JAKARTA –  Pembangunan pabrik LPG terbesar di Jawa Barat telah rampung dan kini memasuki tahap akhir sebelum beroperasi secara komersial. Adapun pasokan gas berasal dari Lapangan Offshore North West Java (ONWJ) yang dikelola Pertamina Hulu Energi (PHE) ONWJ yang berada di lepas pantai Jawa Barat. Sebanyak 40 MMSCFD gas dipasok ke fasilitas tersebut dengan kandungan propana (C3) sekitar 8% dan butana (C4) sekitar 2%.

“Diproses menjadi LPG sebanyak 170 sampai 190 metrik ton per hari dan juga menghasilkan kondensat 350 BOPD, sehingga dapat dicatat sebagai lifting minyak setara lebih dari 2.000 BOPD,” ujar Djoko Siswanto, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) kepada Dunia Energi, Senin (22/6).

Lebih lanjut menurut Djoko untuk lean gas-nya yang dihasilkan akan mengalir sebagai bahan baku untuk memproduksi pupuk di Pabrik Pupuk Kujang.

Pabrik tersebut dibangun oleh PT Energi Nusantara Perkasa (ENP) dan PT Euroasiaric Jaya (EA) dengan memanfaatkan teknologi asal Jerman. Fasilitas ini menggabungkan sistem dua tahap refrigerasi (two-stage refrigeration) dan turbo expander yang memungkinkan pemulihan komponen LPG secara optimal.

“Pabrik dibangun oleh PT ENP dan PT EA menggunakan teknologi Jerman, kombinasi 2 stage refrigerator dan turbo expander sehingga 99% C3 dan C4-nya dapat diproses menjadi LPG,” kata Djoko.

Saat ini proyek memasuki tahapan commissioning. Secara paralel, dilakukan pengujian non-destructive test (NDT) terhadap jaringan pipa penyalur LPG, kondensat, dan lean gas untuk memastikan seluruh fasilitas memenuhi standar keselamatan dan operasi.

“Insya Allah paling telat Rabu selesai commissioning, Kamis Ditjen Migas menerbitkan izin tetap, Jumat barokah lifting dan penjualan perdana LPG, dan siap untuk diresmikan,” ujarnya.

Djoko menambahkan, beroperasinya pabrik LPG ini akan memberikan kontribusi signifikan terhadap penguatan ketahanan energi nasional. Selain mengurangi ketergantungan pada impor LPG, fasilitas tersebut juga akan membantu menjaga pasokan energi bagi masyarakat dan industri dalam negeri. “Dengan selesainya pabrik LPG ini maka impor LPG berkurang, ketahanan energi meningkat, dan jaminan ketersediaan LPG bagi masyarakat terus terjamin,” kata Djoko.