JAKARTA – Badan Usaha Milik Negara PT Agrinas Palma Nusantara (APN) yang dibentuk Presiden Prabowo Subianto akan mengembangkan komoditas perkebunan untuk mendukung pencapaian swasembada energi nasional. Di antara perkebunan yang akan dibangun adalah sawit untuk mendukung produksi biofuel dan singkong untuk bioetanol.
“Dalam perspektif ketahanan energi jangka panjang, keberadaan komoditas perkebunan akan semakin penting. Begitu diangkat sebagai dirut (direktur utama) pada Maret 2026, APN yang merupakan transformasi dari PT Indra Karya yang bergerak di bidang jasa konstruksi, saya reset ulang dari nol karena kami mendapat penugasan pemerintah untuk mengembangkan sejumlah komoditas pertanian untuk mendukung ketahanan pangan dan energi,” ka

Dirut APN Mohammad Abdul Ghani optimistis perusahaannya dapat berperan banyak dalam pencapaian swasembada energi (Foto: LH/DE)
ta Dirut APN Mohammad Abdul Ghani di Jakarta, kemarin.
Pada kesempatan itu, Abdul Ghani didampingi Nofil Anoverta (Direktur Kepatuhan & Keberlanjutan), Sucipto Prayitno (Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko), Tuhu Bangun (Direktur Operasional), Gagah Guntur Aribowo (Direktur Konsultan Konstruksi), dan Bambang Agustian (Kadiv Sekretaris Perusahaan).
Abdul Ghani mengungkapkan APN juga melakukan transformasi bisnis secara total serta menata ulang struktur perusahaan dari hulu hingga hilir. Sesuai Inpres No 2/2026, lanjutnya, perusahaan mendapat mandat mengelola 4,1 juta lahan hasil penertiban dari Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH).
Ia mengatakan terdapat sejumlah target perusahaan dari lahan tersebut, antara lain pembangunan kebun sawit seluas 400.000 hektare, reaktivasi pabrik biodiesel berkapasitas 600.000 ton per tahun serta pengembangan perkebunan singkong 300.000 hektare.
Perusahaan juga berencana membangun dua pabrik bioetanol serta mengembangkan perkebunan jagung dan kedelai masing-masing seluas 250.000 hektare dan 400.000 hektare.
Untuk mempercepat transformasi, APN melakukan sejumlah langkah antara lain verifikasi aset melalui pemetaan udara, optimalisasi penjualan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) melalui mekanisme tender, digitalisasi kegiatan pertanian, serta penguatan tata kelola perusahaan.
Perusahaan juga menerapkan digital farming sejak Juli 2026 untuk mencatat produksi dan pengadaan barang secara elektronik.
Abdul Ghani menyatakan dengan berbagai langkah tersebut, produksi tandan buah segar (TBS) sawit per Agustus 2026 mencapai 2,08 juta ton atau meningkat 190 persen year on year (yoy). Produktivitas TBS mencapai 4,65 ton per hektare atau naik 124 persen yoy.
Dari sisi kinerja keuangan hingga Agustus 2026, pendapatan APN mencapai Rp3,55 triliun atau tumbuh 185 persen secara tahunan. Sementara itu, laba bersih mencapai Rp1,63 triliun atau meningkat 123 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. “Pendapatan perusahaan sampai akhir tahun bisa mencapai kisaran Rp5 triliun,” ungapnya.
Sementara itu, untuk pengembangan bioetanol terintegrasi, Agrinas Palma memilih singkong menjadi salah satu bahan baku yang paling potensial. “Singkong produktivitasnya relatif tinggi, memiliki tingkat kompetisi pangan yang lebih rendah dan cukup adaptif terhadap berbagai kondisi lahan,” ujar Abdul Ghani.
Pengembangan bioetanol terintegrasi ditargetkan menggunakan lahan hingga 1 juta hektare dengan potensi produksi 5 juta kiloliter per tahun. Program tersebut diproyeksikan menciptakan 1,1 juta lapangan kerja serta memberikan potensi penghematan devisa hingga Rp93 triliun bagi negara.
Untuk pengembangan komoditas ini, Agrinas Palma mendorong model kemitraan dengan petani dan koperasi. Perusahaan mengembangkan konsep single management untuk pengelolaan sawit rakyat. Termasuk skema bagi hasil, peremajaan sawit rakyat, dan penanaman baru agar kesejahteraan petani turut meningkat.
Selain itu perusahaan mengimplementasikan Integrated Procurement System (IPS) guna menjamin akuntabilitas dan kredibilitas.(LH)





Komentar Terbaru