PLN mengalokasikan sekitar 30% dari total anggaran investasi 2019 yang mencapai Rp 99 triliun untuk pembangunan jaringan transmisi.

JAKARTA – PT PLN (Persero) mengalokasikan dana investasi 2019 sebesar Rp 99 triliun. Sebagian besar dana akan digunakan untuk pembangunan jaringan transmisi listrik yang akan ditambah dan diperluas. Serta pembangunan pembangkit listrik dan gardu induk.

Sofyan Basir, Direktur Utama PLN, mengatakan perseroan mengalokasikan anggaran sekitar 30% dari seluruh alokasi investasi untuk pembangunan jaringan transmisi. “Transmisi seingat saya sekitar Rp 30-an triliun,” kata Sofyan saat ditemui di Gedung DPR, Senin malam (4/2).

Sofyan mengatakan untuk anggaran investasi tahun ini lebih kecil dibanding dengan alokasi anggaran yang direncanakan pada 2018 yang mencapai Rp 123 triliun. Namun alokasi investasi tahun ini masih lebih tinggi dibandingkan realisasi investasi 2017 sebesar Rp 94 triliun.

Setiap tahun, kata dia, investasi idealnya semakin turun menyusul mulai beroperasi pembangkit listrik yang dibangun PLN. Ini juga disesuaikan dengan pertumbuhan konsumsi listrik masyarakat setiap tahunnya.  “Pelan-pelan turun (investasi), kan kami selalu bilang pertumbuhan listrik sesuai dengan permintaan. Kalau permintaan turun jumlah transmisi turun, pembangkit juga turun,” kata Sofyan.

Data PLN menyebutkan, pada 2019 perseroan mematok pertumbuhan penjualan listrik sebesar 6,69% dengan asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3%.
Untuk penambahan transmisi diproyeksikan 22.350 kms. Target pengadaan transmisi tahun ini paling banyak dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir. Jika dibandingkan tahun lalu penambahan transmisi tahun ini mencapai 351% karena realisasi penambahan transmisi pada tahun lalu hanya mencapai 4.950 kms.

Untuk pembangkit listrik tahun ini ditargetkan bertambah 7.521 megawatt (MW), naik dibanding 2018 yang bertambah 2.123,6 MW. Gardu induk ditargetkan akan bertambah sebesar 44.860 MVA, dibanding tahun lalu yang terealisasi 20.645 MVA.
Sofyan mengakui target investasi PLN kadang meleset atau dibawah dari target. Hal itu tidak hanya disebabkan oleh penyesuaian yang dilakukan perusahaan karena adanya perubahan pertumbuhan konsumsi listrik, namun juga adanya efisiensi yang dilakukan manajemen.

Pada tahun lalu dari target Rp 123 triliun, PLN hanya memperkirakan terealisasi tidak sampai Rp 80 triliun. “Dalam anggaran beli mobil misalnya Rp 100 juta, ternyata lebih murah Rp 90 juta. Jadi kalau dilihat jumlah pinjaman sama jumlah investasi itu jauh lebih besar penambahan asetnya, jadi bagus efisien,” tandas Sofyan.(RI)