Di tepian Sungai Mahakam, kehidupan masyarakat pesisir sejak lama bergantung pada sungai. Air menjadi jalur transportasi, sumber pangan, sekaligus ruang hidup yang menyatukan masyarakat dengan alam. Di sungai sepanjang 920 kilometer inilah hidup Pesut Mahakam, mamalia air tawar endemik Kalimantan Timur yang kini berstatus sangat terancam punah. Namun bagi warga pesisir Mahakam, Pesut bukan sekadar satwa langka. Kehadirannya perlahan berubah menjadi sumber harapan ekonomi baru bagi masyarakat desa.

Selama bertahun-tahun, Pesut Mahakam hidup berdampingan dengan warga di sekitar Kutai Kartanegara hingga Samarinda. Nelayan tradisional bahkan menjadikan kemunculan Pesut sebagai penanda keberadaan ikan di sungai maupun danau sekitar Mahakam. Ketika Pesut muncul di wilayah tertentu, para nelayan percaya di lokasi itu terdapat ikan Haruan, Lais, maupun Kendia dalam jumlah melimpah.

Hubungan emosional antara manusia dan Pesut sudah tumbuh turun-temurun. Namun perkembangan zaman membawa ancaman serius terhadap populasi Pesut Mahakam. Aktivitas penangkapan ikan menggunakan alat berbahaya, meningkatnya lalu lintas kapal, utamanya pengangkut batu bara yang jadi salah satu faktor utama pencemaran sungai menyebabkan populasi Pesut terus tertekan.

Di tengah ancaman itu, masyarakat Desa Pela justru melihat peluang baru. Kesadaran untuk menjaga Pesut berkembang menjadi gerakan ekonomi berbasis konservasi yang perlahan mengubah wajah desa pesisir Mahakam.

Alimin Azarbaijan, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bekayuh, Baumbai, dan Bebudaya (B3) Desa Pela, pernah menceritakan kepada Dunia Energi bahwa masyarakat pesisir Mahakam khususnya di sekitar Desa Pela mulai memahami bahwa menjaga Pesut bukan hanya soal melestarikan satwa, tetapi juga membuka sumber penghasilan baru bagi warga.

Masyarakat disadarkan dengan adanya perkembangan zaman sehingga dirasa perlu ada upaya ekstra tidak hanya untuk mempertahankan harmoni yang sudah terjalin tapi meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kehadiran Pesut dalam kehidupan sehari-hari mereka serta apa yang bisa didapatkan jika populasi Pesut Mahakam dijaga maka akan ada bonus potensi ekonomi dari keharmonisan hubungan tersebut.

“Kita lihat potensi desa Pela sangat unik, saya ajak anak muda lulusan SMA bikin kelompok ini tahun 2017. SK dikeluarkan pemerintah kabupaten, dinas pariwisata kelompok sadar wisata. Pada dasarnya Pokdarwis tidak hanya wisata tapi juga lingkungan,” cerita Alimin.

Diinisiasi Pokdarwis dikembangkan konsep wisata berbasis konservasi Pesut Mahakam. Rumah-rumah warga disulap menjadi homestay untuk wisatawan yang datang melihat habitat Pesut secara langsung. Dampaknya terasa nyata bagi ekonomi masyarakat.

“Rumah warga kita jadikan homestay, uangnya langsung untuk pemilik rumah. Jadi manfaat wisata lingkungan benar-benar dirasakan masyarakat,” cerita Alimin.

Tidak hanya homestay, warga juga memperoleh tambahan penghasilan dari jasa transportasi sungai, pemandu wisata, hingga penjualan produk olahan ikan khas pesisir Mahakam. Kapal milik nelayan yang sebelumnya hanya digunakan mencari ikan kini dimanfaatkan membawa wisatawan menyusuri Sungai Mahakam untuk melihat Pesut di habitat aslinya.

Perubahan itu menciptakan sumber ekonomi baru yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan masyarakat. Konservasi yang dahulu dianggap membatasi aktivitas warga, kini justru menjadi pintu penggerak ekonomi desa.

Dampak ekonomi dari pengelolaan wisata konservasi mulai terlihat signifikan. Sepanjang 2024, Pokdarwis mencatat kunjungan wisatawan ke Desa Pela mencapai 4.998 orang. Penghasilan warga dari homestay mencapai Rp26 juta per tahun, sementara pendapatan kelompok pengelola wisata menembus Rp258 juta.

Sebanyak 67 warga kini terlibat langsung dalam pengelolaan wisata desa. Sebagian menjadi pemandu wisata, operator perahu, pengelola homestay, hingga pengrajin produk lokal. Bahkan tiga warga sudah mampu berbahasa Inggris untuk melayani wisatawan mancanegara.

Transformasi ekonomi masyarakat juga berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sejumlah anggota Pokdarwis kini dipercaya menjadi perangkat desa, termasuk bagian khusus konservasi Pesut Mahakam.

“Sekarang ada 16 orang dari desa yang diangkat menjadi staf desa, bahkan ada bagian konservasi Pesut,” ungkap Alimin.

Perubahan pola pikir masyarakat pesisir menjadi salah satu faktor penting keberhasilan program konservasi. Nelayan mulai menggunakan alat tangkap yang lebih aman bagi Pesut, sekaligus memahami bahwa keberlangsungan populasi Pesut berkaitan langsung dengan masa depan ekonomi desa mereka.

Apa yang terjadi di Desa Pela bukan hal yang instan tapi berkat dedikasi tinggi para warga yang peduli serta utamanya adalah inisiatif dari PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) melalui program Konservasi Endemik Pesut Mahakam atau Komik Pesut Mahakam yang mulai dikenalkan ke warga sejak tahun 2018.

Sekilas program ini terlihat hanya untuk menyelamatkan Pesut, padahal dibalik itu ada tujuan besar lain  yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Penguatan ekonomi masyarakat melalui pelatihan wisata, pengembangan homestay, pengolahan produk pesisir, hingga pemberdayaan nelayan.

Sunaryanto, Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), mengatakan pengembangan Desa Pela dilakukan dengan memadukan konservasi Pesut dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Melalui program Komik Pesut, PHI memperkenalkan teknologi pinger akustik pada jaring ikan untuk mengurangi risiko Pesut terjerat rengge. Alat ini berbasis gelombang ultrasonik yang dipasang pada jaring nelayan dan digunakan dengan meyesuaikan gelombang ultrasonik pada frekuensi 50-120KHz dengan kebisingan125 desibel yang kemudian dapat ditangkap oleh pesut, sehingga mereka mampu menjauhi jaring nelayan atau rengge sejauh radius 10-20 meter. Teknologi ini terbukti efektif menekan kematian Pesut akibat jaring nelayan dari sebelumnya 66 persen menjadi nol persen di sekitar Desa Pela.

Kehadiran Pokdarwis juga sangat krusial. Harmoni ini melahirkan gerakan untuk memastikan keamanan habitat Pesut Mahakam. Bersama yayasan RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia) serta pemerintah daerah setempat Pokdarwis rutin melakukan patroli, pengamatan dan pengawasan Pesut Mahakam.

Program Komik Pesut Mahakam dijalankan melalui lima fase. Pertama inisiasi pada tahun 2018 hingga 2021 yang terdiri dari studi pinger akustik, survei kualitas air dan jumlah populasi Pesut, kampanye lingkungan, revitalisasi stasiun pantau Pesut serta pembangunan museum nelayan dan landmark desa.

Fase selanjutnya adalah fase penguatan yang dijalankan sejak tahun 2022-2023 terdiri dari penetapan status sebagai kawasan konservasi perairan Wilayah Mahakam Tengah, Pemasangan signboard edukasi area konservasi Pesut, penyediaan kapal transportasi untuk pantau dan perlindungan Pesut, inovasi Pinger Akustik serta pembentukan Pesut Ranger.

Kemudian fase pengembangan berjalan pada tahun 2023-2024 yang terdiri dari bantuan alat tangkap nelayan ramah lingkungan, pelatihan pelaku wisata lokal (guide, homestay, kerajinan, dsb), survei populasi Pesut, penambahan pinger akustik ,pengelolaan sampah organik dan anorganik, penerbitan Peraturan Desa Tentang Konservasi Pesut.

Untuk fase keempat adalah fase replikasi yang dijalankan pada tahun 2024 hingga tahun 2025. Dalam fase ini dilakukan survei populasi Pesut, penguatan pengelolaan hasil budidaya perikanan, pelatihan produk lokal olahan pesisir, pelatihan lingkungan hidup guru pesisir dan replikasi Inovasi Pinger Akustik.

Untuk fase penutup atau terakhir dalam program adalah kemandirian yang sudah dimulai pada tahun ini hingga tahun 2026. “Fase ini menitikberatkan pada penciptaan kemitraan strategis dan pengembangan ekonomi mandiri (kriya kayu dan batik Pesut) serta mewujudkan Desa Pela menjadi destinasi wisata berbasis konservasi yang berkelanjutan,” jelas Sunaryanto.

Apa yang terjadi di desa Pela menunjukkan bahwa kehadiran industri migas di Bumi Mahakam bukan sekedar untuk berburu cadangan migas tapi bisa juga menjadi jembatan antara ekonomi yang mensejahterkan masyarakat dengan keberlanjutan lingkungan. Dari pesisir Mahakam kita bisa bejalar, menjaga Pesut kini bukan lagi sekadar kewajiban moral kita sebagai manusia. Kehadiran Pesut terbukti mampu menciptakan perputaran ekonomi baru yang memberi manfaat langsung bagi warga.

Rosenda Chandra Kasih, Head Kalimantan Programme, WWF Indonesia mengungkapkan pengembangan eduwisata memang lebih efektif bila disertai alternatif mata pencaharian berkelanjutan. Kampanye penggunaan alat tangkap ramah pesut, serta peningkatan kesadaran untuk tidak membuang limbah ke sungai.

Dia menilai strategi yang diusung Pertamina dengan menggandeng masyarakat untuk dalam menjaga kelestarian Pesut Mahakam bisa jadi salah satu solusi yang sudah lama dinantikan untuk memastikan upaya pelestarian Pesut Mahakam tetap berjalan. “Strategi ini berpotensi baik, terutama jika dikombinasikan dengan upaya pemberdayaan masyarakat yang menyasar ancaman utama terhadap habitat dan populasi pesut Mahakam,” kata Rosenda kepada Dunia Energi beberapa waktu lalu.

Kegiatan perusahaan migas identik dengan penggunaan lahan serta hampir dipastikan mengalami perubahan fungsi lingkungan. Keberlanjutan kehidupan dari Pesut Mahakam bisa jadi bukti bahwa industri migas tidak melulu identik dengan perubahan yang cenderung negatif tapi juga positif termasuk memberikan dampak positif dari sisi ekonomi masyarakat.

Tri Budhi Soesilo, Pengamat ESG sekaligus Akademisi Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, mengungkapkan citra perusahaan di mata publik dewasa ini memang sudah menjadi barang mahal. Karena bagaimanapun juga penilaian masyarakat jadi tolak ukur keberhasilan perusahaan dalam menjalankan operasinya. Bagi perusahaan yang bergerak di bidang yang menguasai hajat hidup orang banyak,  penerimaan masyarakat adalah komponen keberhasilan bisnis yang tidak bisa ditawar.

“Urgensi keterlibatan perusahaan terkait dengan upaya konservasi pesut Mahakam memang tidak secara langsung menguntungkan dari segi finansial, tetapi keterlibatan itu adalah wujud kepedulian dan secara tidak langsung menaikkan citra perusahaan yang dianggap ramah lingkungan,” kata Tri Budhi

Di tengah ancaman terhadap lingkungan Sungai Mahakam, harmoni antara industri migas dan masyarakat Desa Pela menunjukkan bahwa konservasi dan kesejahteraan masyarakat tidak harus saling bertentangan. Justru ketika lingkungan dijaga, peluang ekonomi baru bisa tumbuh.

Pesut Mahakam mungkin memang satwa langka yang sulit ditemukan. Namun bagi masyarakat pesisir Mahakam, keberadaannya kini menjadi simbol harapan bahwa harmoni antara manusia dan alam dapat menghadirkan masa depan yang lebih baik.