JAKARTA – Batu bara telah lama dikenal sebagai salah satu sumber energi yang digunakan untuk pembangkit listrik dan berbagai kegiatan industri. Namun, ada jenis batu bara yang memiliki fungsi berbeda, yakni batu bara metalurgi (metallurgical coal), yang menjadi salah satu bahan penting dalam proses produksi besi dan baja.
Batu bara metalurgi digunakan untuk menghasilkan kokas (coke), material kaya karbon yang punya peran penting dalam proses pembuatan besi melalui tanur tinggi (blast furnace). Kokas membantu menyediakan panas, mendukung reaksi kimia untuk mengolah bijih besi, dan menjaga struktur material selama proses berlangsung. Kualitas batu bara metalurgi tidak hanya ditentukan oleh nilai kalorinya. Sejumlah karakteristik lain, seperti kadar abu, sulfur, fosfor, serta kemampuan batu bara untuk membentuk kokas, turut menentukan kesesuaiannya untuk digunakan dalam proses produksi baja.
Guru Besar Pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus Ketua Indonesia Mining Institute (IMI), Prof. Irwandy, menjelaskan bahwa batu bara metalurgi memiliki fungsi berbeda dengan batu bara termal yang digunakan untuk pembangkit listrik. “Jadi kalau kita lihat, batu bara metalurgi jadi kokas, kemudian menjadi besi baja. Batu bara termal dibakar masuk ke PLTU, jadi listrik. Batu bara metalurgi dapat menggantikan batu bara termal, tetapi tidak sebaliknya. Itu penting sekali,” kata Irwandy dalam Media Briefing bersama Borneo Prima bertajuk “Batu Bara Metalurgi Indonesia: Peluang di Balik Industri Baja”, di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Lebih lanjut Irwandy menjelaskan, secara teknis batu bara metalurgi bisa digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) untuk menghasilkan listrik dengan cara dicampur hingga menghasilkan kalori sesuai kebutuhan PLTU. Namun, secara ekonomi hal tersebut jarang dilakukan karena harga batu bara metalurgi jauh lebih mahal.
“Sebaliknya batu bara termal tidak bisa dipakai untuk produksi baja karena tidak punya sifat coking untuk menjadi kokas, dan kadar abu serta sulfurnya lebih tinggi. Jadi hubungannya satu arah,” imbuh dia.
Sebagai salah satu bahan baku penting dalam produksi besi dan baja, prospek batu bara metalurgi berkaitan erat dengan perkembangan industri baja global. Permintaan dari sektor konstruksi, infrastruktur, otomotif, perkapalan, hingga manufaktur turut memengaruhi kebutuhan terhadap baja dan, pada akhirnya, bahan baku yang digunakan dalam proses produksinya.
Data World Steel Association (WSA) menunjukkan produksi baja mentah dunia pada 2025 mencapai sekitar 1,85 miliar ton, dengan sekitar 52% penggunaan baja global berasal dari sektor konstruksi.
Ketua Komite Minerba Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Hendra Sinadia, mengatakan prospek batu bara metalurgi masih ditopang oleh kebutuhan industri baja global, sementara pasokan dari sejumlah negara produsen utama relatif terbatas. “Prospek industri coking coal atau batu bara metalurgi dinilai positif dan menjanjikan, didorong oleh tingginya permintaan dari industri baja global serta keterbatasan pasokan di beberapa negara produsen utama.
Menurut International Energy Agency (IEA), permintaan batu bara metalurgi diproyeksikan stabil pada 2026 dan mengalami sedikit peningkatan pada 2027, ujar Hendra.
Berdasarkan data WSA, proyeksi permintaan baja secara global naik sedikit dari 1,718 miliar ton pada 2025 menjadi 1,722 miliar ton pada 2026. Angka permintaan baja kemudian diprediksi meningkat tipis 1,7 persen menjadi 1,752 miliar ton pada 2027.
Peluang Indonesia dalam Batu Bara Metalurgi
Indonesia memiliki potensi untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok batu bara metalurgi. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2025, Indonesia memiliki sekitar 2,12 miliar ton sumber daya batu bara metalurgi dan sekitar 490 juta ton cadangan, dengan salah satu wilayah potensial berada di Kalimantan Tengah.
Salah satu perusahaan yang mengembangkan batu bara metalurgi di wilayah tersebut adalah PT Borneo Prima (BP), yang mengoperasikan tambang di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, dengan wilayah konsesi sekitar 15.000 hektare.
Chief Financial Officer Borneo Prima, Ilham Nugraha, mengatakan bahwa basis sumber daya dan cadangan yang dimiliki perusahaan menjadi landasan bagi pengembangan operasi dalam jangka panjang, sesuai dengan standar pelaporan sumber daya dan cadangan tambang yang disusun oleh Joint Ore Reserve Committee (JORC). Standar ini membantu memastikan informasi disampaikan secara transparan dan berdasarkan penilaian ahli yang kompeten.
“Borneo Prima memiliki sumber daya (resource) dan cadangan (reserve) yang cukup mencukupi untuk produksi sampai beberapa puluh tahun ke depan. Hasil JORC kami tahun 2026 itu total reserve kami adalah 87,7 juta ton dengan total resource sekitar 202 juta ton,” jelas Ilham.
Dari sisi produk, batu bara metalurgi Borneo Prima memiliki karakteristik kadar abu yang relatif rendah, yakni 4-8% serta kandungan fosfor yang sangat rendah pada level kurang dari 0,005%.
Karakteristik tersebut memungkinkan produk Borneo Prima digunakan dalam proses coal blending, yakni pencampuran beberapa jenis batu bara untuk memperoleh karakteristik produk yang sesuai dengan kebutuhan teknis dan ekonomis produsen baja.
Sejalan dengan itu, Ilham juga menyampaikan bahwa perusahaan mengoperasikan fasilitas coal washing plant untuk membantu menjaga konsistensi kualitas produk dan menyesuaikan spesifikasi dengan kebutuhan pelanggan.
“Fasilitas pencucian batu bara (washing plant) kami berkapasitas 1,5 juta ton dan mampu menurunkan kadar abu sesuai spesifikasi pelanggan. Nantinya, fasilitas ini akan menerapkan pemulihan air sebesar 99% tanpa pembuangan air limbah proses (zero effluent discharge) untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi dampak lingkungan. Kami juga akan menggunakan tenaga surya hibrida untuk mendukung operasional fasilitas ini,” tambah Ilham.
Dalam pengembangan bisnisnya, Borneo Prima didukung oleh IMR Group, grup perusahaan global dengan pengalaman dalam perdagangan komoditas dan aktivitas rantai pasok lintas negara, termasuk komoditas yang berkaitan dengan industri besi dan baja.
Director Marketing & Commercial Borneo Prima, Animesh Misra, menyampaikan bahwa dukungan IMR Group mencakup aspek permodalan, keahlian teknis, serta hubungan dengan pasar dan pelanggan. “Secara global, IMR Group memiliki lebih dari 22.000 karyawan, sementara aktivitas perdagangannya mencapai lebih dari 30 juta ton per tahun, dengan dukungan lebih dari 500 kapal yang disewa setiap tahunnya. Jejak operasi IMR mencakup berbagai pasar di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika, dengan bisnis mulai dari batu bara metalurgi dan bijih besi hingga limestone, logam, dan produksi stainless steel,” ungkapnya.
Menurut Animesh, pengalaman dan jaringan tersebut memberikan Borneo Prima akses terhadap pengetahuan pasar, hubungan dengan pelanggan, serta pemahaman mengenai bagaimana berbagai komoditas digunakan di sepanjang rantai nilai industri baja.
Posisi Indonesia yang relatif dekat dengan sejumlah pasar baja utama di Asia, termasuk Tiongkok dan India, juga memberikan peluang bagi produsen batu bara metalurgi nasional untuk memperluas akses pasar. Ke depan, Borneo Prima berfokus pada peningkatan produksi secara bertahap, optimalisasi infrastruktur, peningkatan efisiensi operasional, serta perluasan basis pelanggan. Perusahaan juga menempatkan pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari pengembangan bisnisnya.(RA)




Komentar Terbaru