MAGELANG — Pemanfaatan gas bumi PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melalui anak usahanya, PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas), semakin berkembang ke berbagai sektor produktif di Jawa Tengah bagian selatan. Salah satunya terlihat dari pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cepit Kulon, Desa Banyuwangi, Kecamatan Bandongan, Magelang, Jawa Tengah.
SPPG Cepit Kulon yang dikelola Yayasan Cahaya Arsa Madani menjadi salah satu pelanggan PGN Gagas dalam pengembangan bisnis CNG point to point. Konsumsi CNG SPPG yang mencapai sekitar 800–1.000 meter kubik per bulan digunakan untuk mendukung kegiatan operasional SPPG, terutama aktivitas pengolahan dan penyediaan makanan dalam jumlah besar.
Achmad Chairul Jaza, Kepala SPPG Cepit Kulon, mengatakan kebutuhan energi SPPG memiliki karakteristik yang relatif rutin karena kegiatan operasional berlangsung secara berkelanjutan.
“Konsumsi CNG menyesuaikan dengan aktivitas operasional SPPG dan volume produksi makanan yang harus disiapkan,” ujar Achmad Chairul saat ditemui di SPPG Cepit Kulon, Magelang, Rabu (19/8).
Pemanfaatan CNG menjadi salah satu bagian dari upaya pengelola SPPG memastikan kebutuhan energi operasional terpenuhi secara berkelanjutan.
Achmad mengatakan konsumsi CNG dapat mengalami penyesuaian mengikuti aktivitas operasional dan volume produksi SPPG. SPPG Cepit Kulon telah menggunakan CNG sejak pertama kali beroperasi pada 25 September 2025.
“Ketika kegiatan produksi meningkat, kebutuhan energinya juga dapat meningkat. Karena itu, yang penting bagi kami adalah memastikan layanan energi dapat mendukung kegiatan SPPG secara konsisten,” katanya.
PGN Gagas hingga kini terus memperluas penggunaan CNG untuk mendukung operasional SPPG dalam program MBG. Saat ini, terdapat sekitar 46 pelanggan CNG dari SPPG yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta Batam.
Santiaji Gunawan, Direktur Utama Gagas Energi Indonesia, mengatakan upaya memperkenalkan penggunaan CNG kepada SPPG telah dilakukan melalui sosialisasi secara daring kepada SPPG di seluruh Indonesia sekitar tiga bulan lalu.
“Kami sosialisasi bagaimana penggunaan CNG untuk SPPG. Sudah pernah kami lakukan secara online kepada seluruh SPPG yang ada di Indonesia,” katanya.
Hanya saja, pengembangan CNG untuk kebutuhan SPPG masih terkendala oleh infrastruktur, terutama SPBG atau mother station untuk pengisian CNG yang masih belum merata. “Kendalanya itu, tidak semua lokasi ada SPBG. Tapi kami terus mendorong supaya CNG bisa digunakan di lebih banyak wilayah,” kata Santiaji.
Masuknya SPPG sebagai pelanggan PGN Gagas memperlihatkan semakin beragamnya sektor yang dapat memanfaatkan gas bumi. Selama ini, penggunaan gas bumi banyak dikenal pada sektor industri, perhotelan, restoran dan rumah tangga. Namun, kebutuhan energi untuk fasilitas pelayanan masyarakat seperti SPPG juga menjadi pasar yang potensial.
SPPG memiliki kebutuhan energi yang cukup intensif untuk kegiatan memasak dan pengolahan makanan. Karena itu, kontinuitas dan efisiensi pasokan energi menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran operasional.
Melalui skema CNG point to point, gas bumi dapat dikirim menggunakan Gas Transportation Module (GTM) dari sumber pasokan menuju lokasi pelanggan. Model ini memungkinkan PGN Gagas menjangkau pelanggan yang belum terhubung langsung dengan jaringan pipa gas bumi.(AT)



Komentar Terbaru