JAKARTA– Prime Oil Indonesia Natuna, mencatatkan keberhasilan peningkatan produksi gas melalui pekerjaan workover sumur NGA-1 di wilayah kerja Natuna Sea Block A. Hasil pekerjaan tersebut menghasilkan laju produksi gas sebesar 11,5 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD), atau mencapai 821 % dari target awal sebesar 1,4 MMSCFD. Keberhasilan ini menjadi kabar menggembirakan setelah alih kelola operator wilayah kerja Natuna Sea Block A dari Harbour Energy kepada Prime Oil Indonesia Natuna.

Pekerjaan workover sumur NGA-1 merupakan kegiatan kerja ulang pindah lapisan yang dimulai pada 24 Oktober 2026. Setelah pelaksanaan perforasi dan Production Logging Tool (PLT), pada 3 November 2026 tercatat hasil produksi gas mencapai 11,5 MMSCFD dari sejumlah lapisan, yakni UA Aa-12 (5.055–5.070 ftMD), UA Aa-11 (5.276–5.358 ftMD), MA Cb-6 (6.160–6.180 ftMD), MA Cb-1 (6.853–6.859 ftMD), dan MA Ca-3a (7.558–7.580 ftMD).

“Sebagai informasi, sumur NGA‑1 mulai berproduksi pada November 2014 dengan laju awal 22.5 MMSCFD. Sebelum dilakukan workover, sumur dalam kondisi ceased to flow sejak Oktober 2023, dengan produksi terakhir berasal dari lapisan UA Aa‑11 dan UA Aa‑12,” kata Djoko Sisawnto, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), Jumat (7/11)..

Selain mencatatkan hasil produksi yang melampaui target, sumur NGA-1 juga dapat langsung diproduksikan atau Production on Production (PoP) setelah pekerjaan selesai.

Dari sisi operasional, pekerjaan dilakukan secara rigless melalui metode thru tubing perforation. Hingga saat ini, durasi pekerjaan telah mencapai 12 hari dan dilanjutkan dengan kegiatan rig down (R/D) peralatan hingga hari berikutnya. Total durasi pekerjaan direncanakan selama 17 hari, sehingga pelaksanaannya lebih cepat dari rencana.

Efisiensi juga tercatat dari sisi biaya. Berdasarkan estimasi biaya lapangan (field estimate cost), pengeluaran pekerjaan telah mencapai US$ 100.861 atau sekitar 68,12% dari total anggaran yang direncanakan sebesar US$ 148.059. Dengan demikian, biaya pekerjaan masih berada di bawah rencana anggaran.

Keberhasilan mengaktifkan kembali sumur NGA-1 dengan capaian produksi sebesar 821 persen dari target menjadi bukti potensi dan kompetensi perusahaan migas nasional dalam mengelola wilayah kerja migas. Optimalisasi produksi yang dilakukan Prime Oil Indonesia Natuna juga memperlihatkan bahwa perusahaan lokal memiliki kemampuan untuk berkontribusi dalam menjaga dan meningkatkan produksi gas nasional.