Kehadiran energi alternatif bagi rumah tangga melalui CNG Merah Putih di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 81 belum terwujud. Padahal uji coba penggunaan gas alam terkompresi atau Compressed Natural Gas yang dikemas dalam tabung ukuran 3 kilogram oleh masyarakat direncanakan digelar pada Agustus 2026.

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral hingga kini belum memastikan kapan uji coba oleh masyarakat akan dilakukan. Uji coba awal rencananya dilakukan di beberapa kota besar.

Saat ini, Lembaga Minyak dan Gas (Lemigas) masih melakukan uji coba secara komprehensif di Indonesia. Tidak hanya itu, di China pun, yang akan menjadi pemasok tabung CNG 3 kg, berbagai pengujian dilakukan.

Sebagian besar tahapan pengujian disebut telah diselesaikan. Pengujian yang masih berlangsung adalah uji tembak atau gun fire tes, yang dilakukan untuk menguji ketahanan tabung terhadap kondisi ekstrem, termasuk paparan suhu tinggi.

CNG digadang-gadangkan akan menjadi energi alternatif untuk secara bertahap menggantikan posisi liquefied petroleum gas (LPG) yang digunakan sebagian besar masyarakat, khususnya LPG 3 kg yang disubsidi negara. Berbeda dengan LPG yang sebagian besar produksinya berasal dari impor, CNG merupakan produk dalam negeri alias gas alam yang diproduksi dari lapangan-lapangan gas domestik.

Masalahnya, penggunaan CNG 3 kg masih dibayang-bayangi faktor risiko tinggi. Apalagi jika mengabaikan faktor keamanan penggunaannya. Pasalnya, CNG memiliki tekanan tinggi hingga mencapai 200 bar. Jauh lebih tinggi dibanding LPG yang hanya 8 bar, apalagi gas pipa yang jauh dibawah itu. Risiko yang membayangi adalah jika tabung mengalami cacat struktural, korosi, atau benturan keras, risiko kegagalan tabung bisa memicu ledakan fisik yang dahsyat. Tentu saja faktor kegagalan tabung bisa dimitigasi diawal.

Selain itu, karena tekanan CNG sangat tinggi, aliran gas tidak bisa langsung dipasang ke kompor biasa tanpa alat pressure reduction system dan regulator berlapis yang sangat presisi untuk menurunkan tekanan hingga aman.

Risiko yang tinggi membuat aspek keselamatan menjadi perhatian utama dalam pengoperasian CNG. Maka tidak aneh jika penyedia dan distributor CNG biasanya melakukan patroli jaringan dan menyiagakan operator selama 24 jam. Selain itu, operator yang menangani kegiatan teknis harus memiliki sertifikasi.

Gas yang disalurkan juga diberi odoran agar kebocoran dapat lebih mudah dideteksi melalui bau yang menyengat. Untuk pelanggan komersial seperti restoran dan hotel, tabung CNG ditempatkan di ruang khusus atau gas room. Gas kemudian dialirkan melalui jaringan menuju dapur.

Pertanyaan bagaimana dan siapa yang akan mengawasi dan mengontrol penggunaan CNG 3 kg? Apalagi jika melihat insiden-insiden yang terjadi tekait penggunaan LPG di masyarakat, yang salah satu faktornya adalah abai terhadap faktor keamanan penggunaan.

CNG memang telah lama digunakan diberbagai sektor, mulai sektor transportasi, komersial hingga pelaku usaha kecil dan menengah. Namun berbeda dengan sektor-sektor yang telah menggunakan CNG dengan tabung-tabung berukuran besar minimal setara tabung 20 kg, CNG Merah Putih yang dikembangkan pemerintah akan menggunakan tabung berukuran kecil, yakni 3 kg. Padahal kandungan energi CNG dalam volume tabung yang sama jauh lebih rendah daripada LPG, hanya sekitar 42% dari energi LPG. Akibatnya, tabung akan lebih cepat habis dan harus sering diganti. Frekuensi pengisian tabung yang lebih sering juga akan membuat risiko CNG makin besar.

Berbeda dengan sektor komersial  yang untuk pengisian CNG dilakukan penyedia dan distributor CNG, untuk CNG Merah Putih akan dilakukan mandiri oleh masyarakat. Risiko penanganan yang salah (human error) atau kebocoran pada sistem sambungan bertekanan tinggi menuntut standar keamanan infrastruktur yang sangat ketat di tingkat rumah tangga. Belum lagi untuk menahan tekanan 200 bar, material tabung CNG bakal jauh lebih tebal dan kokoh, membuat kondisi tabung penuh terasa jauh lebih hberat saat diangkat atau dipindahkan.

Ini tentu “PR” besar yang harus menjadi perhatian pemerintah sebelum melakukan uji coba CNG Merah Putih ditengah masyarakat, termasuk jika nanti benar-benar digunakan untuk masyarakat umum.

Selain soal safety, jika benar-benar akan dijual untuk masyarakat umum, faktor harga juga menjadi poin krusial. Meski pemerintah telah menegaskan akan memberikan subsidi, harga pasti untuk CNG Merah Putih masih belum disebut. Pemerintah hanya menyebut harga CNG akan diupayakan setara harga LPG.

Jika merujuk pada pengguna CNG di sektor komersial yang sebelumnya menggunakan LPG, efisiensi yang diperoleh sekitar 20%-30%. Rata-rata penggunaan CNG pada sektor komersial lebih besar dibanding rumah tangga, sehingga efisiensi yang diperoleh lebih terlihat. Pasalnya, efisiensi yang diperoleh tidak semata harnya dari sisi harga, namun juga volume konsumsi CNG-nya.

Maka patut ditunggu, berapa harga jual CNG Merah Putih nantinya akan ditetapkan pemerintah jika benar-benar konversi LPG ke CNG akan direalisasikan. Serta bagiamana pemerintah bisa memastikan faktor safety bisa tetap terjaga dalam penggunaan CNG berukuran kecil, yang dilakukan mandiri oleh masyarakat.(*)