JAKARTA – Konsistensi PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM) dalam pemberdayaan masyarakat kembali mendapat pengakuan nasional.
Perusahaan tambang emas yang beroperasi di Bolaang Mongondow ini meraih Apresiasi Bidang Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) 2026 dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM.
Ini menjadi apresiasi ketiga bagi JRBM dalam empat tahun terakhir. Tahun ini, JRBM unggul di Bidang Tingkat Pendapatan Riil atau Pekerjaan, Kategori Peningkatan Pendapatan Masyarakat melalui Program Regenerasi Petani Kakao.
Penghargaan tersebut diberikan setelah tim penilai mengevaluasi kinerja program pelatihan budidaya kakao yang dijalankan JRBM bersama siswa SMKN 1 Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, periode 2024-2025.
Superintendent CSR JRBM, Riska Ariyanti, menjelaskan pelatihan ini bukan program sesaat, melainkan kelanjutan dari upaya membangun pertanian berkelanjutan.
“Pelatihan pembibitan kakao di sekolah merupakan kelanjutan dari program sebelumnya, yaitu pembentukan kelompok dan pembuatan pupuk organik sebagai bagian dari penerapan pertanian berkelanjutan,” kata Riska yang telah mendampingi masyarakat hampir tiga tahun.
Program ini mendapat sambutan positif dari pihak sekolah. Kepala SMKN 1 Lolayan, Abdul Rifai Manggo, menilai keterampilan yang diperoleh siswa menjadi bekal penting pasca lulus.
“Kami berterima kasih kepada JRBM yang telah memberikan pelatihan dan pendampingan kepada anak-anak kami. Harapannya, keterampilan yang mereka peroleh tidak hanya bermanfaat selama berada di sekolah, tetapi juga menjadi bekal setelah lulus, baik untuk mengembangkan usaha sendiri maupun membantu usaha pertanian keluarga,” ujar Abdul Rifai.
General Manager External Relations and Security JRBM, Andreas Saragih, mengungkapkan latar belakang program ini adalah minimnya minat generasi muda terjun ke pertanian kakao. Namun hasilnya kini mulai terlihat.
“Namun, setelah program ini diperkenalkan, para alumni sudah mampu melakukan pembibitan dan memperoleh pendapatan dari keterampilan tersebut, selain tentunya membantu orang tua mereka yang juga berprofesi sebagai petani,” kata Andreas.
Sejak digulirkan pada 2019, program pengembangan pertanian kakao JRBM telah membina 290 petani dengan total luas lahan sekitar 100 hektare milik petani sendiri.
Presiden Direktur JRBM, Anang Rizkani Noor, menegaskan fokus selanjutnya adalah memastikan kemandirian petani.
“Tahapan penting selanjutnya dari program ini adalah memastikan kemandirian petani binaan agar usaha pertanian kakao mereka dapat terus berkembang,” tutup Anang.(RA)




Komentar Terbaru