JAKARTA – Pengembangan Virtual Power Plant (VPP) dinilai menjadi krusial di tengah ancaman krisis energi global dan potensi gangguan infrastruktur kelistrikan. Adapun VPP merupakan sistem yang mengintegrasikan berbagai sumber energi terdistribusi secara digital untuk meningkatkan efisiensi dan keandalan listrik.
“Dalam konflik global, yang pertama diserang adalah infrastruktur energi. Kalau sampai jaringan terganggu, dampaknya bisa seperti blackout,” ujar Wakil Rektor IV ITPLN, Ahsin Sidqi, saat membuka Focus Group Discussion (FGD) yang bertajuk Peran Pusat Riset ITPLN dalam Penyusunan Strategi dan Implementasi Virtual Power Plant di Indonesia, Rabu (15/4).
Ia menyinggung pengalaman Indonesia saat menghadapi blackout pada Agustus 2019 serta pandemi COVID-19. Saat itu, operasional pembangkit tetap berjalan meski banyak operator terdampak. Menurutnya, penerapan sistem digital dan kendali jarak jauh menjadi pelajaran penting untuk menjaga keandalan listrik nasional.
“Ke depan, masyarakat dan industri tidak bisa lagi bernegosiasi dengan pemadaman listrik,” katanya.
Dari sisi implementasi, Engineer PLN Icon Plus, Edo Rizaldi, mengungkapkan bahwa teknologi VPP telah diuji coba di tiga lokasi di Bali, yakni Kantor PLN UID Bali, Rumah Dinas Gubernur Bali, dan Trans Studio Mall Bali.
Menurut Edo, ada sejumlah tantangan teknis dalam pengembangan VPP, mulai dari pengelompokan sistem distribusi (grouping dispatch), akurasi data performa, hingga prediksi energi berbasis cuaca.
“Energi surya sangat bergantung pada kondisi awan. Ke depan, integrasi kecerdasan buatan diperlukan untuk meningkatkan akurasi forecasting,” ungkapnya.
Selain itu, optimalisasi demand response dan sinkronisasi data pelanggan juga menjadi fokus pengembangan. PLN Icon Plus, kata dia, berkomitmen mendorong transformasi dari sistem kelistrikan konvensional menuju smart grid.
Sejumlah pusat riset di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi PLN (ITPLN) mulai menyusun strategi pengembangan virtual power plant di Indonesia. Kegiatan tersebut melibatkan sedikitnya 11 pusat riset, di antaranya PDTI2E, AEPS2 Center, GINEST, hingga Energy and Battery Research Center (EBRC). Sekitar 60 peneliti turut ambil bagian dalam forum tersebut.
Kepala LPPM ITPLN, M Sofyan mengatakan FGD ini merupakan langkah awal konsolidasi riset VPP secara kolektif.
“Kami membagi peserta ke dalam tiga kelompok diskusi untuk merumuskan rekomendasi strategis. Harapannya, hasilnya bisa berdampak luas bagi masyarakat,” kata Sofyan.
Ia menambahkan, forum ini juga akan berlanjut ke seminar nasional serta kegiatan riset lanjutan yang lebih aplikatif.
FGD ini menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi, seperti Dr Zainal Arifin, Edo Rizaldi, serta Dr Eng. Marwan Rosyadi, dengan Dr Abdul Haris sebagai moderator.
Melalui forum ini, ITPLN berharap dapat merumuskan strategi konkret guna mempercepat transisi energi melalui implementasi virtual power plant sekaligus mengantisipasi potensi krisis kelistrikan di masa depan.(RA)


Komentar Terbaru