JAKARTA — Setelah lama tertekan akibat kelebihan pasokan, harga nikel mulai bergerak naik. Namun kali ini penguatan bukan karena permintaan naik, melainkan karena gangguan pasokan sulfur dari Timur Tengah yang memicu kenaikan biaya produksi.
Pengamat Ekonomi Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen pasar nikel berubah seiring memanasnya situasi geopolitik di Selat Hormuz. Padahal sekitar 75 persen kebutuhan sulfur Indonesia untuk industri pengolahan nikel masih bergantung pada pasokan dari kawasan tersebut.
“Kalau sulfur dari Timur Tengah terhambat, industri harus cari dari negara lain. Otomatis biaya transportasi dan logistik lebih mahal. Nah inilah yang membuat harga nikel kembali mengalami kenaikan,” ujar Ibrahim, Jumat (17/7/2026).
Ibrahim menjelaskan, dalam beberapa waktu terakhir harga nikel memang jatuh karena oversupply. Permintaan dari sektor mobil listrik dan baterai kini lebih banyak menggunakan litium, sehingga stok nikel menumpuk.
Namun kondisi geopolitik membalikkan arah. Gangguan distribusi sulfur membuat pabrik pengolahan nikel menghadapi biaya produksi lebih tinggi.
“Kemarin nikel sudah kembali mengalami kenaikan dan kemungkinan besar di minggu-minggu depan pun juga masih akan terus mengalami kenaikan,” katanya.
Nikel merupakan komoditas strategis sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik. Kenaikan biaya akibat logistik sulfur yang lebih mahal dikhawatirkan akan menekan margin industri sekaligus memengaruhi harga jual ekspor.
Ibrahim memperkirakan, selama ketegangan di Timur Tengah belum mereda, harga nikel akan tetap berada dalam tren penguatan. Bahkan ia memproyeksikan harga bisa menyentuh Rp18.000 per kg jika situasi makin memanas dan 75% pasokan sulfur dari Timur Tengah benar-benar terhenti.
Sebelumnya, kebijakan pemerintah juga sempat membuat harga nikel terkoreksi. Namun dengan adanya gangguan rantai pasok saat ini, faktor eksternal dinilai akan menjadi penentu utama pergerakan harga nikel dalam beberapa pekan ke depan.
“Kenaikan ini sebenarnya sedang ditunggu oleh pasar,” kata Ibrahim.(RA)

Komentar Terbaru