JAKARTA – Keberadaan setiap satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di setiap daerah diestimasi akan memiliki dampak externalities sekitar Rp14 triliun. Hal ini yang mendasari, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara secara cermat memilih pemenang lelang PLTSa di beberapa kota agar proyek ini benar-benar bermanfaat bagi masyarakat dan pemerintah baik secara langsung maupun tidak langsung.

BPI Danantara, Jumat, 6 Maret 2026, sudah menetapkan dua perusahaan asal China, Wangneng Environment Co., Ltd. (Bekasi) dan Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. (Denpasar), sebagai pemenang lelang proyek PLTSa tahap pertama pada Maret 2026, pada Jumat, 6 Maret 2026. Kedua perusahaan ini akan bermitra dengan perusahaan lokal.

Perusahaan pemenang lelang akan menyelesaikan proyek ini dalam waktu 24 bulan. Bahkan ada yang berkomitmen untuk mulai operasi komersial (Commercial Operation Date/COD) kurang dari 24 bulan.

Nantinya, Danantara akan memiliki badan usaha berupa Perseroan Terbatas yang akan mengengam 30% saham anak perusahaan hasıl joint venture dengan pemenang lelang. Dengan kepemilikan saham itu, maka badan usaha yang dibentuk Danantara bisa menempatkan direksi atau komisaris.

Direktur Investasi Danantara Investment Management (DIM) Fadli Rahman, mengungkapkan dengan proyek PLTSa maka management sampah di setiap kota bisa teratasi. Bahkan manfaat ekonomi yang bisa dihitung secara non moneter juga cukup besar dan berdampak pada pemerintah pusat, daerah maupun masyarakat. “Harapannya setiap 1 unit PLTSa dampak externalitiesnya (dampak non moneter) bisa Rp 14 triliun,” ujar Fadli di kantor Danantara, Jumat.

Fadli mengatakan, dengan pengelolaan sampah terpadu dan terintegrasi dengan listrik setidaknya ada beberapa hal yang terselamatkan, seperti penyakit akibat pencemaran sampah bisa dihindari, dana kesehatan bisa dihemat, infrastruktur pembuangan sampah menjadi sehat dan bersih karena dibangun fasilitas publik, dan konflik sosial menjadi minim.

Tidak hanya itu, tempat pembuangan sampah (TPA) nantinya juga bisa saja tidak ada lagi lantaran sampah bisa langsung diproses.

“Tentu saja ini butuh dukungan semua pihak. Ini adalah sebuah gerakan akan sadar bahwa sampah sudah menjadi masalah kehidupan kita,” ungkap Fadli.

China, kata dia. pada 20 tahun lalu juga mengalami hal serupa dengan Indonesia yang mengalami krisis sampah. Namun seiring dengan adanya proyek PLTSa dengan teknologi termutakhir, China bisa mengatasi masalah sampah. Saat ini, kurang lebih ada 1.000 titik PLTSa di China. Bahkan, China sampai kekurangan sampah untuk diproduksi di PLTSa.

“Bedanya sama kita (Indonesia), kita semakin tumbuh ekonomi 5% maka produksi sampah rumah tangga dan pabrik akan naik sekitar 1%-2%. Maka PLTSa kami pikir akan mendapat pasokan sampah yang memadai di setiap daerah,” kata dia.

Fadli menjelaskan pihaknya akan melakukan evaluasi ketat terhadap para operator PLTSa agar memenuhi teknologi, konstruksi, dan desain. Demikian pula mitra lokal yang akan digandeng oleh pemenang Lelang tersebut. “Saya kira mitra lokalnya juga punya pengalaman untuk masalah sampah,” ungkap Fadli.

Produksi sampah setiap hari bisa mencapai 1.000 sampai 1.200 ton untuk menghasilkan listrik sekitar 24 Megawatt. Fadli menargetkan bahwa pada akhir 2027 atau akhir 2028 kedua proyek yang sudah dibangun pada Juni atau Juli 2026 ini bisa beroperasi. “Saat ini PLN juga sangat mendukung proyek ini,” tukas dia.

Adapun kontrak dari perjanjian penjualan listrik kepada PLN bisa mencapai 30 tahun dengan harga listrik dari setiap unit PLTSa sebesar US$ 20 sen per kWh.(AT)