ABU DHABI – Kapal penunjang kegiatan hulu minyak dan gas bumi (migas) buatan Indonesia mendapatkan dari perusahaan energi raksasa Arab Saudi, Saudi Aramco, dalam rangkaian ajang Abu Dhabi International Petroleum Exhibition and Conference (ADIPEC) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) yang baru saja berakhir.
Djoko Siswanto saat menghadiri ADIPEC mewakili Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan Saudi Aramco sebelumnya telah menggunakan dua unit kapal untuk mendukung kegiatan operasionalnya. Setelah merasakan manfaat dari penggunaan kapal tersebut, Saudi Aramco kembali memesan dua unit tambahan.
Menurut Djoko, pihak Saudi Aramco mengaku ada satu keunggulan utama kapal yang dibuat di Indonesia yang sulit ditemukan di kapal lainnya yakni kemampuannya menghemat konsumsi bahan bakar hingga 50% dibandingkan kapal konvensional, sehingga dapat mendukung efisiensi operasional kegiatan hulu migas.
“Ini merupakan produk yang membanggakan karena sepenuhnya dikerjakan oleh tenaga kerja Indonesia. Kapalnya didesain oleh para engineer dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dibangun di Gresik, Jawa Timur, dan pengoperasiannya dapat dikontrol langsung dari Surabaya,” ungkap Djoko dalam keterangannya Jumat, (6/11).
Ia menjelaskan, kapal tersebut melibatkan sekitar 100 pekerja Indonesia dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 70% . Adapun komponen yang masih didatangkan dari luar negeri adalah mesin kapal serta bahan baku aluminium untuk konstruksi badan kapal yang saat ini masih diimpor dari Yunani.
Ke depan, Djoko berharap kebutuhan aluminium untuk pembangunan kapal-kapal tersebut dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri, salah satunya melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Dengan demikian, rantai pasok industri kapal penunjang hulu migas diharapkan semakin terintegrasi dengan industri nasional, sekaligus meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.
Hingga saat ini, kapal jenis tersebut telah diproduksi sebanyak 10 unit. Dengan adanya tambahan pesanan, produksi direncanakan bertambah dua unit pada tahun depan.
“Alhamdulillah, produk karya anak bangsa ini telah digunakan oleh perusahaan energi kelas dunia. Ini menunjukkan bahwa kemampuan industri nasional memiliki peluang untuk bersaing di pasar internasional,” ujarnya.
Di Paviliun Indonesia, dipaparkan berbagai peluang investasi di sektor hulu migas, mulai dari eksplorasi, pembangunan infrastruktur, hingga penyediaan barang dan jasa penunjang.
Selain pesanan kapal dari Saudi Aramco, Paviliun Indonesia juga menjadi tempat penandatanganan kerja sama pembangunan fasilitas blending bahan kimia untuk kegiatan enhanced oil recovery (EOR) di Abu Dhabi antara PT Tara Abu Dhabi dan PT Luas Biru. Bahan baku kimia untuk fasilitas tersebut akan berasal dari Indonesia. Dalam rangkaian kegiatan ADIPEC, Djoko juga melakukan sejumlah pertemuan dengan pimpinan perusahaan energi internasional untuk membahas perkembangan proyek-proyek strategis hulu migas Indonesia.
Pertemuan dengan CEO INPEX, Mr. Ueda, dan jajaran manajemen INPEX membahas perkembangan proyek pengembangan Lapangan Abadi di Blok Masela.
Sementara itu, pertemuan dengan CEO Mubadala membahas perkembangan pengembangan Lapangan Andaman. Adapun pertemuan dengan pimpinan perusahaan Searah dan ENI membahas perkembangan proyek Geng North, Gendalo-Gehem, dan Geliga.
Dalam sesi diskusi panel, berbagai isu strategis turut dibahas, khususnya mengenai kebijakan pasokan dan kebutuhan LNG, baik untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun ekspor. Pembahasan mencakup produksi, infrastruktur, harga, serta kebutuhan kontrak LNG yang lebih fleksibel.
Rangkaian kegiatan juga diisi diskusi bersama diaspora Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Abu Dhabi. Diskusi menghadirkan Sandiaga Uno, Duta Besar RI, Kepala SKK Migas, Ketua IATMI, serta sejumlah narasumber internasional dan pakar di bidang migas nonkonvensional dan sour gas.
Partisipasi Indonesia dalam ADIPEC memperlihatkan bahwa peluang industri nasional di sektor energi tidak hanya terbuka melalui investasi dan pengembangan lapangan migas, tetapi juga melalui kemampuan industri dalam negeri menghasilkan teknologi, kapal, peralatan, serta jasa penunjang yang dibutuhkan perusahaan energi dunia.
Pesanan tambahan dari Saudi Aramco menjadi salah satu contoh bagaimana karya tenaga kerja, insinyur, dan industri manufaktur Indonesia dapat masuk ke dalam rantai pasok industri migas global.





Komentar Terbaru