan, total material yang ditambang menurun, namun akses terhadap bijih segar dari Fase 8 meningkat sesuai rencana. Meskipun kadar bijih lebih rendah selama masa transisi ini, kami berhasil melampaui panduan kinerja satu tahun untuk produksi konsentrat dan emas.
Volume material yang ditambang pada tahun 2025 turun 9% dari tahun ke tahun (”YoY”). Penurunan ini wajar mengingat tahun 2024 merupakan puncak volume penambangan, salah satu yang tertinggi sepanjang umur tambang Batu Hijau. Sesuai rencana tambang, pasca 2024 volume penambangan kembali normal.
Kegiatan penambangan sepanjang tahun berfokus pada pengupasan lapisan batuan penutup dan penambangan bagian terluar bijih Fase 8 yang ditandai dengan bijih berkadar rendah hingga menengah. Volume bijih segar yang ditambang meningkat 60% YoY; namun, kadar bijih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagai dampaknya—jarak angkut yang lebih jauh, harga bahan bakar yang lebih tinggi, serta volume material yang ditambang yang lebih rendah— biaya penambangan per unit tahun 2025 meningkat 10% YoY, dari US$2,24/t menjadi US$2,54/t.
Produksi konsentrat mencapai 446.563 metrik ton kering pada 2025, turun 41% YoY. Produksi tembaga dan emas masing‑masing sebesar 209 juta pon dan 102.758 ons, mencerminkan penurunan tahunan sebesar 47% dan 87%. Penurunan produksi logam dibandingkan tahun lalu sudah diantisipasi, karena bijih yang dikelola di pabrik konsentrator selama masa transisi berasal dari stockpiles dan bijih segar berkadar rendah dari Fase 8.
Namun demikian, pencapaian operasional tetap solid dibandingkan panduan kinerja. Produksi konsentrat setahun penuh melampaui panduan kinerja sebesar 4% dan produksi emas sebesar 14%, sementara produksi tembaga 8% di bawah target.
Di sisi hilir, produksi mencapai tonggak penting sepanjang tahun. Produksi katoda tembaga dimulai pada akhir Maret 2025, dengan total produksi smelter tahun 2025 mencapai 79.849 ton, setara dengan 176 juta pon. Produksi emas murni dari PMR dimulai pada pertengahan Juli 2025, menghasilkan 124.723 ons sepanjang tahun.
Seiring larangan ekspor konsentrat di awal tahun serta proses ramp‑up smelter, AMMAN membukukan penjualan bersih sebesar US$1.847 juta sepanjang 2025, dibandingkan sekitar US$2.664 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja keuangan menguat di paruh kedua, di mana kontribusi kuartal IV mencapai sekitar 70% dari penjualan setahun penuh seiring stabilnya operasi smelter tembaga dan Precious Metal Refinery.
Amman tercatat membukukan laba bersih sebesar US$258 juta dengan margin 14% pada 2025, dibandingkan raihan tahun sebelumnya yang mencapai US$642 juta dengan margin 24%.(AT)


Komentar Terbaru