INDRAMAYU – PT Patra Drilling Contractor (PDC), perusahaan yang bergerak di bidang jasa penunjang industri energi dan migas di Indonesia, terus mendorong kemandirian ekonomi pesantren melalui program Tempesantren. Program ini menjadi bagian dari komitmen PDC untuk mewujudkan pesantren yang mandiri, berdaya, dan memberdayakan masyarakat sekitar.
Salah satu penerima manfaat adalah Pondok Pesantren Tarbiyatul Ath’fal,
di wilayah Indramayu, Jawa Barat, yang mengelola usaha produksi tempe sejak 2004. Berawal dari bangunan sederhana dan peralatan manual dengan kapasitas produksi hanya 30-40 kilogram per hari, kini usaha tersebut berkembang pesat setelah mendapat dukungan dari PDC.
Bantuan yang digulirkan sejak Juli 2025 meliputi pembangunan rumah produksi, peralatan modern yang lebih higienis, hingga modal usaha dan bahan baku. Dampaknya langsung terasa.
“Dengan adanya bantuan ini sangat terbantu. Dulu maksimal 40 kilo, sekarang sehari bisa satu kwintal,” ujar pengelola pesantren KH. Amin Royani, saat ditemui awak media di Indramayu, Kamis(24/9/2026).

Peningkatan kapasitas ini tidak lepas dari serapan pasar yang tinggi. Saat ini produksi tempe pesantren telah mensuplai tiga SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Satu kali kirim ke satu SPPG itu Rp2 juta sampai Rp2,5 juta. Seminggu dua sampai tiga kali kirim. Alhamdulillah tempe habis terus,” katanya.
Selain menyuplai SPPG, produksi juga dikirim ke warung-warung sekitar dengan total mencapai 1 ton setiap 10 hari. Dari omzet tersebut, keuntungan bersih diperkirakan mencapai Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per hari.
Program ini juga membuka lapangan kerja. Sebanyak 4-5 orang yang terdiri dari santri dan ibu-ibu warga sekitar diberdayakan di rumah produksi. Mereka bekerja secara bergilir agar tetap bisa mengaji dan mengajar, dengan upah harian Rp25 ribu.
Pengembangan usaha tidak berhenti di tempe segar. Berkat pendampingan PDC, pesantren kini juga mulai merealisasikan produk turunan yakni keripik tempe yang memanfaatkan tempe yang sudah tua.
Direktur Utama PDC, Hery Lesmana, menjelaskan, program Tempesantren dipilih karena sejalan dengan lini bisnis perusahaan.
“Kami punya Food and Lodging Services (FLS), catering yang butuh bahan baku. Kami lihat pesantren ini punya tujuan mulia dan punya usaha tempe, tapi pengolahannya masih tradisional. Jadi secara visi dan bisnis kami merasa cocok, leverage-nya besar,” ujarnya saat mengunjungi Pondok Pesantren Tarbiyatul Ath’fal, Kamis.
PDC tidak hanya memberikan bantuan fisik. Pelatihan operasional alat, standarisasi ukuran dan rasa, hingga rencana pelatihan pemasaran digital juga diberikan agar ilmu melekat di pesantren.
“Target pendampingan kami tiga tahun sampai benar-benar sustain. Dari mulai pembangunan, pelatihan, sampai produksi kami kawal rutin. Sekarang produksinya sudah terserap habis, bahkan self-sustain bisa cari pasar sendiri,” tegasnya.
Ke depan, PDC berencana membantu penyerapan produk keripik tempe untuk kebutuhan rig dan operasional perusahaan, sekaligus mendorong pesantren untuk terus bermitra langsung dengan stakeholder daerah.
“Harapannya jangan diputus, terus dilanjut. Ini sudah kerja sama ketiga kalinya, mulai dari laptop di 2004, modal awal, dan sekarang yang lebih besar lagi,” tutup pengelola pesantren.(RA)





Komentar Terbaru