Dunia Energi Logo Sabtu, 18 November 2017

Harga Batubara Anjlok Bukan Akibat Permintaan Turun

Sejumlah analisis menyebutkan, permintaan pasar dunia akan batubara termal, masih terus tumbuh dengan baik untuk semua jenis kalori. Anjloknya harga batubara pada penghujung Kuartal kedua 2012, diyakini bukan akibat dari rendahnya permintaan. Melainkan akibat berlebihannya pasokan terutama di dua negara importir utama, China dan India.

Corporate Secretary PT Adaro Energy Tbk, Devindra Ratzarwin mengungkapkan, hingga saat ini pihaknya yakin, prospek bisnis batubara ke depan tetap sangat menjanjikan. Melemahnya harga batubara yang terjadi akhir-akhir ini, menurutnya bukan diakibatkan oleh kurangnya permintaan. Melainkan karena kelebihan pasokan.

“Walaupun kami mengalami volatilitas dalam industri ini, kami yakin bahwa landasan jangka panjang bagi industri batubara tetap tidak terpengaruh,” ujar Devindra di Jakarta, Kamis, 2 Agustus 2012. Ia menunjukkan sejumlah analisis, yang menyebutkan impor batubara termal yang ditransportasikan melalui laut di Asia, tumbuh untuk semua peringkat batubara.

Fakta lainnya, konsumsi batubara sub-bituminous dan lignite (keduanya merupakan batubara kalori rendah) terus meningkat di hampir semua negara, terutama China dan India. Indonesia memang cukup banyak memasok batubara ke kedua negara itu. Diantaranya karena lokasi Indonesia yang dekat dengan kedua negara itu, sehingga harga yang mereka terima dari Indonesia sangat kompetitif.

Devindra juga mengaku optimis, dengan ditunjang oleh pertumbuhan ekonomi Asia, permintaan akan batubara termal kalori rendah akan terus meningkat signifikan ke depan. Mengutip analisis BP Statistical Review of World Energy edisi Juni 2012, cadangan terbukti batubara dunia pada 2011, cukup untuk memenuhi produksi global selama 112 tahun. Batubara pun masih menjadi bahan bakar fosil yang paling dicari, lebih tinggi dibandingkan minyak.

Meski demikian, karena harga batubara yang sedang turun saat ini, Devindra mengakui Adaro telah menurunkan target produksinya pada 2012. Yakni dari 50 – 53 juta ton per tahun, menjadi 48 – 51 juta ton per tahun. “Kami akan terus berfokus pada kesempurnaan operasional, menurunkan biaya, memuaskan para konsumen, dan menjalankan strategi yang telah dikembangkan,” ujarnya.

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)