JAKARTA – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengembangkan material komposit multilogam berbasis Layered Double Hydroxides (LDHs) dengan kemampuan tinggi menangkap dan menyimpan karbon dioksida (CO₂).
Inovasi ini ditargetkan menjadi langkah strategis dalam teknologi penangkapan karbon untuk menekan emisi gas rumah kaca dan mendukung transisi ekonomi rendah karbon.
Peneliti Pusat Riset Katalisis BRIN, Muh. Nur Khoiru Wihadi, menjelaskan material dikembangkan lewat pendekatan in-situ engineering. Metode itu dirancang membentuk lebih banyak situs aktif di permukaan material dan memperkuat interaksi dengan molekul CO₂ agar proses penangkapan lebih efektif.
“Pendekatan multilogam ini bertujuan menciptakan efek sinergis yang dapat meningkatkan luas permukaan, jumlah situs aktif, stabilitas, karakteristik pori, dan kapasitas adsorpsi CO₂,” ujar Wihadi, Kamis (25/6).
Hasil pengujian menunjukkan komposit multilogam berbasis LDHs memiliki performa penyerapan karbon lebih baik dibanding material LDHs konvensional seperti Mg-Al LDHs.
Beberapa material yang dikembangkan antara lain Ni-Al LDHs@karbon, Mn-Ni-Co-Cu-Al LDHs, Mn-Ni-Co-Cu-Fe LDHs, hingga Ni-Ag-Al LDHs. Temuan riset ini telah dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi seperti Journal of Chemical Technology and Biotechnology serta Greenhouse Gases: Science and Technology.
“Temuan ini membuka peluang pemanfaatan yang lebih luas dalam teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS),” kata Wihadi.
Selain untuk CCUS, LDHs berpotensi dipakai di sektor lingkungan untuk mengolah air limbah dengan menyerap logam berat dan zat warna. Material ini juga bisa digunakan memurnikan udara dari gas berbahaya, serta sebagai katalis atau fotokatalis di sektor energi dan kimia untuk produksi hidrogen dan konversi CO₂ jadi bahan bernilai tambah.
LDHs dinilai menjanjikan karena biaya produksi relatif rendah, stabilitas baik, dan fleksibel dalam desain material.
Ke depan, riset akan fokus pada optimalisasi komposisi logam dan uji performa di kondisi operasi yang mendekati lingkungan industri. “Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan teknologi tersebut dapat diimplementasikan secara efektif dalam skala yang lebih besar,” ujar Wihadi.(RA)

Komentar Terbaru