JAKARTA – Lanskap keberlanjutan Indonesia sedang bergeser dari agenda kepatuhan menuju strategi ketahanan ekonomi dan daya saing bisnis. Untuk memetakan pergeseran ini, Bank DBS Indonesia meluncurkan riset “The Sustainability Shift: Indonesia’s Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks” yang mengkaji bagaimana perubahan tersebut terjadi di lima sektor strategis, yakni Energi, Energi Terbarukan, dan Infrastruktur; Teknologi, Media, dan Telekomunikasi; Pangan dan Agribisnis; Kesehatan dan Farmasi; serta Logam dan Pertambangan.
Salah satu temuan utama riset ini menegaskan bahwa pendekatan keberlanjutan tidak dapat diterapkan
secara seragam di seluruh industri. Kelima sektor menghadapi tekanan untuk bergerak dari pendekatan compliance-driven menuju strategi bisnis inti, namun pemicu (driver), tantangan, dan bentuk solusi yang dibutuhkan berbeda signifikan satu sama lain, sehingga bentuk intervensi financing maupun advisory dari perbankan perlu disesuaikan per sektor.
Director of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Anthonius Sehonamin mengungkap bahwa di tengah perubahan lanskap bisnis yang semakin kompleks, perusahaan membutuhkan perspektif yang jelas untuk menentukan prioritas dan mengambil keputusan jangka panjang.
“Keberlanjutan kini semakin berkaitan erat dengan ketahanan usaha, daya saing, dan penciptaan nilai. Namun, pergeseran menuju bisnis yang lebih berkelanjutan tidak memiliki satu jalur yang sama di setiap sektor. Melalui riset ini, Bank DBS Indonesia berupaya memberikan insights yang lebih terarah mengenai perubahan yang terjadi di
berbagai sektor strategis, sekaligus peluang dan tantangan yang perlu diantisipasi dunia usaha,” ungkapnya, dalam acara diskusi di Jakarta, Kamis(20/8/2026).
DBS menyoroti lima sektor yang mengalami pergeseran. Sektor pertama yakni energi, energi terbarukan, dan infrastruktur. Pergeseran terjadi dari ketergantungan fosil menuju elektrifikasi. Kebutuhan listrik dari kendaraan listrik, hilirisasi mineral, AI, pusat data, dan elektrifikasi rumah tangga mendorong proyeksi konsumsi listrik naik dari sekitar 300 TWh (2024) menjadi lebih dari 1.800 TWh pada 2060.
Potensi energi terbarukan besar, hingga sekitar 3.687 GW, namun baru dimanfaatkan kurang dari 0,5% karena terhambat oleh keterbatasan transmisi dan bankability proyek. Peluangnya meluas ke solar, penyimpanan energi berbasis baterai (BESS), grid modernization, hingga elektrifikasi industri.
Sektor kedua, teknologi; media, dan telekomunikasi. Terjadi pergeseran dari konektivitas menuju layanan digital.
Pertumbuhan sektor telekomunikasi berbasis konektivitas melambat dari sekitar 9,69% (2015) menjadi 7,14% (Q1 2026), sementara nilai ekonomi digital terus naik, dengan estimasi total GMV mencapai sekitar US$99 miliar pada 2025 dengan 79% pengguna Indonesia yang sudah mengenal AI. Pergeseran nilai ini mendorong permintaan terhadap cloud, cybersecurity, dan pusat data, dengan green data center menjadi peluang investasi utama berikutnya.
Berikutnya, sektor ketiga pangan dan agribisnis yang mengalami pergeseran dari ekspansi produksi menuju produktivitas dan ketahanan pangan.
Indonesia memproduksi sekitar 60% pasokan sawit dunia, namun pertumbuhan berikutnya bergantung pada replanting, peningkatan hasil panen, dan sertifikasi RSPO/NDPE, dan bukan lagi perluasan lahan. Di sektor perunggasan, program MBG dan ekspansi breeding stock membuka permintaan baru di sepanjang rantai nilai. Peluang investasi meluas ke agritech, cold chain, traceability, hingga pupuk organik.
Selanjutnya, sektor keempat kesehatan dan farmasi terjadi pergeseran dari ketergantungan impor menuju resiliensi rantai pasok. Sekitar 90% bahan baku farmasi aktif (API) Indonesia masih diimpor, dengan sumber yang terkonsentrasi di China (42%) dan India (11%). Di sisi akses, meski BPJS Kesehatan sudah mencakup 98,6% populasi, hanya sekitar 2% obat inovatif global yang mencakup FORNAS, sementara rasio dokter spesialis masih rendah (0,16 per 1.000 penduduk, dibanding kisaran OECD 1,5–3,0).
Peluangnya ada pada lokalisasi API secara selektif, penguatan manufaktur, diversifikasi pemasok, serta skema pembiayaan tambahan seperti copayment/KAPJ.
Sektor kelima, logam dan pertambangan mengalami pergeseran dari ekspansi skala produksi menuju daya saing berkelanjutan.
Indonesia menguasai sekitar 60% produksi nikel dunia dan naik ke peringkat ke-13 produsen baja terbesar dunia pada 2025, namun sekitar 97% listrik untuk pemrosesan nikel masih berasal dari captive coal power. Peluang value creation berikutnya bergeser ke hilir, seperti komponen baterai, BESS, daur ulang, hingga produk logam rendah karbon; seiring semakin ketatnya standar global seperti EU CBAM dan Battery Regulation.
Transformasi Peran Perbankan dari Financing hingga Advisory
Temuan riset menunjukkan bahwa besarnya peluang keberlanjutan di suatu sektor tidak serta-merta membuat sebuah proyek mendapatkan pembiayaan. Kesiapan proyek, profil risiko, kepastian arus kas, serta kompleksitas struktur pembiayaan menjadi faktor penting yang menentukan apakah suatu peluang dapat direalisasikan. Dalam konteks tersebut, peran perbankan tidak berhenti pada penyediaan modal.
Perusahaan juga membutuhkan dukungan untuk meningkatkan kesiapan proyek, menentukan struktur pembiayaan yang sesuai, serta mengidentifikasi solusi yang dapat menjembatani kebutuhan keberlanjutan dengan kelayakan komersial.
Bank DBS Indonesia menyediakan spektrum solusi yang mencakup sustainability financing, sustainability-linked financing, structured dan blended finance, business lending, trade finance, serta solusi pembiayaan supply chain, disertai advisory untuk mendukung kebutuhan tersebut.
Pendekatan ini tercermin dalam sejumlah inisiatif Bank DBS Indonesia di berbagai sektor:
● Energi, Energi Terbarukan, dan Infrastruktur: Bank DBS Indonesia turut berperan dalam mendukung transisi energi melalui pembiayaan proyek energi terbarukan, termasuk panas bumi, yang berkontribusi terhadap penguatan bauran energi bersih dan ketahanan energi Indonesia.
Dukungan ini juga mencakup pembiayaan hijau untuk pengembangan ekosistem elektrifikasi, termasuk kendaraan listrik roda dua dan infrastruktur penukaran baterai.
● Teknologi, Media, dan Telekomunikasi: Bank DBS Indonesia terus memimpin di bidang pembiayaan berkelanjutan melalui dukungannya pada proyek pusat data hijau terbesar untuk Princeton Digital Group (PDG), DayOne, dan Digital Edge dengan solusi ramah lingkungan yang berskala sangat besar. Bank DBS Indonesia menjadi Joint Mandated Lead Arranger dan Green
Loan Coordinator untuk fasilitas green loan senilai Rp1,7 triliun bagi Princeton Digital Group, mendukung pembangunan pusat data hyperscale berbasis energi terbarukan pertama di Indonesia yang meraih sertifikasi BCA–IMDA Green Mark Platinum.
● Pangan dan Agribisnis: Di sektor pangan dan agribisnis, Bank DBS Indonesia mendukung rantai pasok kopi berkelanjutan melalui fasilitas pembiayaan pra-ekspor senilai US$20 juta kepada Sucden Coffee Indonesia, serta Adena Coffee melalui skema blended finance pertama Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation yang telah menjangkau lebih dari 2.000 petani kecil.
● Logam dan Pertambangan: Bank DBS Indonesia turut mendukung transaksi sustainability-linked loan senilai Rp13,5 triliun kepada Vale Indonesia melalui perannya sebagai facility agent, dengan fasilitas yang dikaitkan pada target penurunan intensitas emisi karbon dan peningkatan penggunaan energi terbarukan.
● Kesehatan: DBS Foundation mendukung DoctorTool, startup healthtech yang mengembangkan rekam medis digital terintegrasi dengan BPJS dan SATUSEHAT, sebagai bagian dari upaya memperluas akses layanan kesehatan primer di wilayah underserved. Tercatat sebagai salah satu langkah awal dalam merespons kebutuhan inovasi akses kesehatan.
Bank DBS Indonesia juga memiliki pengalaman relevan dalam mendampingi transisi rendah karbon lintas sektor, seperti kolaborasi dengan PT TBS Energi Utama Tbk dalam merumuskan Climate Transition Plan menuju netralitas karbon pada 2030, termasuk realokasi modal ke pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan mobilitas listrik, sebagai salah satu contoh bagaimana pendekatan advisory dan financing DBS dapat mendukung transformasi portofolio korporasi secara menyeluruh.
Perspektif ahli menyikapi peluang besar dengan berbagai tantangan Industri melihat peluang besar dari pergeseran keberlanjutan ini, namun kesiapan infrastruktur, kepastian regulasi, dan penguatan keberlanjutan tetap menjadi penentu arah pertumbuhan berikutnya.
Sejumlah ahli turut menyoroti dinamika di sektornya masing-masing. Di sektor Teknologi, Media, dan Telekomunikasi, pertumbuhan AI mendorong pusat data menjadi mesin pertumbuhan baru.
“Momentum pertumbuhan AI membuat pusat data menjadi growth engine baru bagi ekosistem digital Indonesia. Namun, ketersediaan energi terbarukan dan kepastian kebijakan ke depan akan sama pentingnya dengan besarnya potensi pasar dalam menentukan keputusan investasi,” kata Chairman Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), Hendra Suryakusuma.
Selain itu, pada sektor Logam dan Pertambangan, posisi kuat Indonesia di hulu nikel dinilai perlu diimbangi dengan peningkatan kinerja karbon, penguatan ketertelusuran, dan praktik pertambangan yang bertanggung jawab untuk mempertahankan daya saing global.
“Seiring meningkatnya perhatian pasar
terhadap carbon performance, produk nikel dengan intensitas karbon yang lebih rendah berpotensi memiliki diferensiasi nilai di pasar global. Pemanfaatan energi terbarukan, penguatan ketertelusuran, dan praktik pertambangan yang bertanggung jawab akan semakin penting dalam mempertahankan daya saing dan akses Indonesia ke pasar global serta rantai pasok baterai,” kata Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia Tbk, Budiawansyah.
Sementara, untuk sektor Pangan dan Agribisnis, tekanan standar keberlanjutan global maupun domestik juga mendorong pergeseran model pertumbuhan industri menuju peningkatan produktivitas.
“Tantangan keberlanjutan kelapa sawit ke depan bukan lagi soal ekspansi lahan, melainkan bagaimana produktivitas ditingkatkan secara bertanggung jawab. Produsen kini bergerak ke arah penanaman kembali, intensifikasi, dan penguatan ketertelusuran digital untuk memenuhi standar seperti RSPO dan EUDR, sekaligus mempertahankan akses ke pasar global,” kata Kompartemen Hubungan Stakeholders Bidang Sustainability Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Agam Fatchurrochman.
Riset ini mengerucutkan temuan dari kelima sektor menjadi lima prioritas strategis yang dapat diambil pelaku usaha untuk menangkap peluang sustainability shift: bergerak ke segmen rantai nilai yang lebih tinggi, berinvestasi pada infrastruktur pendukung pertumbuhan, mengintegrasikan sustainability ke dalam keputusan komersial, memperluas pembiayaan ketahanan (resilience financing), serta membangun ekosistem yang terintegrasi lintas sektor.
Bank DBS Indonesia menggabungkan insight sektoral, advisory strategis, solusi pembiayaan, serta konektivitas regional di Asia untuk membantu nasabah menavigasi sustainability shift ini secara lebih terarah. Whitepaper ini menjadi bagian komitmen tersebut, untuk memberikan peta jalan bagi dunia usaha dalam memasuki fase berikutnya dari transformasi ekonomi Indonesia.
“Bagi kami, temuan riset ini menegaskan bahwa strategi yang akan memenangkan persaingan ke depan adalah yang mampu memadukan penciptaan nilai, ketahanan, dan keberlanjutan sekaligus, bukan memilih salah satu di antaranya,” kata Head of Research PT Bank DBS Indonesia William Simadiputra.(RA)



Komentar Terbaru