JAKARTA – Biasanya, perusahaan tambang nikel dipuji karena produksinya besar. Atau karena setoran ke negara-nya jumbo.
Tapi di Apresiasi Minerba 2026, ukurannya dibalik.
Lima perusahaan nikel justru diapresiasi bukan karena seberapa banyak mereka menggali, tapi karena seberapa besar manfaat yang mereka tinggalkan di sekitar tambang.
Penghargaan itu diserahkan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM dalam penutupan Mineral and Batubara Convention-Expo (Minerba Convex) 2026 di JIExpo, Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Kelima nama itu adalah PT Antam (Persero) Tbk Unit Bisnis Pertambangan (UBP) Nikel Maluku Utara, PT Sulawesi Cahaya Mineral, PT Hengjaya Mineralindo, PT Weda Bay Nickel, dan PT Vale Indonesia.
Mereka menang di dua kelompok penilaian yang selama ini jarang jadi sorotan: Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) dan kepatuhan bayar Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Rinciannya beda-beda, sesuai kontribusi masing-masing:
PT ANTAM UBP Nikel Maluku Utara dinilai paling kuat di bidang kesehatan. Artinya, kehadiran tambang di sana benar-benar dirasakan warga lewat layanan kesehatan.
PT Sulawesi Cahaya Mineral menang di kategori kelembagaan komunitas. Bukan sekadar kasih bantuan, tapi membangun lembaga warga yang bisa jalan sendiri.
Sementara tiga lainnya menang karena taat bayar ke negara. PT Hengjaya Mineralindo untuk kelompok Izin Usaha Pertambangan (IUP) Mineral, PT Weda Bay Nickel untuk kelompok Kontrak Karya, dan PT Vale Indonesia untuk kelompok Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).
Kelima perusahaan ini adalah bagian dari 42 Apresiasi Minerba 2026 yang diberikan kepada badan usaha pertambangan atas kinerja dan kontribusinya.
Dirjen Minerba, Tri Winarno, menegaskan pesan itu dengan gamblang. Menurutnya, keberhasilan tambang tidak bisa hanya diukur dari produksi dan setoran negara.
“Ada tanggung jawab yang lebih luas, yaitu bagaimana kegiatan pertambangan dijalankan dengan baik, bagaimana masyarakat di sekitar wilayah pertambangan mendapatkan manfaat, dan bagaimana sumber daya alam dikelola secara bertanggung jawab untuk kepentingan generasi mendatang,” ujar Tri.
Pesan itu seolah jadi pengingat. Bahwa tambang yang bagus bukan yang paling dalam galiannya, tapi yang paling lama manfaatnya dirasakan setelah tambang itu tutup nanti.
“Bagi badan usaha yang menerima apresiasi, saya berharap prestasi ini dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Jadikan praktik baik yang telah dilakukan sebagai contoh bagi perusahaan lainnya,” tuturnya.
Di tengah sorotan terhadap industri nikel yang kerap dikaitkan dengan kerusakan lingkungan, lima perusahaan ini justru menunjukkan sisi lain: tambang juga bisa jadi soal kesehatan warga, penguatan komunitas, dan kepatuhan membayar kewajiban ke negara.(RA)





Komentar Terbaru