JAKARTA – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRM/BRMS) berhasil melakukan turnaround kinerja pada kuartal III-2026. Perseroan membalikkan rugi bersih di Q2 2026 menjadi laba bersih di Q3 2026, ditopang kenaikan produksi, pendapatan, dan laba operasi yang signifikan.

Kunci kebangkitan ini ada di tambang emas Poboya, Palu. BRMS telah menyelesaikan kegiatan pushback di tambang terbuka River Reef pada Juli 2026 lalu.

Hasilnya langsung terasa. Sejak akhir Juli, BRMS mulai menambang bijih dengan kadar emas yang jauh lebih tinggi. Rata-rata kadar emas yang diproses di Q3 2026 mencapai 1,9 gram per ton (g/t), melonjak lebih dari dua kali lipat dari Q2 2026 yang hanya 0,9 g/t.

Direktur Utama & CEO BRMS, Agus Projosasmito, mengaku puas dengan capaian ini.

“Kami cukup puas dengan pencapaian Perusahaan di Q3 2026. Terlepas dari faktor-faktor makro dan eksternal yang mempengaruhi industri domestik dan pasar modal nasional, kami tetap percaya terhadap fundamental BRMS yang kuat,” ujar Agus, Rabu(28/10).

Untuk mengoptimalkan penjualan, anak usaha BRMS, PT Citra Palu Minerals (CPM), telah menandatangani perjanjian penjualan sebagian besar produksi emas dengan harga kompetitif. Perseroan menargetkan hampir seluruh produksi emas di semester II-2026 bisa terserap pasar.

Prospek ke depan juga makin cerah. Terowongan tambang bawah tanah di River Reef kini telah mencapai lebih dari 975 meter dari mulut tambang. CPM menargetkan bisa mulai menambang bijih berkadar tinggi di atas 3,2 g/t pada pertengahan 2027.

Bersamaan dengan itu, peningkatan kapasitas pabrik emas dari 500 menjadi 2.000 ton bijih per hari diharapkan rampung awal 2027.

Sementara itu, anak usaha lainnya, PT Gorontalo Minerals (GM), tengah mengoperasikan 4 unit alat bor eksplorasi di tambang tembaga Cabang Kiri East, Gorontalo. Tahun depan, jumlahnya akan ditingkatkan menjadi 7 unit di 3 lokasi. Hasil sumber daya mineral tembaga akan diumumkan pada semester II-2027.

“Produksi emas dari lokasi tambang terbuka diharapkan dapat meningkat pada 2H 2026. Selanjutnya, rencana penambangan bijih berkadar tinggi dari tambang emas bawah tanah akan memungkinkan kami untuk dapat terus meningkatkan produksi emas di tahun 2027 dan 2028,” tutup Agus.

Diketahui, Direktur Utama & CEO BRMS, Agus Projosasmito, menambah kepemilikan saham Perusahaan sebanyak 5.902.300 lembar pada Senin, 26 Oktober 2026. Agus membeli 3.543.800 lembar saham di harga Rp 422, dan 2.358.500 lembar saham di harga Rp 424. Dengan tambahan pembelian ini, Agus kini menggenggam 11.402.300 lembar saham BRMS.

Selain Agus, ada lima orang Direksi BRMS lainnya yang juga secara rutin kerap membeli saham BRMS dalam 18 bulan terakhir. Keenam Direksi BRMS tersebut (termasuk Agus) kini memiliki hampir 19 juta lembar saham BRMS. Pembelian saham tersebut menunjukkan keyakinan penuh dari manajemen Perusahaan terhadap kinerja positif BRMS di masa mendatang.(RA)