LONDON – Komitmen transisi energi global makin menguat seiring investasi dunia di sektor ini mencapai rekor US$2,3 triliun pada 2025, naik 8,1% year-on-year menurut BloombergNEF. Inggris sendiri mencatat kenaikan 36% menjadi US$85 miliar, dengan aliran dana terbesar ke transportasi, energi terbarukan, dan jaringan listrik.
Di Indonesia, transformasi menuju net-zero diproyeksi membuka peluang ekonomi US$3,8 triliun hingga 2050. Tanda awalnya terlihat dari penjualan kendaraan listrik yang mencapai 14% sepanjang Januari-Agustus 2026 dan pembiayaan berkelanjutan yang tumbuh 12 kali lipat dari US$0,5 miliar pada 2015 menjadi US$6,3 miliar pada 2024.
Momentum itu dibahas dalam dua forum di London Climate Action Week (LCAW) 2026: Indonesia Climate Leadership Luncheon dan Southeast Asia Climate Action Forum.
Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni menyatakan penguatan infrastruktur pasar karbon menjadi kunci menarik investasi. Indonesia akan meluncurkan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) pada 9 Juli 2026 sebagai fondasi transparansi dan akuntabilitas pasar karbon.
“Peluncuran tersebut juga akan diikuti dengan registrasi sejumlah proyek karbon sektor kehutanan yang telah terverifikasi secara internasional. Pada 6 Juli mendatang, Kementerian Kehutanan juga akan memfasilitasi penerbitan lebih dari 30 juta ton kredit karbon CO₂e dari sektor kehutanan,” ujar Raja Juli.
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menegaskan ekonomi dan lingkungan harus berjalan beriringan. Untuk menguatkan kerangka hukum, MPR menargetkan RUU Perubahan Iklim pertama Indonesia terbit akhir 2026.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mencatat pembiayaan perbankan berkelanjutan 2025 mencapai Rp2.114,6 triliun, tumbuh 3,28% secara tahunan. Sektor energi terbarukan dan konservasi keanekaragaman hayati mencatatkan pertumbuhan tertinggi.
“OJK mengajak lembaga keuangan dan investor untuk bersama mengembangkan produk pembiayaan transisi dan skema blended finance yang selaras,” kata Friderica.
Kadin Indonesia juga menyatakan dukungan terhadap inisiatif RE100 melalui nota kesepahaman yang disaksikan Menteri Lingkungan Hidup, Ketua OJK, Wakil Ketua MPR, dan Wakil Ketua Komisi XII DPR RI. The Climate Group menargetkan perusahaan pertama berkantor pusat di Indonesia bergabung ke RE100 pada tahun ini.
“Artinya kini perusahaan-perusahaan paling berpengaruh di dunia berkomitmen untuk memenuhi 100% kebutuhan listriknya dari energi terbarukan pada 2050,” ujar CEO Equatorise Advisory Steven Marcelino.(RA)

Komentar Terbaru