JAKARTA – Proyek Enhanced Oil Recovery (EOR) bahan kimia yang digarap PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) di Lapangan Minas, Riau, mulai menunjukkan hasil posituf yang cukup signifikan. Ini jadi harapan baru ditengah upaya peningkatan produksi minyak nasional.
Djoko Siswanto Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), mengungkapkan bahwa produksi minyak dari area yang telah dilakukan injeksi bahan kimia mengalami peningkatan sesuai target yang direncanakan.
Djoko mengatakan, proyek Chemical EOR (C-EOR) di Lapangan Minas menjadi salah satu upaya strategis untuk meningkatkan produksi minyak nasional dari lapangan-lapangan yang telah lama beroperasi.
“Alhamdulillah, proyek EOR PHR di Lapangan Minyak Minas saat ini telah menunjukkan hasil nyata, yaitu dalam waktu enam bulan sejak injeksi bahan kimia di Area A pada bulan Desember 2025. Saat ini, pada bulan Juni 2026, produksinya sudah meningkat 300%, tercapai sesuai dengan yang direncanakan,” ujar Djoko.
Menurut Djoko, capaian tersebut menjadi pijakan penting untuk pengembangan EOR di area lainnya. Ia menyebut target peningkatan produksi yang jauh lebih besar diharapkan dapat dicapai pada akhir tahun.
“Adapun target pada bulan Desember 2026, produksinya meningkat menjadi 50 kali lipat,” katanya.
Djoko menjelaskan, proyek Chemical EOR Lapangan Minas mencakup enam area pengembangan, yakni Area A, B, C, D, E, dan F. Saat ini, PHR tengah mempersiapkan pelaksanaan injeksi kimia di Area B dan D.
“Saat ini PHR sedang mempersiapkan injeksi kimia untuk Area B dan D, sedangkan untuk Area C, E, dan F akan dikerjasamakan, baik menggunakan Permen ESDM Nomor 14 Tahun 2025 maupun bentuk kerja sama lain dengan Daqing Oil & Gas Company yang telah memiliki kerja sama dengan Pertamina. Sebagai informasi, PT Daqing ini sangat sukses menerapkan teknologi EOR di China,” jelasnya.
Dalam proyek tersebut, PHR menggunakan tiga jenis bahan kimia utama, yakni alkali yang diproduksi di dalam negeri, surfaktan atau sabun yang diramu sendiri oleh PHR menggunakan formula berpaten, serta polimer yang masih diimpor.
Djoko berharap seluruh pemangku kepentingan dapat memberikan dukungan agar percepatan proyek dapat terus dilakukan sehingga seluruh area pengembangan dapat berjalan secara paralel.
“Mohon doa dan dukungan semua pihak agar proyek EOR ini dapat dipercepat pelaksanaannya dan secara paralel Area A, B, C, D, E, dan F dikerjakan bersamaan sehingga pada tahun 2029–2030 sudah mendapatkan puncak produksinya untuk seluruh Area A, B, C, D, E, dan F hingga mencapai 200.000 BOPD,” jelas Djoko.
Keberhasilan proyek EOR Minas akan menjadi model pengembangan lapangan minyak tua yang dapat direplikasi di berbagai wilayah kerja migas lainnya di Indonesia.



Komentar Terbaru