JAKARTA – Pengalihan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) North Duri Cogeneration (NCD) dari PLN MCTN ke Pertamina Hulu Rokan (PHR) dikabarkan berlangsung alot. Berdasarkan informasi yang diperoleh Dunia Energi, PHR diharuskan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengambil alih pengelolaan NDC dari anak usaha PLN.

Di sisi lain, masih berdasarkan informasi tersebut manajemen PHR menilai biaya terlalu tinggi menambah beban perusahaan apalagi kondisi NDC juga sudah tidak lagi muda dan prima. Sekarang saja masih ada perbaikan satu turbin. Kerusakan terjadi sejak awal tahun 2026 menyebabkan produksi minyak blok Rokan tidak optimal sepanjang tahun ini.

Berdasarkan informasi lainya yang diperoleh Dunia Energi, saat ini pemerintah dalam hal ini Direktorat Jendral Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencoba menengahi negosiasi. Disebutkan bahwa penilaian aset-aset NDC nantinya akan dilakukan oleh pihak netral. Sehingga bisa mencapai kesepakatan. Apalagi pengalihan pengelolaan ini juga merupakan amanat dari Danantara guna meningkatkan efisiensi PHR sehingga diharapkan bisa mendukung peningkatan produksi minyak.

Saat ini PHR membeli listrik dan uap dari PLN MCTN. Jika sudah diakuisisi atau beralih pengelolaannya maka PHR tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk listrik maupun membeli steam.

Sebelumnya Laode Sulaeman, Dirjen Migas Kementerian ESDM mengungkapkan peralihan kepemilikan aset pembangkit ini bukan hal yang harus dikhawatirkan karena nantinya akan juga dikelola oleh BUMN. Apalagi saat ini kedua BUMN terbesar itu berada dibawah pengawasan Danantara. Sehingga tidak akan menganggu kinerja pembangkit.

“Ini kan sama-sama BUMN kan dari PLN ke Pertamina enggak ada masalah. Sekarang kan sama-sama di bawah Danantara jadi enggak ada masalah. Aman lah,” ungkap Laode beberapa waktu lalu di Jakarta.

NDC memiliki tiga Gas Turbine Generator (GTG), masing-masing berkapasitas 100 MW. Selain menghasilkan listrik, fasilitas cogeneration tersebut juga menghasilkan steam yang digunakan untuk mendukung kegiatan produksi minyak, terutama operasi steam flood di Lapangan Duri.

Dengan karakteristik tersebut, NDC bukan sekadar fasilitas kelistrikan, tetapi merupakan bagian integral dari rantai produksi minyak blok Rokan.

Pengelolaan langsung NDC oleh PHR memberikan konsekuensi strategis. PHR kini tidak hanya menjadi pengguna listrik dan steam, tetapi juga memiliki kendali lebih besar terhadap salah satu sumber energi utama yang menopang kegiatan produksinya.

Hal ini menjadi penting mengingat usia NDC sudah lebih dari dua dekade. Tiga unit GTG yang masing-masing berkapasitas 100 MW tersebut membutuhkan pemeliharaan dan program perpanjangan umur agar tetap mampu menopang kebutuhan operasi Rokan. (RI)