JAKARTA – PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Subholding Upstream Pertamina harus kehilangan produksi minyak dalam jumlah cukup besar akibat dari perang antara Iran dan Amerika Serikat. Salah satu aset Pertamina di Irak, yakni lapangan West Qurna berhenti beroperasi setelah perang mulai berkecamuk.
Awang Lazuardi, Direktur Utama PHE, menyatakan beberapa hari setelah perang, pemerintah Irak meminta lapangan tersebut harus disiapkan untuk berhenti berproduksi. “Pemerintah Irak meminta lapangan tersebut harus disiapkan, harus dimatikan (sementara). Di situ kita kehilangan sekitar 100.000 barrel oil per day,” kata Awang disela rapat dengan Komisi XII DPR RI, Senin (25/5).
Setelah sumur-sumur minyak dimatikan dan produksi berhenti sementara selama beberapa pekan, kini otoritasi pemerintah Irak sudah mengizinkan lagi adanya aktifitas di West Qurna namun dengan kapasitas yang sangat terbatas.
Pertamina baru bisa memproduksikan minyak dengan kapasitas minim sekitar 10% dari kapasitas normal. “sampai sekarang produksi sudah diizinkan, tapi belum full, kurang dari 10% hanya untuk memenuhi kebutuhan di internal Irak, jadi belum kembali seperti semula,” jelas Awang.
West Qurna 1 merupakan salah satu ladang minyak terbesar di dunia dengan cadangan minyak yang diperkirakan mencapai lebih dari 20 miliar barel recoverable reserves. Sebelum perang terjadi produksi lapangan tersebut mencapai sekitar 600 ribu barel minyak per hari.
Pertamina pertama kali masuk ke proyek tersebut pada November 2013 setelah mengakuisisi 10% participating interest (PI) milik ExxonMobil Iraq Limited. Pada akhir 2022, Pertamina kembali menambah kepemilikan sebesar 10% dari ExxonMobil sehingga total participating interest Pertamina di West Qurna 1 mencapai 20%. Penambahan saham tersebut dikelola melalui PT Pertamina Irak EP yang berada di bawah Pertamina Internasional EP. (RI)



Komentar Terbaru