JAKARTA – Tiga mahasiswa Teknik Elektro Institut Teknologi PLN (ITPLN) mengembangkan sistem pendeteksi kebocoran pipa air berbasis sensor dengan daya dari panel surya yang mampu mengirimkan notifikasi secara otomatis melalui aplikasi Telegram.

Riset tersebut dikembangkan oleh Akmal Nuryadin bersama anggota tim Dwi Iwan Setiawan dan Achmad Fadly Siregar sebagai proyek tugas akhir atau skripsi. Inovasi ini dirancang untuk mendeteksi kebocoran pada jaringan pipa bercabang, yang selama ini dinilai lebih kompleks dibandingkan sistem pipa utama tunggal.

Akmal menjelaskan, penelitian mereka merupakan pengembangan dari sistem pendeteksi kebocoran pipa yang sudah ada sebelumnya. Bedanya, alat yang mereka rancang mampu bekerja pada jaringan distribusi air yang memiliki beberapa percabangan.

“Kalau penelitian sebelumnya masih menggunakan jalur pipa utama, kami mengembangkan sistem untuk pipa bercabang. Jadi ada beberapa titik yang bisa dipantau sekaligus,” ujar Akmal, Rabu (3/6/2026).

Sistem tersebut memanfaatkan sejumlah sensor flowmeter yang dipasang pada beberapa titik aliran air. Sensor bekerja dengan mendeteksi debit air yang masuk dan keluar melalui rotor di dalam perangkat.

Data dari masing-masing sensor kemudian dibandingkan secara real time. Apabila ditemukan selisih antara debit air yang masuk dan yang keluar, sistem akan mengidentifikasi adanya indikasi kebocoran.

“Ketika ada perbedaan debit antara sensor satu dengan sensor lainnya, sistem mendeteksi itu sebagai indikasi kebocoran. Setelah itu notifikasi langsung dikirim ke Telegram,” katanya.

Menurut Akmal, penggunaan Telegram dipilih karena saat ini platform tersebut menyediakan layanan bot yang memudahkan pengiriman notifikasi otomatis dari sistem monitoring.

Dalam pengujian prototipe, tim membuat simulasi beberapa titik kebocoran pada jaringan pipa bercabang. Hasilnya, sistem mampu mendeteksi lokasi kebocoran sesuai dengan skenario yang dijalankan.

“Ketika kami melakukan simulasi kebocoran di salah satu cabang, notifikasi yang dikirim sudah sesuai dengan lokasi yang diuji. Jadi sistem berhasil mengidentifikasi titik kebocoran yang terjadi,” katanya.

Keunggulan lain dari alat tersebut adalah penggunaan PLTS sebagai sumber daya utama. Seluruh kebutuhan energi untuk sensor, pompa air, mikrokontroler ESP32, hingga relay dikonsumsi dari listrik yang dihasilkan panel surya.

“Suplai daya utama berasal dari PLTS. Jadi sistem tidak bergantung pada pasokan listrik PLN. Semua komponen utama mendapatkan energi dari panel surya,” imbuhnya.

Ia menilai konsep tersebut membuka peluang penerapan di wilayah yang belum memiliki akses listrik memadai, termasuk daerah terpencil dan kawasan distribusi air yang jauh dari jaringan listrik.

Meski masih dalam tahap prototipe, Akmal mengatakan teknologi tersebut berpotensi diterapkan pada skala yang lebih besar, termasuk jaringan distribusi air milik perusahaan daerah air minum (PDAM).

Menurut dia, penerapan di sektor industri membutuhkan pengembangan lebih lanjut, terutama pada spesifikasi sensor dan kapasitas sistem agar sesuai dengan ukuran jaringan pipa yang lebih besar.

“Dari hasil pengujian skala kecil, tingkat akurasinya sudah baik. Untuk diterapkan di PDAM atau industri sangat memungkinkan, hanya perlu penyesuaian komponen agar sesuai dengan kebutuhan lapangan,” katanya.

Akmal mengungkapkan ide penelitian ini muncul saat dirinya dan 2 rekannya menjalani program magang di pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Saguling, Jawa Barat. Dari pengalaman tersebut, ia mengetahui pentingnya sistem perpipaan dalam mendukung operasional pembangkit.

“Saya membaca sejumlah jurnal tentang kehilangan air yang masih besar di Indonesia. Dari situ muncul gagasan untuk membuat sistem yang bisa membantu mendeteksi kebocoran lebih cepat sehingga potensi kehilangan air dapat dikurangi,” kata Akmal.