JAKARTA – Indonesia memiliki potensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sangat besar dan pemerintah juga telah menjadikannya sebagai salah satu andalan dalam upaya transisi energi. Namun ada satu kunci lain yang perlu dikembangkan jika mau mendorong PLTS dalam transisi energi, yakni ketersediaan sismte penyimpanan energi untuk memitigasi sifat PLTS yang intermiten.

Harris, Sekretaris Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Energi Mineral (ESDM), mengungkapkan pemerintah menyadari potensi PLTS besar di Indonesia tapi itu saja tidaklah cukup.

Dia menjelaskan dari lebih dari 60 gigawatt kapasitas pembangkit baru yang direncanakan hingga 2034, sebanyak 42 gigawatt berasal dari energi terbarukan, dan tenaga surya menjadi salah satu kontributor terbesar

“Kami memiliki potensi tenaga surya lebih dari 3.000 gigawatt, tetapi kami juga menyadari bahwa tenaga surya saja tidak cukup. Tenaga surya membutuhkan cadangan dan membutuhkan sistem penyimpanan,” kata Harris disela pembukaan Eastern Energy Storage Alliance (EESA) Summit Indonesia di Pullman Hotel, Jakarta, Selasa (9/6).

PLTS akan menjadi tulang punggung transisi energi Indonesia, namun keberhasilan pengembangan PLTS dalam skala besar sangat bergantung pada ketersediaan sistem penyimpanan energi (battery energy storage system/BESS).

Harris menuturkan telah mengidentifikasi kebutuhan sistem penyimpanan energi dalam perencanaan jangka panjang dan juga dalam perencanaan ketenagalistrikan jangka menengah. “Peran penyimpanan energi adalah meminimalkan dampak intermitensi energi terbarukan, menstabilkan sistem kelistrikan, mendukung mikrogrid, serta melakukan load shifting,” ujar Harris.