JAKARTA – Kalau denger kata tebu, yang kebayang pasti es tebu, gula, atau teh manis.

Tapi mulai sekarang, ubah bayangan itu. Karena tebu yang sama, sebentar lagi mau dipakai buat jalanin motor dan mobil kita.

Itulah transformasi besar yang sedang didorong pemerintah. Tebu tidak lagi sekadar komoditas penghasil gula. Tebu kini disiapkan jadi tulang punggung ketahanan pangan sekaligus kemandirian energi lewat bioetanol.

Komitmen ini mengemuka dalam forum South East Asia Sugar Summit 2026 di Jakarta, Kamis (5/11). Di forum itu, Indonesia memaparkan arah baru: industri tebu harus jadi ekosistem terintegrasi. Dari gula, sampai ke energi.

Plt. Dirjen Perkebunan, Heru Tri Widarto, menegaskan tebu ke depan tidak boleh cuma dipanen gulanya saja. Semua bagian tanaman harus punya nilai ekonomi.

“Kita ingin membangun industri tebu yang lebih kuat dan terintegrasi. Produksi gula harus terus ditingkatkan, tetapi pada saat yang sama potensi tebu dan produk sampingnya juga harus dimanfaatkan untuk pengembangan bioetanol. Dengan begitu, petani mendapatkan nilai tambah dan industri perkebunan memiliki peluang ekonomi yang lebih besar,” ujar Heru.

Yang dimaksud produk samping itu adalah molase atau tetes tebu. Cairan kental yang selama ini jadi sisa produksi gula. Nah, sisa inilah yang justru jadi harta karun baru. Dari molase inilah bioetanol dibuat.

Dan angkanya tidak main-main. Luas areal tebu naik dari sekitar 447 ribu hektare pada 2021 menjadi 563 ribu hektare pada 2025. Produksi gula kristal putih juga naik dari 2,35 juta ton menjadi 2,67 juta ton.

Bahkan, taksasi giling 2026 memperkirakan produksi gula mencapai 3,02 juta ton dari 585 ribu hektare areal panen. Tapi itu pun masih jauh dari kebutuhan nasional yang mencapai 6,33 juta ton, untuk konsumsi dan industri.

Karena itu pemerintah ngebut di dua sisi. Di hulu, ada program bongkar ratoon atau peremajaan tebu, perluasan areal, benih unggul, dan kemitraan petani – pabrik gula.

Di hilir, pemerintah menargetkan bangun 6 pabrik bioetanol berbahan baku tebu atau molase yang mulai beroperasi pada 2028. Ini sejalan dengan rencana pencampuran bioetanol ke bensin secara bertahap: E10 pada 2027 dan E20 pada 2028.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut E20 ini sebagai mimpi besar Indonesia.

“Yang ketiga, mimpi kita E20. Apa itu E20? Etanol dan campuran bensin. Dari mana? Jagung, ubi kayu, dan tebu. Semua bisa tumbuh di Indonesia,” ujar Amran.

Artinya, ke depan bensin yang kita pakai tidak lagi 100% fosil. Ada 20% yang berasal dari tanaman yang ditanam petani Indonesia sendiri.

Jika ini berhasil, tebu bukan lagi sekadar tanaman manis. Tebu jadi penggerak ekonomi hijau, pembuka lapangan kerja, penambah penghasilan petani, dan sumber energi alternatif.

Dari kebun tebu, untuk kemandirian energi Indonesia.(RA)