JAKARTA – Pasar batu bara membuka November 2026 dengan pola yang terbalik. Harga batu bara premium melemah, tapi batu bara kalori rendah malah makin diburu dan harganya naik.
Pemerintah menetapkan Harga Batubara Acuan (HBA) periode 1-14 November 2026 sebesar USD125,60 per ton. Angka itu turun tipis 0,95% atau USD1,21 per ton dari periode II Oktober 2026 yang sebesar USD126,81 per ton. Demikian seperti dilansir Kementerian ESDM, Rabu(3/11/2026).
Penurunan HBA utama tersebut mencerminkan melemahnya harga jual aktual pada transaksi dengan tanggal pengapalan 8 September hingga 7 Oktober 2026. Harga itu juga menjadi dasar pembayaran royalti melalui aplikasi ePNBP Minerba.
Namun jika ditarik lebih jauh, posisi HBA masih jauh lebih kuat dibanding tahun lalu. Pada periode I November 2025, HBA baru di USD103,75 per ton. Artinya, dalam setahun HBA naik USD21,85 per ton atau sekitar 21%.
Yang menarik justru terjadi pada tiga kategori HBA lainnya yang semuanya kompak naik.
HBA I untuk kalori 5.300 kcal/kg GAR naik 4,52% menjadi USD97,85 per ton. HBA II untuk kalori 4.100 kcal/kg GAR naik 4,81% menjadi USD69,28 per ton. Sementara HBA III untuk kalori 3.400 kcal/kg GAR naik 2,44% menjadi USD46,64 per ton.
Kenaikan serentak batu bara kalori menengah dan rendah ini menunjukkan permintaan yang masih kuat, terutama dari pembeli yang mencari batu bara dengan harga lebih terjangkau untuk pembangkit listrik dan industri.
HBA utama sendiri dipakai untuk menghitung Harga Patokan Batubara (HPB) bagi batu bara berkalori di atas 6.000 kcal/kg GAR. Dalam perhitungannya, HPB memperhitungkan kualitas batu bara, mulai dari nilai kalori, kandungan air, kandungan belerang (sulphur), hingga kandungan abu.
Penetapan HBA ini mengacu pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 268 Tahun 2025 tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan untuk Penjualan Komoditas Mineral Logam dan Batubara. Dalam aturan itu, HBA dihitung dari rata-rata tertimbang volume harga jual batu bara pada titik serah Free on Board (FOB) Vessel.
Keempat kelompok HBA ini berlaku sepanjang 1-14 November 2026. Harga acuan yang diperbarui secara berkala menjadi pegangan pelaku usaha dalam bertransaksi, sekaligus dasar perhitungan penerimaan negara dari subsektor batu bara.
Bahlil: Indonesia Setop Jual Murah Batu Bara, Produksi Dibatasi Harga Justru Naik
Pemerintah mengubah strategi dalam mengelola batu bara. Jika dulu produksi digeber tanpa kendali hingga harga jatuh, kini produksi justru dibatasi agar harga naik dan pendapatan negara terdongkrak.
Strategi itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat membuka Mineral dan Batubara Convention – Expo (Minerba Convex) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Senin (2/11).
“Jadi produksinya terkoreksi, turun, tapi pendapatannya naik. Ini baru paten. Gak dijual murah barang kita,” kata Bahlil.
Bahlil mengungkapkan, konsumsi batu bara dunia mencapai sekitar 8,9 miliar ton per tahun, sementara yang diperdagangkan antarnegara sekitar 1,3 miliar ton. Pada 2025, Indonesia memasok sekitar 540 juta ton, atau setara 43 persen pasokan dunia.
Ironisnya, dominasi pasokan itu justru membuat harga jatuh ke titik terendah. Profit perusahaan tidak terlalu besar dan pendapatan negara tidak maksimal. Bahlil menilai pembukaan lahan tambang yang jor-joran membuat batu bara Indonesia akhirnya dijual murah.
Bahlil mengaku sempat membuat aturan untuk menaikkan Harga Batubara Acuan (HBA), tetapi tidak diindahkan. Pemerintah kemudian memilih menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan lewat pengendalian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Hasilnya, harga batu bara tahun ini bisa mencapai 154 dolar AS.
“Jangan kita mengelolanya seperti orang yang kelaparan. Jangan seperti orang yang baru puasa, tiba-tiba buka puasa, apa aja yang mau dimakan,” ujarnya.
Bahlil meminta pengusaha tidak saling mendahului. Ia memahami pengusaha selalu ingin meraih keuntungan maksimal, tetapi pembagian RKAB juga harus adil. Jumlah perusahaan yang mengajukan RKAB naik dari sekitar 500 perusahaan pada 2025 menjadi 650 perusahaan pada 2026.
Menurut Bahlil, kondisi ideal adalah produksi tinggi dengan harga bagus. Namun, ketika harga sedang turun, produksi tidak boleh digenjot secara jor-joran.
Strategi ini sejalan dengan tren penerimaan negara. Bahlil menyebut penerimaan negara bukan pajak (PNBP) pada 2025 berada di kisaran Rp130-135 triliun, dan per 1 Oktober 2026 telah menembus Rp141 triliun. Hingga akhir 2026, PNBP diperkirakan mencapai Rp160-165 triliun.
Melalui pengendalian produksi, pemerintah ingin memastikan batu bara Indonesia tidak lagi dijual murah, sekaligus menjaga cadangan agar tetap memberi manfaat bagi generasi mendatang.(RA)





Komentar Terbaru