DERU mesin motor balap terdengar melengking hingga ke bukit – bukit tandus tanah Mandalika. Raungan knalpot yang terdengar sangat jelas memekakan telinga ketika motor melaju lebih dari 350 km/jam membuat lebih dari 157 ribu pasang mata membeku, terpesona dengan adu cepat di ajang perhelatan terbesar olahraga motor di dunia. 11 Oktober 2026 bumi Mandalika untuk kelima kalinya menggelar Pertamina Grand Prix of Indonesia di Pertamina Mandalika International Circuit. Ini bukan ajang biasa melainkan “lebarannya” para pecinta motor dunia sejak pertama kali diselenggarakan oleh FIM pada 1949. Di sinilah tim dan pembalap terbaik bertarung dengan motor prototipe berteknologi paling mutakhir.
MotoGP di Mandalika punya tempat khusus. Setiap musim, ajang ini selalu jadi magnet super kuat bagi kunjungan berbagai wisatawan dari penjuru dunia. Atmosfer balap sangat terasa ketika kaki mulai menjejak pulau Lombok. Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid disulap jadi miniator sirkuit. Geliat Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 memang sengaja dikondisikan hingga jauh ke luar arena balap. Sejak awal perhelatan ini digelar ada harapan dari masyarakat pulau Lombok untuk ikut merasakan gairah dan semangat balapan dalam bentuk ekonomi yang makin berdenyut kencang.
Dalam kajian pemerintah melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) menunjukkan dampak ekonomi Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 mencapai sekitar Rp2,7 – Rp4,7 triliun. Temuan ini menjadi dasar pengembangan kebijakan pariwisata olahraga (sport tourism) dan industri olahraga nasional.
Estimasi dampak ekonomi yang dihasilkan mencakup dampak langsung, tidak langsung, dan lanjutan (induced impact). Pertamina Grand Prix of Indonesia juga mendukung terciptanya puluhan ribu kesempatan kerja pada tahap persiapan dan penyelenggaraan, dengan manfaat bagi sektor pariwisata, UMKM, transportasi, akomodasi, ekonomi kreatif, dan masyarakat di Nusa Tenggara Barat (NTB). Dari sisi promosi, eksposur media global menghasilkan Advertising Value Equivalency (AVE) sebesar 361,6 juta euro atau sekitar Rp6,9 triliun, yang mencerminkan nilai promosi Indonesia dan Mandalika.
Kementerian PPN/Bappenas dan ITDC menyelenggarakan survei selama MotoGP Mandalika 2025 dengan melibatkan lebih dari 1.800 responden, yang terdiri atas penonton domestik, wisatawan mancanegara, pelaku UMKM, tenaga kerja, dan sponsor. Skor pengalaman penonton (brand equity) mencapai 5,07 dari skala 6.
Survei tersebut juga menunjukkan adanya niat wisatawan untuk kembali berkunjung ke Indonesia. Kajian memperkirakan peningkatan eksposur Mandalika berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan sekitar 11%, apabila didukung promosi destinasi yang terintegrasi.
“MotoGP Mandalika telah memperlihatkan bagaimana sebuah event olahraga kelas dunia mampu memperkuat daya tarik destinasi, meningkatkan kunjungan wisatawan, memperpanjang lama tinggal wisatawan, serta menggerakkan ekonomi lokal. Sinergi sektor pariwisata dengan olahraga akan terus diperkuat sebagai bagian dari pengembangan sport tourism Indonesia,” jelas Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana beberapa waktu lalu sebelum Pertamina Grand Prix of Indonesia digelar.
Dalam survei untuk penyelenggaraan tahun lalu manfaat bagi ekonomi lokal sangat terlihat dari keterlibatan UMKM, peningkatan aktivitas usaha, dan penciptaan kesempatan kerja. Hasil survei mencatat tingkat kepuasan tenaga kerja dan relawan sebesar 5,51 dari skala 6, serta kepuasan keseluruhan pelaku UMKM dan tenant sebesar 5,23.
Sementara itu, ITDC sendiri menggandeng Lembaga Teknik dan Manajemen Industri (LETMI) Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mengetahui dampak ekonomi peyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026. Kajian LETMI–ITB dilakukan sebelum hingga selama penyelenggaraan event dengan menggunakan pendekatan Input-Output berbasis tabel BPS serta pendekatan Keynesian untuk mengukur dampak pengganda ekonomi. Pengeluaran yang diperhitungkan mencakup berbagai kebutuhan pengunjung, mulai dari akomodasi, makanan dan minuman, transportasi lokal, hiburan, wisata, hingga pembelian oleh-oleh.
Dalam kajian tersebut, rata-rata belanja pengunjung tercatat Rp8,56 juta per orang. Penghitungan ini mencakup pengeluaran wisatawan mancanegara sejak sepekan sebelum hingga selama event berlangsung, dengan estimasi total belanja langsung pengunjung mencapai Rp1,35 triliun.
ITDC menyebut angka tersebut perlu dilihat berdasarkan periode pengukuran yang digunakan. Sebagai pembanding, rata-rata belanja pengunjung pada 2023 tercatat sekitar Rp3,5 juta per orang selama periode event. Jika ditotal dampak ekonomi yang dihasilkan dari MotoGP di Mandalika diperkirakan tembus Rp5,2 triliun. Menurut ITDC angka tersebut meningkat dibandingkan tahun lalu sebesar Rp4,96 triliun.

Sumber : ITDC, Diolah : Dunia Energi
Ahmad Fajar, Pelaksana Tugas Direktur Utama ITDC, mengatakan dampak ekonomi dari MotoGP memang sudah terasa sejak sepekan sebelum balapan dimana para wisatawan mulai berdatangan ke Mandalika dan sejumlah destinasi di sekitarnya. Kondisi tersebut tentu mampu menggerakkan sektor akomodasi, kuliner, transportasi, dan usaha lokal.
“Wisatawan domestik dan asing datang lebih awal, menginap, menikmati kuliner, menggunakan transportasi lokal, mengunjungi destinasi wisata, dan membeli oleh-oleh. Aktivitas inilah yang memperluas manfaat ekonomi penyelenggaraan hingga mencapai Rp5,2 triliun,” kata Ahmad Fajar.
UMKM, restoran, warung makan, jasa transportasi, homestay hingga hotel dipastikan ada di barisan paling depan yang terdampak dari perhelatan MotoGP. Itu juga yang membuat Pertamina semangat untuk ambil bagian dalam perhelatan tahunan ini karena menjadi salah satu pintu bagi lahirnya ekosistem baru yang diyakini turut mampu mengangkat dan membuat masyarakat Lombok naik kelas melalui Sport Tourism.
Badan Pusat Statistik (BPS) juga berencana membuat survey khusus mengukur dampak ekonomi penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 guna memotret dampak penyelenggaraan ajang olahraga internasional tersebut terhadap aktivitas ekonomi, baik di Nusa Tenggara Barat maupun di wilayah lain di Indonesia.
Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala BPS RI, menjelaskan pendataan di kawasan Mandalika bukan sekedar untuk menghitung berapa banyak penonton (MotoGP) yang hadir, melainkan juga mengukur lama tinggal serta pola pengeluaran wisatawan, baik mancanegara maupun domestik.
Dia menilai dampak ekonomi Pertamina Grand Prix of Indonesia sangat berpotensi menjangkau wilayah di luar Kabupaten Lombok Tengah yang dapat mendorong aktivitas ekonomi di berbagai destinasi wisata lainnya di NTB, seperti kawasan Gili Tramena, Desa Wisata Sade, serta Senggigi.
Melalui analisis keterkaitan antarwilayah, BPS mengukur bagaimana aktivitas MotoGP menggerakkan sektor-sektor ekonomi dan seberapa luas dampaknya.
“Dampak ekonomi MotoGP tidak berhenti di sekitar sirkuit Mandalika atau bahkan di NTB saja. Mulai dari transportasi, akomodasi, makanan dan minuman, hingga pembelian merchandise, semua melibatkan usaha dari daerah lain. Seperti perjalanan penonton dari Bali dan Surabaya, atau penggunaan kendaraan sewa dan kapal feri,” jelas Amalia di Jakarta (9/10).
Kajian komperehensif dampak ekonomi dari penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia di Pertamina Mandalika Internasional Circuit bakal melibatkan Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, serta pihak penyelenggara dan pengelola kegiatan, termasuk Injourney Tourism Development Corporation (ITDC), Pertamina, dan Dorna Sports. Sementara hasil kajiannya akan dirilis secara terbuka kepada publik pada Maret 2027.
Potensi olahraga di Indonesia begitu besar sehingga bisa dikembangkan menjadi industri yang mendatangkan keuntungan tidak hanya dari sisi prestasi tapi juga bernilai dari sisi ekonomi. Saat bertemu dengan Presiden FIFA Gianni Infantino, di Istana Merdeka pada awal bulan Oktober ini, Presiden Prabowo Subianto menekankan betul bagaimana olahraga bagi Indonesia bukan sekedar mengukir prestasi semata melainkan juga membangun karakter bangsa.
“Bapak Presiden menyampaikan bahwa bola sangat penting, olahraga sangat penting untuk pembangunan karakter bangsa. Karena itu Bapak Presiden punya komitmen penuh untuk membangun olahraga secara nasional di mana ini menjadi bagian penting dalam pembangunan bangsa kita,” jelas Erick Thohir, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) usai dampingi pertemuan Presiden Prabowo dan Presiden FIFA.
Erick Thohir, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) mengungkapkan dalam target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8%, pemerintah juga memproyeksikan adanya andil atau kontribusi dari dari industri olahraga khususnya sport tourism.
“Karena persepsi olahraga di Indonesia hari ini masih menjadi masalah pembiayaan, cost center. Padahal bicara sport industry dan sport tourism tentu tentang pendapatan, investasi,” ujar Erick setelah teken kerja sama nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Danantara pada Agustus lalu.
Rosan Roeslani Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM mengatakan, industri olahraga memiliki potensi yang sangat besar dalam membawa perekonomian ke level yang lebih tinggi. Sementara di Indonesia, sektor olahraga ini belum menjadi suatu industri dan skalanya masih jauh bila dibandingkan dengan negara-negara lain.
Dalam kajian Kemenpora, secara global sport tourism menyumbang pendapatan senilai hampir US$625 miliar atau sekira Rp9.800 triliun, dengan pertumbuhan sekira 8% per tahun.
Indonesia selalu dikenal memiliki sumber daya alam yang diyakini jadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Padahal ada sport tourism yang potensinya juga tidak kalah besar apalagi dengan nilai ekonomi sport tourism dalam skala global US$520 miliar dan terus tumbuh sekitar 25% per tahun maka sudah sepantasnya Indonesia turut serta dalam pengembangan sport tourism tersebut.
Sport tourism di Indonesia terus didorong Kemenpora untuk melalui beragam penyelenggaraan event olahraga berskala nasional maupun dunia karena dipastikan berimbas pada sektor – sektor ekonomi lainnya. “Kita punya sumber daya alam, industrialisasi, tetapi banyak yang terlupakan dengan sport tourism. Belum lagi industri olahraganya yang mencapai US$520 miliar secara global atau Rp8.000 triliun. Dan ini akan tumbuh 25% sampai 2032,” ujar Erick.
Event besar seperti balap motor MotoGP atau balap mobil Formula 1 sudah banyak diincar berbagai negara untuk bisa menyelenggarakannya. Singapura misalnya, menurut Erick sengaja menjadwalkan ajang Formula 1 yang bersamaan dengan MotoGP di Indonesia untuk bisa mendapatkan perhatian para audiens MotoGP juga. “Artinya market kita besar, sehingga event besar kita ditabrak dengan event besar lainnya. Itu realita,” kata Erick.
Pemerintah mengakui adanya peluang pertumbuhan ekonomi melalui penyelenggaraan event olahraga. Teddy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet (Seskab) menjelaskan bahwa Presiden Prabowo menilai adanya peluang pertumbuhan ekonomi baru yang dapat didorong oleh kegiatan bertaraf internasional termasuk di bidang olahraga. Perhelatan MotoGP tentu jadi salah satu agenda internasional yang masuk dalam radar pemerintah untuk terus diselenggarakan.
“Peluang pertumbuhan ekonomi baru yang dapat didorong oleh Danantara, termasuk penguatan sektor pariwisata melalui penyelenggaraan event olahraga, konser musik, hingga industri kreatif yang mampu menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, dan meningkatkan perputaran ekonomi nasional,” kata Teddy usai mengikuti rapat bersama Presiden dan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Roeslani, Juni lalu.
Orkrestarsi Melahirkan Multiplier Effect MotoGP
Dampak ekonomi jadi salah satu alasan terbesar bagi Pertamina untuk “all out” mendukung diselenggarakannya MotoGP di tanah air. Ibarat kata, sekali dayung dua tiga pulau terlewati. Manajemen sadar betul balapan sekelas MotoGP diperlukan sebagai strategi tidak biasa untuk menciptakan multiplier effect yang bisa dirasakan bukan hanya bagi brand dan nama perusahaan tapi bagi masyarakat.
Keterlibatan Pertamina di MotoGP dibangun bertahap. Pada 2021, Pertamina menjadi Official Main Sponsor tim VR46 milik Valentino Rossi, sebuah langkah awal yang membawa nama perusahaan energi nasional ke paddock MotoGP.
Sepanjang 2022 hingga 2026, MotoGP menjadi platform Pertamina untuk meningkatkan awareness dan memperkuat positioning merek di tingkat internasional. Pertamina memegang hak nama sirkuit sehingga lintasan di Lombok dikenal sebagai Pertamina Mandalika International Circuit. Pertamina juga memegang hak nama acara, Pertamina Grand Prix of Indonesia. Selain dari sisi brand nama, Pertamina juga berkesempatan memperluas pengenalan produk pelumas sebagai pendukung tim, yang kini berlaga dengan nama Pertamina Enduro VR46 Racing Team.
“Bahkan oli yang digunakan VR46 Racing Team menggunakan produk Pertamina Lubricants, itu tidak mudah karena harus bisa memenuhi syarat khusus yang akhirnya bisa diwujudkan Pertamina,” cerita Arya Dwi Paramitha, Sekretaris Perusahaan Pertamina kepada Dunia Energi disela Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Minggu (12/10).
Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 adalah wujud dukungan Pertamina bagi kemajuan motorsport nasional. Sebagai perusahaan energi nasional, Pertamina hadir untuk mendukung motorsport sekaligus mendorong sport tourism yang menggerakkan perekonomian.
Sebagai perusahaan minyak, Pertamina kata Arya tentu memiliki kepentingan untuk meningkatkan brand produknya di mata dunia. Ajang MotoGP jadi etalase paling tepat untuk melakukan itu. Pertamina membangun asosiasi mereknya dengan tiga nilai antara lain performance, inovasi, dan sustainability. Semangat itu dirangkum dalam satu tema, Energizing Indonesia, yang diwujudkan melalui empat peran utama Pertamina di MotoGP.
Pertama, menjaga energi tetap mengalir. Ajang kelas dunia membutuhkan kepastian energi. Pertamina mendukung mobilitas masyarakat dan kelancaran MotoGP melalui kesiapan pasokan serta distribusi BBM, LPG, dan avtur. Layanan energi disiagakan di sepanjang jalur menuju Mandalika dan di simpul-simpul transportasi. SPBU siaga melayani pengunjung, sementara suplai avtur menopang penerbangan yang membawa penonton ke Lombok.
Dukungan ini tidak berdiri sendiri. Pertamina mensinergikan layanan energinya dengan Pelita Air untuk transportasi udara, Patra Jasa untuk akomodasi di camping ground, dan MyPertamina untuk layanan digital di lingkungan MotoGP bahkan di berbagai UMKM mitranya di sekitar Lombok.
Melalui MyPertamina Your Journey Partner, konsumen juga dapat menikmati berbagai program, mulai dari transaksi Pertamax Turbo, pengumpulan dan penukaran poin dengan merchandise, racing games, hingga berbagai penawaran melalui Promo & Loyalty Map yang menghubungkan pengguna dengan mitra di bandara, kawasan Mandalika, hingga Mataram. Pengalaman di sirkuit juga diperkuat melalui MyPertamina Experience Zone yang menghadirkan booth interaktif dan berbagai aktivitas engagement. Hasilnya kini MyPertamina memiliki momentum untuk jadi salah satu layanan digital terintegrasi utama yang mampu memberikan pengalaman dan manfaat ekonomi digital masyarakat.
Selanjutnya adalah membawa nama Indonesia ke panggung global. Perhelatan MotoGP tentu disaksikan audiens di seluruh dunia. Pertamina memanfaatkan panggung ini untuk memperkenalkan Pertamina sekaligus Indonesia, menunjukkan kapabilitas, dan menumbuhkan kebanggaan nasional.
Title sponsorship atas Pertamina Grand Prix of Indonesia dan kolaborasi bersama Pertamina Enduro VR46 Racing Team jadi cara Pertamina dalam mengemban peran tersebut. VR46 Racing Team bahkan tampil dengan special livery bernuansa Indonesia. Tahun ini tema yang diambil adalah Garuda dan Merah Putih.
Selain itu, Pertamina juga memberi dukungan kepada pembalap nasional yaitu Mario Aji dan Veda Ega, membawa nama Indonesia di kelas Moto2 dan Moto3, menjadi bukti bahwa talenta Tanah Air mampu bersaing di level dunia. “Jadi kehadiran Pertamina juga bisa dirasakan mendukung para generasi muda yang membawa nama Indonesia di panggung dunia,” ungkap Arya.
Peran berikutnya adalah menggerakkan ekonomi daerah. Momentum MotoGP juga memperkuat daya tarik Mandalika sebagai destinasi. Pertamina mendukung momentum ini agar manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.

UMKM Mitra Binaan Pertamina dipadati para penonton Pertamina Grand Prix of Indonesia. (Foto/Dok/Dunia Energi)
Momentum pengenalan UMKM dimanfaatkan betul oleh Pertamina dengan memboyong para mitra UMKM untuk menjajakan barang dagangannya di sekitar paddock. Total ada 31 mitra yang digandeng mulai dari kuliner hingga produk buah tangan atau oleh-oleh. Selama tiga hari pelaksanaan Pertamina Grand Prix of Indonesia total penjualan dari 31 UMKM mencapai lebih dari Rp 800 juta.
Komang Sri (35), Terapis Bali Ayu Nature jadi salah satu tenant UMKM mitra Pertamina yang mengisi kemeriahan MotoGP. Dia menceritakan antusiasme para penonton balapan ternyata langsung dirasakan para mitra yang diajak berkolaborasi dengan Pertamina. “Hanya beberapa hari sudah ada ratusan pengungjung, kebanyakan membeli minyak aroma terapi,” cerita Sri saat ditemui Dunia Energi.
Lalu Abdul Fatah (38), pemilik Brownyezz menuturkan mengaku sangat bersyukur bisa terlibat dalam pagelaran MotoGP karena untuk bisa bergabung juga ada penilaian tersendiri dan diseleksi melalui Rumah BUMN Lombok Timur. “Exposure branding di MotoGP luar biasa, ini sama saja upgrade perusahaan,” cerita Abdul Fatah sumringah.
Peningkatan pemasukan dari jualan berbagai macam brownies dan cookiesnya sangat signifikan, biasanya per hari hanya berkisar Rp300 – Rp500 ribu selama MotoGP bisa mencapai Rp3 juta sampai Rp5 juta. Menurut Abdul para pembeli justru datang dari mancanegara sehingga jadi nilai plus keberlanjutan usahanya pasca MotoGP. “ Wisata mancanegara repeat order. Ada peningkatan permintaan dari media sosial dan online,” ungkap Abdul.
Sama halnya dengan Brownyezz, masakan rumahan Ibu Wardiatun (55) juga jadi primadona di area festival Pertamina Mandalika International Circuit. Omsetnya bahkan tembus Rp6-Rp10 juta per hari. Angka yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. “Saya jualannya soto, nasi, buah, salad buah, itu omset pertama Rp 6 juta, hari kedua Rp 10 juta, ini terakhir mudah-mudahan tembus Rp 10 juta lagi,” kata Wardiatun.
Binaan Pertamina di sekitar kota Mataram yang notabena jaraknya cukup jauh dari lintasan balap juga “kecipratan” berkah MotoGP. Mina Tenun dari desa Sukarasa, Lombok Tengah adalah mitra binaan Pertamina Patra Niaga (PPN) yang mendapatkan tempat khusus di arena lintasan balap.
Sudiman (55), Local Hero Mina Tenun menceritakan dari MotoGP ini pemasarannya sangat luas, tidak hanya pengunjung datang banyak ke desa-nya tapi Mina Tenun punya tempat khusus saat balapan langsung.
“MotoGP pengaruh sekali ke penjualan, penerimaan lebih bertambah lagi, ada stand galeri barang-barang kita. Kalau selama MotoGP omset itu sudah Rp 68,8 juta. Biasanya rata-rata Rp 2 juta per hari,” cerita Sudiman.

Penenun dari Mina Tenun Desa Sukarasa berkesempatan memasarkan produknya di Pertamina Grand Prix of Indonesia di Pertamina Mandalika International Circuit. (Foto/Dok/Dunia Energi)
Pertamina memang terlihat bergerak lebih spartan dalam MotoGP tahun ini dengan berbagai akselerasi program berbasis kemasyarakatan yang menunjang cita-cita besar membentuk ekosistem Sport Tourism di Pulau Lombok dan di sekitar Mandalika pada khususnya.
Salah satu program yang diusung di luar lintasan balap adalah adalah pelatihan hospitality, manajemen homestay, hingga kemampuan berbahasa Inggris bagi para pengelola dan pekerja homestay di Mandalika. Desa Kuta, Lombok merupakan wilayah yang berada paling dekat atau ring 1 dengan Pertamina Mandalika International Circuit sehingga menjadi salah satu perhatian Pertamina untuk ikut mendukung keberlangsungan event sekaligus mendapatkan manfaat ekonominya.
Selain pelatihan hospitality dan bahasa Inggris, Pertamina juga membantu masyarakat mengembangkan pengelolaan sampah melalui bank sampah. Sampah anorganik dapat diolah menjadi produk bernilai tambah seperti kerajinan dan tas, sementara sampah organik dimanfaatkan menjadi pupuk. Pengumpulan sampahnya juga didukung oleh sepeda motor listrik dan mendapat pasokan energi dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp yang terpasang di Balai Desa Kuta, serta rumah baterai berkapasitas 20 kWh yang berfungsi sebagai sumber pengisian daya. Program tersebut menjadi bagian dari Desa Energi Berdikari Pertamina yang menggabungkan edukasi mengenai potensi energi, pemanfaatan energi, hingga pengembangan aktivitas ekonomi masyarakat berbasis energi bersih.
Arya berharap berbagai program tersebut dapat membuat manfaat Pertamina Grand Prix Of Indonesia tidak berhenti ketika balapan selesai. Sebab, menurutnya, wisatawan tidak hanya datang ketika event berlangsung, tetapi juga berkunjung ke Mandalika sepanjang tahun.
“Setelah MotoGP kan turis yang datang ke sini kan setiap hari. Artinya mereka juga bisa mengelola itu menjadi hal yang menarik. Nah, ini yang tentunya kita latih dan kita edukasi sekarang,” cerita Arya kepada Dunia Energi.
Salah satu pemilik homestay, Bani menceritakan peningkatan permintaan kamar langsung terasa sepekan sebelum balapan resmi dimulai, padahal biasanya musim wisatawan menurun pada Oktober. Pertamina Grand Prix Of Indonesia membuat tingkat hunian homestay di Kuta dan sekitarnya justru meningkat signifikan. Pada kondisi normal, tarif kamar di homestay miliknya berkisar Rp350 ribu hingga Rp500 ribu per malam. Namun, tingginya permintaan selama periode MotoGP membuat tarif mengalami penyesuaian. “Jadi kita menaikkan sedikit harga dari harga pada umumnya,” ujar Bani, pemilik Mong Bungalows, (9/10).
Bagi pelaku homestay lainnya, dampak ekonomi yang dirasakan bahkan lebih besar. Reddy Mardani staf Mango Room Mandalika, mengatakan harga kamar yang biasanya dipatok sekitar Rp600 ribu per malam meningkat hingga Rp2 juta selama balapan. “Walaupun event-nya hanya tiga hari, kami bisa menjualnya mungkin tiga kali lipat. Kami menjual dengan harga Rp2 juta per malam dan itu laku semua,” kata Reddy.
Dari Kamar Penginapan Hingga Meja Makan, Jadi Bagian dari Panggung Dunia
Perputaran ekonomi juga menjalar ke sektor kuliner. Di Lombok, rumah makan menjadi salah satu tempat yang merasakan langsung perubahan aktivitas selama penyelenggaraan ajang balap.
Nurul, kasir Rumah Makan Sate Rembiga Ibu Hj. Sinnaseh, mengatakan penjualan melonjak ketika Pertamina Grand Prix of Indonesia berlangsung. Jika hari normal penjualan sate sudah sekitar 1.500 porsi per hari. Kenaikannya bisa sampai dua kali lipat dari hari normal dan bisa berlangsung selama sekitar sepekan sebelum dan setelah balapan.
“Kalau ada Pertamina GP ini bisa dua kali lipat dari hari biasanya, dan bisa berlangsung selama semingguan nonstop dan penuh. Kami juga dapat berkah tambahan bonus,” kata Nurul (10/10).
Pengalaman serupa dirasakan Resto Sop Buntut Ibu Hong di Mataram. Menjelang puncak kegiatan pada 9–11 Oktober, pemilik usaha tersebut telah menyiapkan stok bahan makanan untuk mengantisipasi peningkatan jumlah pelanggan. “Setiap hari ramai juga, tapi saat ada Pertamina GP ini pengunjung yang makan jadi dobel,” cerita Ibu Hong (10/10).
Kehadiran sirkuit dan berbagai kegiatan yang diselenggarakan di dalamnya turut memberikan peluang tambahan bagi usahanya. Bagi pelaku kuliner, semakin banyak kegiatan di Mandalika berarti semakin besar pula peluang untuk memperoleh pesanan dari pengunjung, pekerja, maupun wisatawan yang datang ke Lombok. “Alhamdulillah semenjak ada sirkuit, kami senang. Karena setiap ada kegiatan di sirkuit, kita juga jadi kecipratan berkahnya,” katanya.
Manfaat penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia juga dirasakan warga yang terlibat langsung dalam operasional kegiatan. Bagi mereka, ajang internasional ini membuka kesempatan untuk memperoleh pendapatan sekaligus pengalaman baru.
Julian Hariadi, warga Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, menjadi salah satu contohnya. Pada penyelenggaraan 2026, ia untuk pertama kalinya bertugas sebagai marshal dalam ajang MotoGP setelah sebelumnya terlibat dalam berbagai kegiatan balap lainnya.
Sebagai marshal, Julian membantu mengevakuasi motor pembalap yang mengalami insiden di lintasan menuju jalur servis. Tugas tersebut memberinya kesempatan untuk berkontribusi langsung dalam penyelenggaraan ajang internasional di daerah kelahirannya.
“Saya dapat pengalaman baru, bertemu banyak teman, dan bisa bekerja langsung di sirkuit. Harapannya, kegiatan seperti ini terus ada agar masyarakat lokal bisa ikut berkontribusi,” cerita Julian.
Dari homestay di Desa Kuta, rumah makan di Lombok dan Mataram, hingga warga yang bertugas di sirkuit, cerita Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 memperlihatkan bagaimana ajang olahraga internasional dapat menggerakkan beragam lapisan ekonomi lokal.
Namun, tantangan berikutnya adalah menjaga agar manfaat tersebut tidak hanya terkonsentrasi selama tiga hari balapan. Kenaikan tarif kamar, peningkatan penjualan makanan, dan tambahan pendapatan pekerja merupakan dampak yang dapat dirasakan dalam jangka pendek. Dengan berbagai program yang diusung Pertamina menargetkan manfaat jangka panjang dari MotoGP dari kualitas pelayanan wisatawan, perluasan pasar, serta menjadikan Lombok sebagai tujuan wisata di luar kalender balap bisa terwujud.
Bagi masyarakat Mandalika, keberadaan sirkuit telah membuka ruang baru untuk terlibat tidak hanya sport tourism tapi juga dalam lingkup lebih luas di industri pariwisata. Kesempatan itu akan semakin berarti ketika warga tidak hanya menjadi penonton atau pekerja sementara, tetapi juga mampu mengembangkan usaha, meningkatkan kompetensi, dan mengambil peran lebih besar dalam rantai ekonomi pariwisata.
Pertamina berharap dukungan terhadap sport tourism dapat terus memperluas peluang tersebut, melalui keterlibatan tenaga kerja lokal, penguatan UMKM, peningkatan keterampilan, serta dukungan energi bagi kegiatan ekonomi masyarakat.
Mimpi besar sport tourism di Mandalika bukan semata-mata menghadirkan balapan kelas dunia setiap tahun. Mimpi itu juga tentang bagaimana deru mesin di lintasan dapat menghidupkan usaha di luar sirkuit, membuka lapangan kerja bagi warga, dan menciptakan ekosistem pariwisata yang manfaatnya terus mengalir bahkan ketika bendera finis telah diturunkan. (RI)





Komentar Terbaru