JAKARTA – Fenomena El Nino berpotensi menekan produksi listrik Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) milik PT PLN Nusantara Power (PLN NP). Penurunan debit air dan penyusutan volume waduk dapat membuat daya keluaran PLTA berkurang signifikan.
Hamidi Hamid, Sekretaris Perusahaan PLN Nusantara Power mengatakan, PLTA menjadi salah satu jenis pembangkit yang paling terdampak oleh fenomena El Nino karena sangat bergantung pada ketersediaan air. “Sebenarnya PLTA terutama. Ini kan karena masalah air, ketersediaan air. Nanti beberapa tempat memang surut,” ujar Hamidi saat ditemui di Electricity Connect 2026, Rabu (23/9).
Menurut dia, kondisi tersebut juga menjadi perhatian PLN NP karena perusahaan mengoperasikan sejumlah PLTA di Jawa dan Sulawesi. Salah satu pembangkit besar yang menjadi perhatian adalah PLTA Cirata. PLN NP juga mengelola PLTA Bakaru di Sulawesi Selatan yang berkapasitas 217 MW. “PLTA-PLTA kami banyak di Jawa, ada Cirata yang besar. Sejauh ini masih oke. Kemudian yang di Sulawesi,” katanya.
Hamidi mengungkapkan, penurunan daya PLTA akibat keterbatasan debit air dapat mencapai hampir 40%. Namun, besaran penurunan sangat bergantung pada kondisi masing-masing waduk. Untuk mengantisipasi dampak tersebut, PLN NP melakukan sejumlah langkah mitigasi, termasuk menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca untuk membantu menjaga ketersediaan air di waduk.
“Nah, ini kami juga lakukan teknologi modifikasi cuaca yang bisa setidaknya membantu mengisi kembali waduk-waduk yang ada di Cirata terdampak,” kata Hamidi.
Selain menjaga ketersediaan air, PLN NP menyiapkan strategi diversifikasi pembangkit apabila produksi PLTA mengalami penurunan. Hamidi mengatakan, pembangkit berbasis fosil akan dioptimalkan untuk menjaga keandalan pasokan listrik. Pembangkit yang dimaksimalkan antara lain PLTU, gas turbine, gas engine, hingga gas diesel.
“Ya, kita pertama sekali mengoptimalkan pembangkit-pembangkit fosil terutama PLTU, gas turbine, kemudian gas engine, kemudian gas diesel,” jelasnya.
Di wilayah Sulawesi, PLN NP juga akan mengoptimalkan pembangkit berbasis energi angin atau tenaga bayu sebagai salah satu sumber listrik alternatif. Untuk di Sulawesi bagian selatan ada dua Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) yang sudah masuk dalam jaringan PLN yaitu PLTB Sidrap berkapasitas 75 MW serta PLTB Tolo (Jeneponto) berkapasitas 72 MW.
“Kemudian kita utamakan terkait dengan kalau di Sulawesi ada wind power, ya. Tenaga bayu, ya. Nah, itu kita utamakan, kita optimalkan,” pungkas Hamidi.





Komentar Terbaru