JAKARTA – PT Freeport Indonesia (PTFI) sudah memiliki smelter baru untuk mengolah konsentrat di Gresik, namun sejak selesai dibangun smelter tersebut belum juga beroperasi secara maksimal. Pasalnya setelah baru selesai dan beroperasi pada tahun 2024 terjadi insiden kebakaran di komplek smelter dan pada tahun 2025 produksi kembali berhenti hingga kini lantaran ketiadaan pasokan bahan baku berupa konsentrat akibat longsor di komplek tambang bawah tanah Freeport.
Tony Wenas, Presiden Direktur PTFI, mengungkapkan tahun ini smelter baru Freeport kembali ditargetkan mulai beroperasi. “Terencana smelter baru ini akan mulai berproduksi kembali, atau mengolah memurnikan konsentrat dari Papua itu pada bulan September tahun ini, dan akan dilakukan ramp-up sampai dengan akhir tahun,” kata Tony disela rapat dengan Komisi XII DPR RI, Selasa (14/7).
Untuk saat ini hanya smelter PT Smelting yang sudah beroperasi terus yang mengolah kira-kira hampir 50% dari konsentrat dari Papua. Tahun ini kita PTFI masih hanya dalam kapasitas 60% dari hulunya, karena memang akibat dari longsoran yang terjadi di bulan September, dilakukan perbaikan-perbaikan meyakinkan bahwa ini semuanya betul-betul aman, sehingga produksi ramp-upnya berjalan tidak seperti yang kita perkirakan sebelumnya.
“Sehingga tahun ini masih akan mencapai 65% dari total kapasitas. Semester satu tahun depan akan mencapai 75% dari kapasitas, dan menuju akhir tahun di 2027 itu akan menuju ke 100% kapasitas,” jelas Tony.
Smelter baru di KEK Gresik memiliki kapasitas pengolahan sebesar 1,7 juta ton konsentrat sebagai bahan baku utama. Sementara ekspansi PT Smelting yang juga saham kepemilikan dimiliki oleh Freeport meningkatkan kapasitas pengolahan sebesar 300 ribu ton konsentrat per tahun. Dengan demikian, kapasitas smelter baru dan ekspansi tersebut mencapai total 2 juta ton per tahun.
Ditambah kapasitas PT Smelting yang telah beroperasi sebesar 1 juta ton, maka total konsentrat yang dapat dimurnikan di dalam negeri mencapai 3 juta ton per tahun.
Selain smelter tembaga, kompleks industri tersebut juga dilengkapi Precious Metal Refinery (PMR) yang berfungsi memurnikan lumpur anoda hasil proses peleburan menjadi logam-logam bernilai tinggi.
“Di lokasi ini juga dibangun precious metal refinery, yaitu fasilitas pemurnian lumpur anoda yang mengandung emas, perak, serta beberapa logam dari kelompok platinum (platinum group metals),” jelasnya.
Dari sisi teknologi, smelter menggunakan proses double flash smelting dan double flash converting, sedangkan pemurnian emas dan perak dilakukan dengan teknologi hydrometallurgy.
“Teknologi yang kami gunakan adalah double flash smelting dan double flash converting. Sementara untuk pemurnian emas dan perak menggunakan teknologi hydrometallurgy,” ujar Tony.
Produk utama yang dihasilkan dari fasilitas smelter dan PMR meliputi katoda tembaga, emas murni, perak batangan murni, serta logam dari kelompok platinum. Selain itu, dihasilkan pula sejumlah produk samping seperti asam sulfat, terak tembaga (copper slag), gipsum, dan timbal. (RI)


Komentar Terbaru