JAKARTA – PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) memproyeksi produksi konsentrat tembaga sebesar 1,29 juta dry metric ton (DMT) dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 atau meningkat jauh dibandingkan realisasi produksi 2025 yang mencapai 453,4 ribu DMT.

Untuk tahun ini, AMMAN menargetkan produksi sekitar 162 ribu ton katoda tembaga, 16 ton emas, 45 ton perak, 91 ton selenium, 1,96 ton telurium, serta 572 ribu ton asam sulfat.

Rachmat Makkasau, Presiden Direktur PT Amman Mineral Nusa Tenggara mengatakan beroperasinya kembali fasilitas pemurnian (smelter) tembaga jadi penopang utama peningkatan produksi.

“Sejak sekitar April 2026 kegiatan operasi telah mulai berjalan dan proses ramp-up berlangsung dengan baik. Pada sekitar Juni 2026 kami telah mampu memproses seluruh produksi yang dihasilkan oleh tambang saat ini,” kata Rachmat dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Senin (14/7/2026).

Dari sisi hulu, peningkatan produksi konsentrat pada 2026 juga ditopang oleh perkembangan aktivitas penambangan di Tambang Batu Hijau.

Rachmat menjelaskan, rendahnya produksi pada 2025 merupakan bagian dari siklus penambangan karena perusahaan memfokuskan kegiatan pengupasan lapisan penutup (stripping) pada Fase 8 sehingga volume bijih yang ditambang lebih rendah.

“Produksi kami pada tahun 2025 memang mengalami penurunan. Selanjutnya, pada tahun 2026 direncanakan terjadi peningkatan produksi yang akan terus berlanjut pada tahun 2027 dan tahun-tahun berikutnya,” katanya.

Hingga kuartal II, AMMAN telah menghasilkan 46 ribu ton katoda tembaga, 3,7 ton emas, dan 14,6 ton perak. Selain itu, terdapat produksi selenium dan asam sulfat. Selain logam utama tersebut, smelter juga telah menghasilkan 24 DMT selenium dan 421,8 ribu DMT asam sulfat hingga semester I 2026.

Untuk tahun ini, AMMAN menargetkan produksi sekitar 162 ribu ton katoda tembaga, 16 ton emas, 45 ton perak, 91 ton selenium, 1,96 ton telurium, serta 572 ribu ton asam sulfa

Berdasarkan proyeksi perusahaan, produksi konsentrat diperkirakan mencapai sekitar 1,2 juta DMT pada 2027, 1,18 juta DMT pada 2028, dan 1,11 juta DMT pada 2029.

“Hal ini disebabkan mulai tahun depan kami akan lebih banyak mengambil dan memproses bijih dalam kegiatan penambangan,” ujar Rachmat.

Di sisi pemasaran, Rachmat mengatakan hasil produksi smelter saat ini masih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Namun, ketika kapasitas produksi telah dimanfaatkan secara optimal, perusahaan membuka peluang ekspor, terutama untuk produk katoda tembaga.

“Saat ini hampir seluruh produksi dipasarkan di dalam negeri. Namun ketika seluruh kapasitas produksi telah tercapai, kemungkinan kami perlu melakukan ekspor, terutama untuk produk katoda tembaga,” tutupnya.