JAKARTA – Produksi minyak dari sumur masyarakat di Kabupaten Aceh Timur, Aceh, dilaporkan mencapai sekitar 2.800 barel minyak per hari (BOPD). Produksi tersebut berasal dari sumur-sumur masyarakat yang mampu mengalirkan minyak secara alami tanpa bantuan pompa.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena tingginya produksi minyak membuat pemerintah daerah bersama masyarakat setempat mengalami kesulitan dalam menampung hasil produksi. Bahkan, diperlukan penanganan segera untuk memastikan kegiatan tersebut tidak menimbulkan risiko keselamatan bagi masyarakat.
Djoko Siswanto Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mengatakan, Gubernur Aceh telah menyampaikan surat resmi terkait kondisi produksi minyak dari sumur masyarakat tersebut.
“Gubernur Aceh telah menyampaikan surat resmi produksi minyak dari sumur Masyarakat di Aceh Timur sebesar 2800 BOPD,” kata Djoko dalam keterangannya kepada Dunia Energi, Sabtu (5/9).
Menurut Djoko, kondisi sumur masyarakat di Aceh Timur cukup unik karena minyak dapat keluar atau menyembur secara alami tanpa harus dipompa. Produksi yang terus mengalir tersebut kemudian menimbulkan persoalan dalam hal penampungan.
“Kondisi sumur masyarakat di Aceh Timur, nyembur sendiri tanpa di pompa, Gubernur & Masyarakat kewalahan menampungnya,” ujarnya.
Djoko menilai kondisi tersebut membutuhkan respons cepat dari pihak-pihak terkait. Selain menyangkut potensi produksi minyak yang cukup besar, aspek keselamatan masyarakat menjadi hal yang harus menjadi perhatian utama.
“Harus segera dibantu gerak cepat demi keselamatan warga yg menampung minyak,” tegas Djoko.
Produksi dari sumur masyarakat tersebut sekaligus menunjukkan adanya potensi sumber daya minyak yang dapat memberikan kontribusi terhadap produksi nasional apabila dapat dikelola secara aman, tertib, dan sesuai ketentuan yang berlaku.
Namun, penanganan di lapangan perlu dilakukan secara terkoordinasi agar aliran minyak dari sumur-sumur tersebut dapat ditangani dengan baik, termasuk dari sisi keselamatan, penampungan, pengangkutan, serta tata kelola produksinya.





Komentar Terbaru