TANGERANG – Indonesia merupakan salah satu negara produsen dan pengekspor gas yang disegani karena jadi pelopor “pengemasan” gas dalam bentuk Liquied Natural Gas (LNG) atau gas alam cair untuk dikirim ke luar negeri dalam jumlah besar bahkan jadi yang terbesar di era 80an hingga 2000an.
Ada tiga fasilitas pengolahan gas utama di Indonesia yang hingga kini masih berproduksi secara optimal yakni Kilang LNG Badak di Bontang, Kalimantan Timur. Lalu ada kilang LNG Tangguh di Papua Barat serta ada Kilang LNG milik Donggi Senoro LNG (DSLNG). Sebenarnya ada satu lagi kilang LNG Arun di Aceh, hanya saja sudah tidak lagi beroperasi.
Tiga fasilitas pengolahan LNG yang masih beroperasi ini menjadi wajah Indonesia di mata dunia yang menunjukkan bagaimana kualitas LNG baik dari volume dan kualitasnya sudah diakui secara global. Kilang DSLNG memang punya kapasitas 2,1 juta ton per annum (MTPA) atau lebih kecil dibanding “dua kakaknya” Bontang dan Tangguh, namun dari sisi kualitas gas LNG yang dihasilkan tidak bisa dianggap sebelah mata.
Sejak kargo LNG pertama berlayar ke konsumen hingga kini, DSLNG mampu menjaga kepercayaan para pembeli gas. Ini bukan hal mudah ditengah persaingan bisnis sekarang yang semakin ketat dimana DSLNG mampu mempertahankan para pembeli gas “tradisionalnya”.
Rahasis dibalik setianya para pembeli LNG dari blok Senoro-Toili dan Matindok ini adalah komitmen perusahaan memastikan produk memenuhi standar global melalui laboratorium pengujian LNG yang telah terakreditasi internasional ISO/ICE 17025:2017 yang diterbitkan Komite Akreditasi Nasional (KAN). Sekilas ini terkesan terlalu administratif. Tapi tanpa itu, gas dari kilang DSLNG akan sulit bersaing dengan LNG-LNG lain yang beredar secara global.
Karena dalam industri LNG, data laboratorium bukan hanya sekedar angka data kertas, melainkan fondasi utama sebagai kepercayaan kilang LNG terhadap buyer, sehingga wajib hukumnya laboratorium memberikan hasil yang akurat dan presisi.
Mohd. Taufiq Laboratory Supervisor DSLNG, menjelaskan keberadaan laboratorium LNG sangat kritikal bagi bisnis LNG karena berdasarkan analisis LNG dari laboratorium akan menghasilkan komposisi LNG yang juga menentukan bagi heating value.
Dan dari heating value ini akan dihitung menjadi energy quantity, yang kemudian akan diubah menjadi nilai transaksi. Oleh karena itu, kesalahan di awal pada analisis-analisis komposisi akan menyebabkan nilai transaksi yang kurang atau lebih. Dengan kata lain, hasil laboratorium jadi faktor kunci menentukan baik tidaknya sepak terjang perusahaan di bisnis LNG.
“Data Laboratorium yang andal adalah wajib, untuk mewujudkan transaksi LNG yang andal. Mengapa akurasi lab itu sangat penting di industri LNG? Jawabannya satu, karena langsung berdampak kepada finansial perusahaan,” kata Taufiq disela IPA Convex 2026, Rabu (20/5).
Untuk membangun kepercayaan itulah dibutuhkan akreditasi laboratorium ISO/ICE 17025:2017, standar internasional yang menetapkan persyaratan umum untuk kompetensi laboratorium pengujian dan kalibrasi.
Ada tiga aspek manfaat ketika laboratorium LNG sudah tersertifikasi ISO/ICE 17025:2017 yakni dari sisi perusahaan, laboratorium serta dari sisi pelanggan. Dari sisi perusahaan, mampu meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan. Membangun reputasi baik nasional dan internasional. Kamudian dari sisi laboratorium sebagai wujud penerapan tata kelola yang baik dan pengurangan risiko, sehingga perusahaan bisa terus melakukan continuous improvement.
Kemudian dari sisi pelanggan, tentu dengan sertifikasi ini membuat pelanggan jadi lebih percaya akan produk yang dihasilkan DSLNG. Dimana hasil lab yang didapatkan adalah hasil lab yang akurat, sehingga bisa sesuai dengan skema penjualan yang dimiliki.
DSLNG sendiri baru saja memperharui sertifikat akreditasi ISO/ICE 17025:2017 pada April 2025 lalu dan berlaku hingga 2030. Selama pre-audit lima tahun dilakukan pengawasan secara ketat oleh KAN. Tidak mudah untuk bisa memperoleh akreditasi, salah satunya harus memenuhi imparsialitas dan kerahasiaan. Artinya manajemen harus mengendalikan konflik kepentingan personil laboratorium. Jadi data uji dihasilkan tanpa ada tekanan dari pihak manapun.
“Makanya, setiap personil laboratorium di DSLNG, semuanya melakukan penandatanganan pakta integritas. Dalam hal ini, harus benar-benar berkomitmen. Tidak bisa ditekan oleh pihak manapun,” cerita Taufiq.
Selain itu untuk memastikan kualitas SDM tetap terjaga dan sesuai dengan standar global para peneliti di laboratorium DSLNG sudah tersertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Selanjutnya adalah kemampuan laboratorium menerapkan Gas chromatography (GC) yakni teknik laboratorium analitik untuk memisahkan, mengidentifikasi, dan mengukur komponen-komponen dalam campuran kimia dalam hal komponen LNG itu.
Selanjutnya keterseluran metrologi. Penggunaan certified reference material, evaluasi measurement uncertainty. Kemudian laboratorium hasil bisa memenuhi kualitas hasil uji dengan cara repeatability, artinya adalah hasil yang berulang. Lalu Reproducibility, dimana hasil yang dihasilkan adalah hasil yang konsisten. Sesuai kriteria yang berlaku di standar internasional.
Indah Fitriani Abdulah, Junior Engineer Donggi Senoro, menuturkan dari semua hasil analisa tersebut dilakukan analisa statistik atau statistical quality control.”Semakin repeatability-nya oke hasil yang dihasilkan sama dan reproducibility-nya juga sama maka semakin oke, semakin data itu bisa dipercaya. Jika ada temuan dari tiga kriteria di atas dari repeatability, reproducibility, dari secara statistik hasilnya beda-beda kita akan langsung melakukan corrective action untuk memperbaiki GC tersebut,” jelas Indah.
Jika ditelisik lebih dalam, ternyata belum ada ketentuan baku yang mensyaratkan sebuah lab harus tersertifikasi ISO/ICE 17025:2017. Namun DSLNG memilih untuk memprioritaskan konsumennya yang butuh rasa aman dan kepercayaan atas komponen produk gas yang dibeli. Kepercayaan konsumen jadi yang utama.
Kilang DSLNG tercatat pernah memproduksi sekitar 41 kargo LNG. Dari total tersebut, DSLNG mengalokasikan delapan kargo untuk pasar domestik, sedangkan sisanya dialokasikan untuk pasar ekspor guna memenuhi kontrak jangka panjang. Sementara untuk tahun ini produksi LNG ditargetkan bisa mencapai kapasitas maksimal 2,1 juta ton.
DSLNG dinilai sebagai contoh baik penerapan sistem mutu laboratorium di sektor hilir migas. Akreditasi laboratorium menjadi bagian penting dari upaya perusahaan dalam menjamin keamanan, mutu, dan keandalan produk LNG Indonesia, serta mendukung tujuan nasional untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan industri gas yang ke depan akan semakin tumbuh. (RI)



Komentar Terbaru