JAKARTA – Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Swiss merampungkan rangkaian serah terima hibah peralatan Laboratorium Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) kepada tujuh institusi pendidikan dan pelatihan vokasi melalui Proyek Renewable Energy Skills Development (RESD).
Proyek yang merupakan bentuk kerja sama antara Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Energi dan Sumber Daya Mineral (BPSDM ESDM) dengan Swiss State Secretariat for Economic Affairs SECO, serta melibatkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dan Kementerian Ketenagakerjaan ini, kini menjangkau 10 politeknik dan 8 BPVP di seluruh Indonesia pada Fase II yang berjalan sejak Oktober 2025 hingga akhir 2028.
Rangkaian serah terima peralatan laboratorium PLTS dimulai pada 13 Juli 2026 di Politeknik Manufaktur Bandung (POLMAN Bandung), dan berakhir pada 27 Juli 2026 di Politeknik Energi dan Pertambangan (PEP) Bandung. Selain kedua institusi tersebut, hibah laboratorium PLTS juga diserahkan kepada Politeknik Negeri Sriwijaya, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Politeknik Negeri Samarinda, BPVP Samarinda, dan BPVP Surakarta. Di kelima politeknik tersebut, serah terima ini turut menjadi momentum peluncuran Program Diploma 4 Spesialisasi 1 Tahun Energi Terbarukan.
Di setiap lokasi, penyerahan ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) oleh Direktur Politeknik atau Kepala BPVP setempat bersama Team Leader RESD. Prosesi penutup di PEP Bandung turut dihadiri oleh Kepala BPSDM ESDM, yang diwakili oleh Sekretaris BPSDM ESDM Yose Rizal, menandai berakhirnya rangkaian penyerahan hibah barang pada fase berjalan ini.
Martoni Ariadirja, Deputy Head SECO di Indonesia yang juga turut hadir di penyerahan peralatan Laboratorium PLTS di PEP Bandung menyampaikan bahwa bagi Pemerintah Swiss, ini bukan sekadar acara serah terima peralatan, melainkan bukti keberlanjutan kerja sama yang telah berlangsung antara Pemerintah Swiss dan Pemerintah Indonesia melalui BPSDM ESDM sejak tahun 2020. “Laboratorium ini dirancang agar sesuai dengan kebutuhan industri, sejalan dengan prinsip yang diyakini Swiss. Kami berharap laboratorium menjadi modal yang krusial agar para mahasiswa nantinya dapat memenuhi kebutuhan besar SDM Indonesia di bidang energi terbarukan,” ujarnya.
Sementara itu, Dian Elvira Rosa, Team Leader RESD menjelaskan hibah peralatan laboratorium PLTS ini merupakan realisasi dukungan Swiss dalam mendorong transisi energi melalui pengembangan SDM. Setelah bekerja sama dengan lima politeknik dan empat BPVP pada fase pertama, jangkauan RESD diperluas ke lima politeknik dan dua BPVP tambahan. “Peralatan PLTS hibah dari Pemerintah Swiss dirancang untuk memastikan para mahasiswa dan peserta pelatihan siap diterjunkan ke lapangan, kompeten, serta berdaya saing tinggi sesuai kebutuhan industri energi terbarukan di daerah masing-masing,” jelasnya.
Total hibah peralatan laboratorium untuk 7 lembaga vokasi senilai Rp9.8 milyar terdiri dari peralatan solar PV portabel, panel surya rooftop, ground mount, dan pole mount, perangkat keselamatan kerja, beserta prasarana pendukung lainnya. Laboratorium di empat politeknik di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisaintek) turut dilengkapi dengan sistem penyimpanan energi baterai (battery energy storage system) yang didanai oleh Kemendiktisaintek.
Selain pengadaan peralatan, dukungan RESD pada fase kedua mencakup pengembangan kurikulum energi terbarukan berfokus pada PLTS dan baterai, pelatihan teknis dan pedagogis bagi dosen dan instruktur oleh tenaga ahli Swiss dan praktisi industri lokal, dukungan kuliah tamu industri, penyelenggaraan tracer study, dan review kurikulum secara berkala di seluruh institusi mitra.(RA)

Komentar Terbaru